Waktu kecil dahulu saya pernah membaca buku milik kakak saya berjudul “Mari Mendaki Gunung di Pulau Jawa”. Entahlah dimana buku itu sekarang, yang jelas buku itu sangat menginspirasi saya untuk mencoba naik gunung ketika besar nanti. Saat kecil, tak pernah terpikir akan memiliki hobi traveling apalagi naik gunung seperti sekarang ini, tapi syukurlah satu-persatu nama Gunung di buku itu bisa saya daki, salah satunya Gunung Ijen yang akan saya ceritakan di postingan kali ini.

Kepulan asap belerang di Kawah Ijen

Berada di jalur gunung berapi Pasifik (Ring of Fire), Indonesia memiliki hampir 150 gunung berapi aktif dan sebanyak 45 buah berada di Pulau Jawa. Gunung berapi aktif di Indonesia masing-masing memiliki karakter dan keunikan tersendiri, salah satu yang terkenal karena keunikannya adalah Gunung Ijen. Gunung berapi aktif ini memiliki danau kawah luas di puncaknya yang disebut juga Kawah Ijen. Kawah ini terkenal oleh wisatawan dunia berkat fenomena Blue Fire atau api biru yang hanya terjadi di dua tempat di dunia yaitu di Islandia dan di Ijen. Hal inilah yang membuat saya penasaran ingin mengunjungi Kawah Ijen.

Terletak di perbatasan antara Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Kawah Ijen memiliki ketinggian 2.443 mdpl  dengan kedalaman danau 200 meter dan luasnya mencapai 5.466 hektar. Danau kawah Ijen dikenal merupakan danau air sangat asam terbesar di dunia. Panasnya air danau tersebut mencapai 200 derajat celcius dan tingkat derajat keasamannya yang mendekati titik nol bisa melarutkan besi hingga tubuh manusia dalam sekejap.

Dari Kawah Ijen, kita dapat melihat pemandangan gunung lain yang ada di kompleks Pegunungan Ijen, di antaranya adalah puncak Gunung Merapi yang berada di timur Kawah Ijen, Gunung Raung, Gunung Suket, Gunung Rante, dan sebagainya. Jika cuca cerah kita juga dapat melihat selat Bali dari kejauhan.

Pemandangan pegunungan dari Kawah Ijen

Menyaksikan Fenomena Blue Fire

Fenomena Blue Fire seringkali menjadi alasan utama kenapa orang berkunjung ke Kawah Ijen. Blue Fire berpijar dari bawah celah-celah batuan yang berasal dari cairan belerang yang mengalir tanpa henti. Cairan belerang yang kering tertiup angin ini kemudian menjadi batu lalu dicacah para penambang. Fenomena ini hanya bisa disaksikan saat malam hari sampai sebelum matahari terbit. Saya bersama teman-teman di trip Banyuwangi kali ini, Mba Riri, Mba Kiki, Sabil dan guide kami mas Helmi, memulai pendakian dari Pos Paltuding pukul 02:00 WIB agar bisa menyaksikan fenomena langka ini. Kami harus trek menuju puncak sejauh 3 km dengan sebagian besar kemiringan jalurnya 25-35 derajat, terbilang cukup landai dan bersahabat bagi pemula.

Blue Fire Kawah Ijen (sumber foto: asianencounter.net)

Setelah mendaki sekitar 2 jam kami sampai di puncak kawah Ijen, dari kejauhan terlihat Blue Fire di beberapa titik bagian dalam kawah. Sayangnya kamera saya tidak canggih, jadi tidak bisa dapat foto-foto Blue Fire yang bagus, setidaknya rasa penasaran saya terjawab sudah. Sambil menunggu sunrise, kami duduk dibalik celah bebatuan berlindung dari terpaan angin gunung yang super dingin. Apa boleh buat, tampaknya hari itu sang surya tertutu oleh sang awan, malah di beberapa waktu saya merasakan sendiri awan cumulonimbus menghempas tubuh saya, untungnya tidak sampai turun hujan. Selepas terjangan sang awan cumulonimbus lewat, langit pun kembali cerah dan dingin mulai berkurang.

Sungguh suatu pengalaman tak terlupakan, bisa menyaksikan pemandangan Kawah Ijen yang dikelilingi kaldera nan megah dan tampak juga kepulan asap putih belerang bergerak tertiup angin. Pemandangan Kawah Ijen begitu menakjubkan ketika disinari matahari pagi dengan memancarkan kemilau hijau toska. Pendakian dari Pos Paltuding ditutup selepas pukul 14.00 WIB karena pekatnya asap dan kemungkinan mengarah ke jalur pendakian. Sebaiknya pendakian dilakukan pagi hari sebelum belerang naik, Jika mendaki di atas pukul 10.00 WIB maka kecil kemungkinan bisa melihat kawah secara utuh karena tertutup asap belerang yang tebal.

Jalur trekking di punggung kaldera Kawah Ijen

Upppsss, dimana rombongan saya ? Karena keasyikan foto-foto saya kehilangan jejak teman-teman saya dan tidak sinyal pula. Setelah mencari-cari ke berbagai tempat akhirnya saya memutuskan turun sendiri ke Pos Paltuding, karena teringat guide kami bilang akan turun kembali ke parkiran jam 7:00 pada sang driver. Dan benar saja ternyata teman-teman saya sudah sampai duluan di parkiran, ternyata mereka juga mencari saya namun karena tak ketemu, mereka putuskan turun duluan karena yakin saya bisa menemukan jalan pulang sendiri. Hehehehe *maafkan saya si bolang a.k.a bocah ilang.

