🎐Zahir/Jasad kita ialah dr 4 anasir yaitu : Tanah, Air, Api dan Angin.

Maka ke 4 anasir itu asalnya dari yg 1 juga yaitu : 
asal Tanah adalah Air, 

asal Air adalah Angin, 

asal Angin adalah Api, 

asal Api itu adalah dari NUR MUHAMMAD
Dan NUR MUHAMMAD itu adalah NUR ALLAH.
Hakikat DIRI sebenarnya adalah wujud kesempurnaan tajjali NUR MUHAMMAD nama dari segala yg maujud pada alam ini, baik pada alam nyata maupun alam gaib.. semuanya nama majazi kesempurnaan tajjali NUR MUHAMMAD.
Dgn NUR MUHAMMAD inilah Allah melahirkan secara nyata sifat keTuhanan di dlm DIRI setiap yg bernyawa
“Sesungguhnya telah datang kepada kamu Nur dari Allah, dan Kitab yang nyata” (Qur’an 5:15). 

Diri Zahir/ Jazad itu :
~Berasal dr TANAH ~> menjadi DAGING pada kita.
~Berasal dr AIR ~> menjadi TULANG pada kita.
~Berasal dr Angin ~> menjadi URAT pada kita.
~Berasal dr Api ~> menjadi DARAH pada kita.

Firman Allah dalam surat Luqman ayat 20 :
وَأَسْبَغَ عَليْكُمْ نِعَمَهُ ظَهِرَةً وَبَاطِنَةً
Artinya : Dan Allah telah menyempurnakan bagimu nikmat zahir dan nikmat batin.
Jadi berdasarkan ayat di atas, DIRI kita sesungguhnya terbagi 2
1.      Diri Zahir/Jasad yaitu Diri yang dapat dilihat oleh mata dan dapat diraba oleh tangan.
2.      Diri Batin yaitu Diri yang tidak dapat dipandang oleh mata dan tidak dapat diraba oleh tangan, tetapi dapat dirasakan oleh mata hati (Bashirah). 
Dalil mengenai terbaginya Diri manusia ada dalam firman Allah dalam surat az-Zariat ayat 21:
وَفِى اَنْفُسِكُمْ اَفَلاَ تُبْصِرُوْنَ
Artinya : Dan di dalam diri kamu apakah kamu tidak memperhatikannya.
Karena sedemikian pentingnya peran diri yang batin ini di dalam upaya untuk memperoleh pengenalan kepada Allah, itulah sebabnya kenapa kita disuruh melihat ke dalam diri (introspeksi diri)
Allah memerintahkan kepada manusia untuk memperhatikan ke dalam dirinya disebabkan karena di dalam diri manusia itu Allah telah menciptakan sebuah mahligai yang di dalamnya telah Allah  tanamkan rahasia-NYA sebagaimana sabda Nabi di dalam Hadits Qudsi :
بَنَيْتُ فِى جَوْفِ اِبْنِ آدَمَ قَصْرًا وَفِى الْقَصْرِ صَدْرً وَفِى الصَّدْرِ قَلْبًا وَفِى الْقَلْبِ فُؤَادً وَفِى الْفُؤَادِ شَغْافًا وَفِى الشَّغَافِ لَبًّا وَفِى لَبِّ سِرًّا وَفِى السِّرِّ أَنَا (الحديث القدسى)
Artinya: “Aku jadikan dalam rongga anak Adam itu mahligai dan dalam mahligai itu ada dada dan dalam dada itu ada hati (Qalbu) namanya dan dalam hati (Qalbu) ada mata hati (Fuad) dan dalam mata hati (Fuad) itu ada penutup mata hati (Saghaf) dan dibalik penutup mata hati (Saghaf) itu ada Nur/Cahaya (Labban), dan di dalam Nur/Cahaya (Labban) ada rahasia (Sirr) dan di dalam rahasia (Sirr) itulah AKU kata Allah”. (Hadits Qudsi)

Berikut ini penjabaran/makna dari tulisan/huruf ALLAH yang sering kita lihat dalam kaligrafi
ALIF ..~> Api,

LAM AWAL ..~> Angin,

LAM AKHIR ..~> Air,

HA ..~> TANAH/BUMI
1. API itu terbit dari Diri yang Batin, yang berhuruf ALIF, bernama DZAT yang menjadi rahasia hurufnya kita,
2. ANGIN itu terbit dari Diri yang Batin, yang berhuruf LAM AWAL, bernama SIFAT yang menjadi NYAWA/NAFAS kita,
3. AIR itu terbit dari Diri kita yang Batin, berhuruf LAM AKHIR, bernama ASMA yang menjadi HATI kita (Air Nuthfah & Air Liur),
4. TANAH/ BUMI itu terbit dari Diri yang Batin, berhuruf HA bernama AF’AL menjadi tingkah Laku kita..
Jadi..

