sang fenomenal

 

Judul Buku : Pengakuan-Pengakuan Syaikh Siti Jenar

Penulis : Argawi Kandito

Penerbit : Pustaka Pesantren

Tahun Terbit : 2011

Tebal : 200 halaman

Mendengar nama Syaikh Siti Jenar pikiran kita langsung tertuju kepada sesosok manusia,wali, yang mempunyai kepribadian “aneh” dan kontroversial.

Bahkan namanya sendiri adalah sebuah nama yang penuh misteri dan serba gelap. Oleh karena itu pandangan orang-orang jawa mengenai tokoh Syaikh Siti Jenar bercampu antara mitos dan kisah nyata.

Keanehan dan kekontroversialannya ini tidak lepas dari ajaran keagamaan yang disampaikan ke masyarakat yang tergolong menyimpang dari pakem yang ada pada waktu itu.

Manunggaling kawula-gusti, adalah ajaran yang selalu disematkan pada Sang Syaikh. Sampai sekarang ini ajaran ini selalu dipandang sebagai ajaran bahwa makhluk bisa bersatu dengan Tuhan. Dengan kata lain tiada dua antara Tuhan dan manusia.

Tidak ayal jika dahulu ada sebuah film tentang Syaikh Siti Jenar yang menceritakan bagaimana lika-liku perjalanan Sang Syaikh hingga menemui ajalnya.

Bermula saat Sang Syekh tidak mau menghadap Raja demak dan menghadiri sidang wali. Atas putusan raja dan dewan wali diutuslah beberapa orang yang meminta Sang Syaikh datang, saat para utusan uluk salam dan menanyakan keberadaan Sang Syaikh, dijawab oleh Sang Syaikh bahwa beliau tidak ada yang ada adalah Allah.

kemudian para utusan kembali berkata bahwa mereka ingin bertemu Allah, maka jawab Sang Syaikh bahwa Allah tidak ada, yang ada adalah Sang Syaikh. Akibatnya Sang Syaikh harus menerima hukuman pancung oleh dewan wali dan raja demak, dan yang menyedihkan jenasah Sang Syaikh yang berubah jadi anjing.

Inilah cerita keeksistensian Sang Syaikh yang selama ini kita terima dan setujui begitu saja. Bahkan tidak hanya kalangan masyarakat awam saja yang menerima cerita itu, melainkan dari kalangan akedemis pun seolah manut, bahkan membumbui lebih ngeri lagi.

Pertanyaan kita, apakah benar Sang Syaikh menyebut dirinya sebagai Allah? Apa maksud dari ajaran manunggaling kawula-gusti? Benarkah dia mati dipancung oleh dewan wali dan mayatnya berubah jadi anjing? Siapakah sebenarnya Sang Syaikh itu, benarkah dia wujud dari cacing merah yang terkena sabda sang wali sehingga berubah menjadi manusia? Apakah ilmu yang diperolehnya hanya dari nguping tatkala wali ngudar kaweruh pada muridnya?
Ajaran manunggaling kawula-gusti yang dituturkan Sang Syaikh, sebagaimana yang tertulis dalam buku ini, hakikatnya bukanlah seperti yang dipahami masyarakat pada waktu itu dan sekarang ini. Beliau mengakui memang pernah mengatakan “Ingsun Sejating Gusti Allah”.

Kata-katanya inilah yang kemudian disalah pahami oleh masyarakat. Khalayak ramai menuduh Beliau telah mengaku Tuhan.

Syaikh Siti Jenar menginsafi bahwa anggapan masyarakat terhadapnya sepenuhnya salah. Meskipun demikian, ia mengakui bahwa masyarakat tidak sepenuhnya benar dalam memahami konsep manunggaling kawula gusti-nya. Menurut beliau, sejatinya konsep manunggaling kawula gusti—sedikit banyak—serupa dengan konsep insan kamil (manusia purna) yang digagas Ibnu Arabi.

Kemiripannya terletak pada kemenyatuan manusia dengan Tuhan.
Meski memiliki kemiripan dengan konsep insan kamil tetapi sebetulnya ada perbedaan konsep dengan ajaran manunggaling kawula-gusti.