Penambang belerang yang mencari sampingan dengan menawarkan jasa ojeg gerobak kepada wisatawan

Ijen dan Penambang Belerang

Di perjalanan turun saya banyak memperhatikan aktivitas para penambang belerang di pagi itu. Para penambang belerang tradisional yang menggunakan peralatan seadanya menerjang bau gas belerang dipinggiran kawah yang sewaktu-waktu dapat mengeluarkan gas beracun. Paparan gas belerang dalam jangka panjang, ancaman terjatuh di  kawah dan gas beracun yang bisa muncul sewaktu-waktu, menjadikan pekerjaan ini salah satu pekerjaaan paling berbahaya di dunia. Tak ayal jika aktifitas kerja para penambang di Kawah Ijen menjadi daya tarik sendiri bagi pengunjung terutama dari wisatawan mancanegara.

Aktivitas para penambang belerang

Tak hanya bahaya menerjang gas belarang yang beracun, para penambang harus mencacah bebatuan belerang di pinggiran tersebut kemudian bongkahan ditempatkan pada dua keranjang kayu yang bertanya bisa mencapai 100 kg dan dipikul menuruni gunung sejauh 3 KM. Bersyukurlah kita yang masih bisa mendapatkan rezeki tanpa perlu memikul beban seberat itu.

Bongkahan belerang hasil tambang

Setiap perjalanan memang selalu memberikan pelajaran hidup baru, baik yang terlihat jelas maupun yang tersirat. Teruslah berjalan untuk belajar, aplikasikan ilmu hidup yang kita dapat dalam kehidupan kita, syukur-syukur bisa dibagikan dengan orang lain. Sekian cerita perjalanan saya ke Kawah Ijen kali ini.

Mari jelajahi negerimu, kenali negerimu dan cintai negerimu dengan traveling!!!!

Tips Berwisata ke Kawah Ijen

  • Gunakanlah sepatu yang nyaman untuk trekking ke Kawah Ijen, bawalah bekal makanan kecil dan air minum serta gunakanlah jaket dan pakaian tebal karena suhu sangat dingin.
  • Jangan lupa membawa senter/headlamp serta masker penutup hidung untuk menghadapai bau asap belerang yang menyengat, basahi dengan air jika bau belerang sangat pekat
  • Jalur turun menuju pinggiran kawah sangat berbahaya, jangan memaksakan turun ke pinggiran kawah tanpa masker khusus danguide, berhati-hatilah saat turun ke karena keselamatan menjadi tanggung jawab kamu sendiri.
  • Waktu terbaik bila ingin mengunjungi Kawah Ijen ini adalah pada musim kemarau, karena saat musim hujan jalur pendakian yang dilalui akan licin dan sering terjadi longsor serta sering tertutup kabut yang cukup tebal.
  • Pendakian dari pos Paltuding dibuka pukul 02:00 WIB, tiket masuk seharga RP. 7500,- per orang untuk wisatawan lokal dan Rp. 150.000,- untuk wisatawan asing.
  • Terdapat guest house Paltuding milik Departemen Kehutanan yang dapat disewa untuk umum mulai dari harga Rp100.000,- hingga Rp300.000,- per malamnya. Tersedia juga camping ground di pos Paltuding dengan fasilitas yang cukup baik, ini menjadi pilihan tepat jika kamu ingin menghemat biaya perjalanan. Alternatif lainnya, kamu bisa mencari penginapan/Hotel yang banyak terdapat di kota Banyuwangi.
  • Sangat sulit ditemukan sinyal telepon di di kawasan Kawah Ijen, jadi jika kamu pergi bersama rombongan, usahakanlan agar tidak terpisah.

Bagaiman Cara Menuju Kawah Ijen

Kota besar paling dekat dengan Kawah Ijen adalah Banyuwangi. Dari Jakarta atau kota besar lainnya, kamu bisa menggunakan Pesawat (Multi Airline, Jakarta-Banyuwangi via Surabaya) atau Kereta Api menuju Surabaya kemudian melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi dengan menggunakan  Kereta Api kembali (KA Mutiara Timur) atau bus menuju Banyuwangi. *info tentang kereta ke Banyuwangi bisa dilihat di post saya tentang Baluran.Tidak ada angkutan umum dari kota Banyuwangi yang langsung menuju Kawah Ijen, hanya ada angkot menuju daerah Licin, dari situ kamu mesti menumpang truk pengangkut belerang yang menuju Kawah Ijen dengan membayar Rp. 5.000,- dan biasanya berangkat sekitar pukul 07:00 WIB. Alternatif lainnya kamu bisa menyewa kendaraan motor yang banyak terdapat di kota Banyuwangi, tarif sewa motor perhari ± Rp. 70.000,- dan sewa mobil ± Rp. 250.000,- hingga Rp. 450.00,- perhari.

*harga per Maret 2016

Refensi blog lupa hihiii

Iklan