Kevin James LaBrie lahir di Penetanguishene, Ontario, Kanada, tanggal 5 Mei 1963. Ia lebih dikenal dengan nama James LaBrie (JLB) adalah seorang penyanyi / vokalis dari band progresif Amerika bernama Dream Theater sekaligus menjadi satu – satunya orang “asing” dalam band karena JLB adalah satu – satunya personil Dream Theater yang berkebangsaan Kanada. Selain menyanyi, JLB juga mampu bermain drum.

Bakat menyanyi JLB sudah terlihat saat ia masih kecil. Pada usia 3 tahun, JLB sudah mampu menyanyikan melodi lagu apapun sambil berjalan mengelilingi rumah meskipun kata – kata yang diucapkan masih salah. Terinspirasi oleh ayahnya, JLB mulai bermain drum dan menyanyi pada usia 5 tahun. Menginjak usia 6 tahun, JLB sangat bertujuan untuk meniru berbagai gaya vokal dan teknik – tekniknya. Sehingga suaranya sudah terdengar sangat matang untuk anak seusianya. Saat berada di sekolah dasar, JLB diikutkan dalam kelas menyanyi agar dapat berlatih lebih jauh. Ketika menginjak usia remaja, JLB sangat menyukai musik rock. Ia sempat beberapa kali menjadi drummer atau vokalis dari beberapa band. Namun, ia berpendapat bahwa menyanyi adalah keinginan utamanya. JLB pindah ke Toronto, Kanada, saat berusia 18 tahun.

JLB mulai mengikuti latihan vokal saat berusia 21 tahun dengan dilatih oleh seseorang bernama Rosemary Patricia Burns. Setelah menjadi vokalis dari beberapa band Kanada, JLB akhirnya menjadi vokalis band glam metal bernama Winter Rose. Winter Rose merilis album pertama dengan judul Self-Titled (1987). Kemudian seseorang bernama Pierre Paradis, seorang manajer band bernama Voi Vod, mendekati JLB dan mengajaknya untuk membuat album solo dengan label dari Aquarius Records. Dia juga memberitahu JLB bahwa ada sebuah band dari New York, Dream Theater, sedang mencari seorang vokalis. Kemudian JLB mengirimkan demo kaset Winter Rose pada Dream Theater. Dan seperti yang diketahui, setelah melalui proses audisi ketat dan menyingkirkan lebih dari 200 peserta, JLB akhirnya resmi menjadi vokalis Dream Theater, menggantikan vokalis sebelumnya, Charlie Dominici.

Pada saat awal bergabung dengan Dream Theater, JLB memilih menggunaan nama tengahnya, James, daripada nama depannya, Kevin. Hal ini dikarenakan di band tersebut sudah ada 1 nama Kevin (Kevin Moore). Dia tidak ingin ada 2 Kevin seperti 2 John yang sudah ada sebelumnya (John Petrucci dan John Myung). Album pertama Dream Theater bersama JLB atau album kedua bagi Dream Theater bertajuk Images and Words (1992) sangat sukses melambungkan nama Dream Theater dan nama James LaBrie sendiri. Dengan suaranya yang khas dan range vocal JLB yang tinggi sangat terlihat di lagu hits Another Day dan Take the Time sehingga mampu menyedot perhatian para fans Dream Theater. 2 tahun kemudian, Awake (1994) dirilis dan semakin menunjukkan eksistensi JLB sebagai “The Voice of Dream Theater” hingga saat ini.

Sayangnya, pada bulan Desember 1994, saat sedang berlibur di Kuba, JLB mengalami keracunan makanan. Hal ini membuat pita suara JLB rusak. Kemudian ia menemui 3 dokter spesialis. Semua dokter menganjurkan tidak ada cara lain untuk sembuh selain mengistirahatkan suaranya sebisa mungkin. Namun dia tidak dapat meninggalkan karirnya begitu saja. Dengan mengabaikan perintah dokter, pada bulan Januari 1995, JLB kembali ke atas panggung dalam Awake in Tour di Jepang. Memang kondisi suaranya sangat jauh dari normal (album Images and Words). Hingga akhir tahun 1997, JLB merasa suaranya sangat tidak normal. Tapi yang lebih parah pada tahun 2000, tur album Scenes from a Memory malah hampir menghancurkan suaranya secara keseluruhan. Saat itu ia merasa itu adalah saat – saat paling berat dalam hidupnya hingga ia ingin meninggalkan Dream Theater. Namun, para personil Dream Theater yang lain mendukungnya untuk tetap bertahan. Setelah tur album Six Degrees of Inner Turbulence, JLB merasa suaranya telah kembali dan disembuhkan oleh latihan dan waktu. Hal ini sangat terlihat saat live performance JLB di DVD Score : 20th World Tour Anniversary yang terdengar lebih clean. Efek dari rusaknya pita suara JLB adalah ia tidak dapat menyanyikan lagu – lagu yang mempunyai range nada tinggi, seperti Another Day, Surrounded, dan Take the Time. JLB harus menyanyikannya dengan nada yang berbeda dari original verse atau menghilangkan beberapa bagian lagu seperti pada lagu Take the Time di DVD Chaos in Motion 2007 / 2008.