Diri kita yang Dzahir/Jasad ini terbit dari bayang-bayang kita yang Batin dan dari adanya Huruf yang bertuliskan ALLAH.
Tapi…. 

Jangan sampai saudara mengakui bahwa saudara adalah Tuhan..! karena Diri Dzahir kita ini hanyalah Tulisan 
Ingat.., 

HANYA sebatas Huruf/Tulisan yang berlafadz ALLAH, dan untuk itulah Allah Ta’Ala menciptakan tulisan/huruf tersebut agar kita mengenal Diri kita yang Dzahir/Jasad..
Firman Allah dalam surah An Nahl ayat 17 
افمن يخلق كمن لايخلق أفلا تذكرون 
Kalau sudah begitu adakah Allah yang menciptakan (Zat yang menjadikan) semua itu sama seperti makhluk (zat yang tidak menjadikan) yang tidak menciptakan sesuatu ? Maka patutkah kamu lalai karena tidak mau memikirkannya ? 

Ayat surah An Nahl 17 di atas menerangkan bahwa di antara Zat Allah dan Zat manusia adalah tidak sama karena Zat Allah ada sifat keagunganNYA (sifat Salbiyah) yang tidak ada permulaan dan akhirnya, sementara zat Manusia ada awal kejadiannya..
ini berarti bhw makhluk yang bertaraf zat yang di jadikan oleh Allah dan manusia perlu melihat ke dalam diri mereka sendiri, karena itulah Allah menyuruh manusia untuk berfikir 
“Dan di dalam diri kamu itu tidakkah kamu perhatikan ?”
Kemudian setelah kita mengetahui Diri kita yang Dzahir/ Jasad hendaklah kita ketahui juga Diri kita yang Batin, agar dapat kita kenal Tuhan melalui Diri yang Batin 
“Man Arafa Nafsahu Fa Qad Arafa Rabbahu” 

Barang siapa mengenal sebenar-benarnya Diri Niscaya Diri akan mengenal Tuhannya… 
Tetapi sebelum kita mengenal Diri kita yang Batin, hendaklah mati dahulu sebelum matinya Diri kita yang Dzahir tadi, seperti Sabda Nabi Muhammad SAW 
“Mutu Kabla Anta Mutu”

jikalau telah kita matikan Diri yang Dzahir/Jasad tadi, barulah nyata dari kita yang Bathin ~> itu yang bernama sebenar-benarnya DIRI..
Allah berfirman dalam surah Az Zumar ayat 42 
الله يتوفى الأنفس حين موتها والتى لم تمت فى منا مها فيمسك التى قضى عليها الموت 
وير سل الأخرى ألى أجل مسمى أن فى ذلك لأيىت لقوم يتفكرون 

Artinya : Allahlah yang menguasai segala-galanya, Dia mengambil dan memisahkan satu-satunya jiwa dari badan, jiwa yang orang sampai ajalnya, dan jiwa orang yang tidak mati dalam masa tidurnya, kemudian Dia menahan jiwa orang yang Dia tetapkan matinya dan melepaskan kembali jiwa yang lain kebadannya, sehingga sampai ajal yang di tentukan sesungguhnya yang demikian itu tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.
~~MENCARI DIRI~~
~~Dan ketahuilah bahwa di tengah-tengah kamu ada Rasulullah (SAW), 

Kalau dia menuruti (kemauan) kamu dalam banyak hal, pasti kamu akan mendapatkan kesusahan. 

Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan, dan menjadikan (iman) itu indah dalam hatimu, serta menjadikanmu benci kepada kefasikan, kekafiran, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.~~  (QS. Al-Hujurat :7)
” Dan berapa banyak Kami telah mengutus Nabi-Nabi pada umat terdahulu ” (QS Az Zukhruf  43 : 6)
” Ada beberapa rasul yang telah Kami kisahkan tentang mereka kepada kamu sebelumnya, dan Rasul-Rasul yang tidak kami kisahkan tentang mereka kepadamu “.  (QS an Nisa 4 : 164).
” Dan tiap-tiap umat ada Rasul Allah….”. (QS Yunus 10 : 47).

KENALI SAJA DIRIMU … !
Sadarilah sifat-sifatmu itu, maka Allah membantumu dengan sifat-sifat-NYA.
Akuilah saja kehinaanmu itu, maka Allah membantumu dengan kemuliaan-NYA.
Akui saja ketidak berdayaanmu itu, maka Allah membantumu dengan kekuasaan-NYA.
Dan, akui saja kelemahanmu itu, niscaya Allah membantumu dengan kekuatan-NYA. 
— Ibnu Atha’illah dalam Al Hikam ..~> 

MAN ‘ARAFA NAFSAHU FAQAD  ‘ARAFA RABBAHU (barangsiapa yang mengenali dirinya maka dia akan mengenali Tuhannya).
Ternyata, dengan menyadari tentang sifat-sifat dasar kemanusiawian kita, justru akan menyadarkan kita tentang sifat-sifat Ilahiyah, yang bertentangan dengan sifat-sifat tersebut.
Pengakuan kita akan keterbatasan, kebutuhan, dan kehambaan, akan terpantul dalam cermin yang sempurna dari kekuasaan dan cahaya-NYA yang tak terbatas.
Keadaan jujur dan ikhlas dalam diri seorang hamba akan memunculkan cahaya rahmat, kemurahan dan karunia-NYA yang kekal.
Makna kata RASUL
Hakekat perkataan RASUL itu adalah hakekat NYAWA kita, yang menjadi penyambung rahasia diantara jasmani dan rohani.
Berawal huruf hijaiyah RASUL itu mengandung 4 huruf yaitu : 

– RA, 

– SYIN, 

– WAW, 

– LAM, 
– Huruf RA itu adalah hakikat NAFAS 
– Huruf SYIN itu adalah hakikat AMPAS, 

– Huruf WAW itu adalah hakikat TANAFAS,  
– Huruf LAM itu adalah hakikat NUFUS.
Perlu ditegaskan disini bahwa NYAWA itu dijadikan dari JAUHAR BASHITA dan terbagi 4 peringkat :

1. NAFAS        

2. AMPAS      

3. TANAFAS   

4. NUFUS
Jika hilang NYAWA antara rohani dan jasmani, maka orang itu akan mengalami apa yang disebut sebagai MATI.
Hidup NAFAS itu karena AMPAS, 

Hidup AMPAS itu karena TANAFAS dan Hidup TANAFAS itu karena NUFUS dan Hidup NUFUS itu dengan sendirinya dalam RAHASIA.
Letak NAFAS itu pada MULUT, 
Letak AMPAS itu pada HIDUNG, 

Letak TANAFAS itu pada TENGAH-TENGAH bagian DUA TELINGA, 
Letak NUFUS pada KALBU.
NYAWA = NAFAS adalah bagian dari diri ROHANI, fungsinya adalah menghidupkan diri JASMANI = DIRI yang bernama DIRI TERPERI.
Coba rasakan di dalam tubuh ini : ada yang TURUN dan NAIK atau yang KELUAR dan yang MASUK.
Anasirnya terdiri dari NAFAS, NUFUS, AMPAS dan juga TANAFAS yang senantiasa mengingat Allah tanpa henti-hentinya ~> Sunatullah
Seharusnya diri manusia yang bertaraf MAN dan NAFSAHU ini wajib di kenali, dan ibadahnya pun wajib juga di kenali, karena inilah NILAI SEBENAR-BENARNYA MANUSIA.
DIRI TERPERI juga mempunya komponen Rohani yang lain yaitu : 

– ROH, 

– AKAL, 

– NAFSU,
Untuk lebih jelasnya adalah bahwa Dalam Jasad itu ada 2 ROH, 
● Pertama :

RUHUL YAQAZAH (ROH JAGA = Akal + Nafsu) jika ia berada pada jasad, jadilah manusia itu terjaga, maka apabila ia “keluar” dari jasad maka tidurlah manusia itu dengan mimpinya.
● Kedua 