Menurut Sang Syaikh, pada dasarnya Tuhan telah memberikan anugerah yang sama kepada setiap manusia.
Setiap manusia adalah “bagian” dari Tuhan. Ibarat air di samudera luas, manusia adalah molekul air yang ada di dalamnya. Molekul-molekul air ini merupakan bagian dari air samudera tersebut. artinya, manusia telah teranugerahi sebagai cermin Tuhan.

Dalam berdakwah, syaikh siti jenar memang enggan memunculkan istilah-istilah baru ataupun istilah bahasa asing. Ia lebih suka menggunakan bahasa rakyat agar mudah dipahami. Lagi pula, menurutnya, tidak adakata yang cocok untuk menjelaskan proses tajalli (manefestasi Tuhan) seperti gagasan Ibnu Arabi tadi. Oleh karena itu, ia pun menggunakan istilah yang popular saat itu, yaitu manunggaling kawula gusti.

Menurutnya, manunggaling kawula gusti bukan angan kosong yang tidak bisa dicapai. Ia menegaskan bahwa siapa pun bisa mencapainya, asalkan memiliki kesungguhan tekad dan konsistensi.
Kata kunci untuk menggapai manunggaling kawula gusti adalah kesadaran. Kesadaran bahwa manusia adalah bagian dari Tuhan, yang harus senantiasa memancarkan sifat-sifat Tuhan.

Yang paling mendasar adalah kesadaran hati.Sebab, hati merupakan merupakan jembatan untuk menghubungkan manusia dengan Tuhannya.
Sebagaimana disebutkan dalam hadist, man ‘arofa nafsahu faqod ‘arofa rabbahu (barang siapa yang kenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya).

Syaikh Siti Jenar menjelaskan dasar ucapannya “ingsun sejating Gusti Allah” intinya adalah manusia merupakan bagian dari Tuhan. Selain itu, ia juga menegaskan bahwa kata ingsun dalam kalimat itu tidak harus diartikan sebagai “aku (manusia)”, tetapi bisa juga diartikan sebagai ing sun (artinya: “di dalam hati”).

Pengakuan-pengakuan yang lain,sebagai bentuk klarifikasi terhadap cerita yang berkembang saat ini, dapat ditemukan dalam buku ini. Semisal, beliau mengakui bahwa bukan berasal dari cacing tanah yang kemudian mengalami tranformasi ke wujud manusia akibat sabda seorang wali. Beliau benar-benar manusia seperti kebanyakan yang lain, punya ayah-ibu, memiliki istri dan anak. Pengakuan yang lain, dan menurut saya baru, adalah beliau meninggal dunia bukan karena dihukum pancung oleh dewan wali dan pihak kerajaan.

Meninggalnya beliau akibat penusukan yang dilakukan oleh aliran keras pimpinan Syaikh Ja’far dari Yaman.
Aliran ini sejak dahulu ada di wilayah Demak dan sekitarnya, agenda dakwahnya adalah pemurnian Islam (puritanisme). Mereka akan menyerang siapa pun yang mereka anggap telah menodai kemurnian ajaran Islam (tentu menurut klaim dan penilain mereka sendiri), termasuk para Wali Sanga dan Syaikh Siti Jenar. Tatkala Syaikh Siti Jenar mengajari ilmu di Langgar-nya para gerombolan aliran keras ini menyerang dan menusuk dari belakang. Jadi kematian beliau bukan akibat adanya friksi dengan pihak dewan wali melainkan serangan dari aliran keras.
Jadi, sebenarnya tidak ada friksiantara para wali dengan Syaikh Siti Jenar sebagaimana anggapanyang masyhur selama ini. Kalaupun terdapat perbedaan di antara kedua belah pihak itu hanya pada tataran konsep penyampaian ajaran saja. Para wali menghendaki penyampaian ajaran dilakukan secara bertahap sedangkan Syaikh Siti Jenar menganggap bahwa semuamempunyai hak yang sama. Harus diakui, para wali sedikit kuatir akan adanya kekeliruan pemahaman para santri dalam memaknai ajaran beliau. Oleh karena itu, para wali sering hadir dalam pengajian yang dilakukan Syaikh Siti Jenar.

Iklan