Meskipun mempunyai peran besar dalam memberikan melodi vokal di setiap album Dream Theater, namun JLB memberikan sedikit peran dalam sisi musikal Dream Theater. Tercatat JLB hanya menulis lirik untuk paling sedikit 1 lagu di tiap album Dream Theater hingga saat ini. Kecuali di album Images and Words, JLB tidak menulis lirik untuk 1 lagu. Namun ada 1 lagu dimana seluruh personil termasuk JLB menyumbangan lirik untuk lagu tersebut yaitu, Take the Time. Namun, dari sedikit lirik yang ditulis JLB, sebagian besar memiliki makna yang cukup dalam. Dalam lagu Anna Lee dalam album Falling Into Infinity, isinya menggambarkan seorang anak yang menjadi korban kekerasan dalam keuarganya. Sementara lagu Blind Faith (album Six Degrees of Inner Turbulence) menceritakan tentang seseorang yang sudah tidak percaya kepada agamanya. Masih dalam album yang sama, JLB juga membuat lirik tentang masalah percintaan dalam lagu Disappear. Lirik tersingkat untuk sebuah lagu yang pernah dibuat JLB adalah 3 bait yaitu pada lagu Vacant dalam album Train of Thought. Dalam album Octavarium, JLB menceritakan keadaan dirinya saat pita suaranya rusak dalam part ke 2 dari 5 parts epic song, Octavarium, yaitu Medicate (Awakening). Kejadian 9 / 11 juga menjadi lahan lirik JLB. Hal tersebut tertuang dalam lirik lagu Sacrificed Sons, juga masih dalam album Octavarium. Untuk album terbaru Dream Theater, Systematic Chaos, JLB ikut urun dalam lagu Prophets of War yang menyinggung tentang invasi tentara AS ke Irak.

Selama bersama Dream Theater, JLB telah “meminjamkan” suaranya di beberapa penampilan. Tak lama setelah bergabung dengan Dream Theater, tahun 1991, JLB tampil sebagai background vocal dalam lagu Life in Still Water di album Fates Warning, Parallels. JLB juga hadir dalam beberapa album sebagai guest seperti pada Explorer’s Club (Age of Impact – 1998), Shadow Gallery (Tyranny – 1998), Trent Gardner (Leonardo: The Absolute Man – 2001), Explorer’s Club (Raising the Mammoth – 2002),Frameshift (Unweaving the Rainbow – 2003), Tom Donahue (Madmen & Sinners – 2004), Ayreon (The Human Equation – 2004), Henning Pauly (Babysteps – 2006), John Macaluso & Union Radio (The Radio Waves Goodbye – 2007) dan True Symphonic Rockestra (Concerto in True Minor – 2008). Beberapa tribute album juga pernah mencatatkan nama James LaBrie di dalamnya seperti Working Man (Rush Tribute – 1996), Dragon Attack (A Tribute to Queen – 1997), dan Encores, Legends & Paradox (A Tribute to the Music of ELP – 1999). JLB-pun telah membuat 3 album solo dengan nama yang berbeda – beda yaitu Mullmuzzler (Keep It Yourself – 1999), James LaBrie’s Mullmuzzler (Mullmuzzler 2 – 2001) dan James LaBrie (Elements of Persuasion – 2005). Uniknya JLB tidak pernah boleh menamai album pertamanya dengan nama Mullmuzzler. Akhirnya nama itu digunakan sebagai nama bandnya dan album pertamanya diberi judul Keep It Yourself. Baru pada album kedua nama itu digunakan sebagai nama album. Kebanyakan lirik lagu pada album Mullmuzzler ditulis melalui telepon. Musik yang ditawarkan pada album – album solo JLB tidak jauh dari musik progresif ala Dream Theater terutama album Elements of Persuasion yang sangat bernuansa progresif metal. Untuk album solonya yang keempat, kini sedang dipersiapkan.

Sisi musikal JLB dipengaruhi oleh band – band seperti Metallica, Aerosmith, Van Halen, Journey dan Judas Priest. Begitu juga dengan komposer – komposer seperti Beethoven, Vivaldi dan Mozart yang menjadi favoritnya. Sedangkan vokalis – vokalis yang menjadi influence-nya antara lain Steve Perry, Freddie Mercury, Sting, Paul Rodgers dan Nat King Cole.

JLB juga tidak lepas dari kritik. Sebagian besar kritikan yang ditujukan padanya adalah tentang suaranya yang tidak bisa seperti dulu lagi. Banyak yang menyangsikan hal tersebut karena akibatnya Dream Theater kini jarang membawakan lagu – lagu jaman “dahulu”. Ditambah usia yang semakin menua, membuat suara JLB agak sedikit lebih berat. Untuk recording mungkin kualitas suara JLB masih bisa terjaga, namun untuk live performance, terutama tur Chaos in Motion 2007 – 2008, suara JLB kembali mengalami penurunan. Suaranya justru terdengar lebih “cempreng” dan terlalu banyak vibrasi di nada – nada tinggi. Apapun kekurangannya, toh JLB masih menjadi satu dari beberapa vokalis yang paling digemari dalam musik progresif. Sebagai “The Voice of Dream Theater” dan tampil sebagai guest dalam beberapa side projects, JLB telah banyak membantu mendefinisikan musik progresif untuk masa yang akan datang. Range vokal yang luar biasa (awalnya) dan suara yang khas serta penampilannya di atas panggung membuat JLB mendapat penghargaan dan tempat tersendiri dari para fans.

Iklan