Mendaki gunung kini bukan hanya sekedar hobi saja, namun telah menjadi sebuah trend di kalangan anak muda. Wajar ketika teman-teman juga sangat penasaran dan ingin mengalami sendiri pengalaman mendaki gunung, at least once in a lifetime. Betul bukan?

Namun sebelum memutuskan mendaki gunung, teman-teman membutuhkan persiapan yang matang terutama fisik dan mental yang prima, bahkan untuk gunung dengan tingkat medan yang mudah sekalipun. Maka, disarankan untuk melakukan pendakian yang bertahap agar tubuh dan mental teman-teman terbiasa dengan kondisi pendakian. Dapat dimulai dari gunung yang puncaknya tidak terlalu tinggi serta cenderung mudah dilewati sebelum menjajaki gunung-gunung tinggi yang bertebaran di seluruh pelosok Indonesia.

Untuk mendapatkan pengalaman pendakian pertama, teman-teman bisa memulainya dari Gunung Andong. Gunung yang bertipe perisai ini terletak di timur Kabupaten Magelang atau lebih tepatnya diperbatasan antara Kecamatan Ngablak dengan Kecamatan Grabag. Hanya dengan ketinggian 1.726 mdpl saja, gunung ini merupakan salah satu gunung yang sangat ramah bagi pendaki pemula. Tapi meskipun medannya dianggap ramah, akan lebih baik jika mengajak teman yang lebih berpengalaman dalam mendaki gunung. Selain untuk mempererat silaturahmi, hal ini akan memudahkan teman-teman saat mempersiapkan perlengkapan pendakian serta beradaptasi dengan kondisi lapangan yang tidak terduga.

Jalur utama untuk mendaki gunung ini adalah melalui Desa Sawit, basecamp di desa ini pun tidak sulit ditemukan, dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan bermotor yang dapat pula dititipkan disana bersama dengan kendaraan para pendaki lainnya. Sebelum mendaki, teman-teman bisa santai terlebih dahulu, untuk sekedar meluruskan punggung atau mengumpulkan tenaga yang hilang oleh perjalanan. Setelah siap melakukan pendakian, teman-teman akan diminta mendaftarkan nama dan membayar retribusi sebesar Rp. 5000/orang. Pendakian santai untuk mencapaicamping ground Gunung Andong pada umumnya berlangsung sekitar 3 jam saja, bahkan bagi pendaki yang sudah terbiasa mungkin dapat mencapainya dengan hanya 1 hingga 2 jam saja. Pendakian biasanya dilakukan ketika tengah malam menuju dini hari tiba.

Sesampainya di camping ground Puncak Jiwo, bisa jadi teman-teman akan kesulitan mencari “lahan kosong” untuk mendirikan tenda, terutama pada akhir pekan. Hal ini karena Gunung Andong memang cukup populer dikalangan para pendaki pemula, terutama bagi yang berada di wilayah Jogja dan Jawa Tengah. Teman-teman harus berhati-hati ketika berburu lokasi untuk mendirikan tenda, terutama pada malam hari karena kondisi lapangan yang sangat gelap dan penerangan hanya mengandalkan senter atau headlamp saja. Udara dingin dan lelah juga mulai terasa ketika sampai dicamping ground, silahkan teman-teman beristirahat sejenak menghilangkan rasa lelah. Ketika terbangun esok pagi, teman-teman sangat beruntung apabila dapat menikmati terbitnya matahari tanpa terhalang oleh kabut yang sangat tebal. Namun jangan khawatir meskipun tertutup kabut pagi, teman-teman tetap dapat menikmati suasana Puncak Jiwo dengan secangkir kopi atau cokelat panas sembari bercanda gurau dan mengusir kantuk, lalu tanpa terasa, kabut pun perlahan mulai menghilang.

Selain Puncak Andong, terdapat puncak lain di Gunung Andong, yaitu Puncak Makam di bagian barat dan Puncak Alap-alap di sebelah timur. Namun biasanya pendaki hanya menuju Puncak Alap-alap karena cukup dekat dengan Puncak Andong. Untuk menuju kesana, teman-teman harus melalui Jembatan Setan yang cukup membuat nyali menjadi ciut seketika. Jembatan Setan inilah yang akan menjadi tantangan bagi teman-teman pemula. Dengan lebar hanya sekitar 1 meter diantara jurang curam, “jembatan” ini membuat jantung berdebar keras dan rasa takut akan terperosok ke dalam jurang terus membayangi. Tetapi ketika teman-teman berhasil mengendalikan ketakutan dan melewatinya, sesuatu yang menakjubkan akan dapat dinikmati.

Langit biru, udara segar, pekikan burung elang dan pemandangan desa dari kejauhan akan membayar lunas semua ketakutan yang tadi terasa. Perwujudan Merbabu yang megah serta beberapa gunung lain seperti Sindoro, Sumbing, Slamet, dan Lawu juga nampak seperti lukisan mahakarya seorang maestro. Kemudian damai dan rasa bersyukur atas karya agung Sang Pencipta merambat ke sanubari, dan akan tetap tertinggal meskipun akhirnya kembali pulang. Rindu akan suasana puncak gunung itulah nanti yang mungkin akan membawa teman-teman kembali mendaki. Kali itu dengan persiapan yang lebih matang tentunya.

Jadi tunggu apa lagi? Ayo awali pendakianmu kemari, tapi tinggalkan kenangan saja ya, bukan sampahnya.

.: Artikel dan foto karya Aruma Sistha ini sebelumnya telah diterbitkan dalam media online blog.reservasi.com pada 10 Maret 2016:.

Iklan