RUHUL HAYAT (NYAWA) jika ia berada pada jasad maka hiduplah jasad, apabila ia “keluar” dari jasad maka matilah manusia tsb.
Kedua jenis ROH ini berada dalam JASMANI manusia, tidak ada yang mengetahui tempatnya melainkan ALLAH Ta’ala.
Tak Tahu Maka Tak Kenal…

Tak Kenal Maka Tak Sayang…

Tak Sayang maka Tak Cinta…

Tak Cinta Maka Tak Kasih…
“barang siapa yg ingin mencari kebenaran akan dapat kebenaran, barang siapa ingin mencari kesalahan akan dapat kesalahan”.
Kata ‘DIRI’ adalah terjemahan ke Bahasa Melayu dan Indonesia, 
‘DIRI’ di dalam istilah arabnya ialah NAF’S . 

DIRI itulah NAF’S walau apapun istilahnya ia menunjukkan kepada bangsa NAF’S yakni NAFSU atau JIWA..~> DIRI yang mempunyai hati , perasaaan , akal, nafsu dan berkehendak. 
Yang makan dan minum itu TUBUH, tetapi yang merasa kenyang, lapar dan dahaga itulah DIRI atau NAF’S .
NAF’S inilah juga yang akan merasa bahagia atau derita, disiksa atau menikmati syurga Allah Ta’ala di dunia dan di akhirat .
Inilah yang dimaksudkan dengan NAF’S yang merangkum Qalbu/Hati, Jiwa, Perasaan, Akal, Budi, dll.

🎐 Fahamilah betul-betul….

NAF’S/ diri di sini menunjukkan kepada diri ROH, karena NAFAS atau NYAWA itu digerakkan oleh RUH. 
Diri ROH dan Diri NAF’S keduanya sudah terhimpun di alam INSAN ( diri kita ini ). 
ROH bersifat taat dan bertaraf AMMAR ROBBI
NAF’S atau NAFSU ya.. inilah Diri kita yg mempunyai asal kejadian yang berbeda.. ~> Nafs’/ Nafsu inilah yang mau turun ke dunia. Nafs’/Nafsu inilah diri kita
Dan tingkatan Nafsu apabila disucikan naiklah pada tingkatan amarah ~> lawamah ~> mulhamah ~> mutmainnah ~>radhiah ~> mardhiah ~>kamaliah.
Maka NAF’S atau Nafsu ini di awal kejadiannya, bila ditanya oleh Allah Ta’ala siapa Aku dan siapa engkau, dijawabnya aku aku, engkau engkau lalu di rajam lah selama beratus-ratus tahun di dalam neraka panas. 
Kemudian diangkat lagi untuk menghadap Allah Ta’ala dan ditanya lagi siapa Aku dan siapa engkau, dijawabnya aku aku, engkau engkau dijawab sama aku aku, engkau engkau. Maka di rajamlah beratus-ratus tahun di dalam neraka sejuk kemudian diangkat unt menghadap Allah Ta’ala dan ditanya lagi, tetap menjawab aku aku, engkau engkau. 
Lalu diperintahkan oleh Allah Ta’ala dikurung di dalam penjara lapar dan dahaga untuk beberapa lama, kemudian di panggil mengadap Allah dan di tanya lagi, Barulah ia mengaku Engkau Tuhanku.
Maka NAF’S yang telah disucikan Allah Ta’ala itu diberi gelar sebagai ‘NAF’S MUTMAINNAHut’ yakni ‘JIWA YANG TENANG’ sebagaimana FirmanNYA dan perintahNYA kepada NAF’S untuk memasuki SyurgaNYA.
“Hai jiwa yang tenang (Naf’s al-Mutmainnah), kembalilah kepada Tuhamu, kamu puas dengan Dia dan Dia ridha kepadamu” (QS. 89 :27-28).
Walaupun terjemahannya ialah kepada JIWA namun hakikatnya menunjukkan kepada NAF’S juga. 

🎐Jangan kamu keliru di sini…!!

Berbeda dengan ROH, apabila dihimpunkan kesemua ROH-ROH lalu ditanya. 

“Alastu birobbikum” , adakah kamu menyaksi Aku ini tuhan kamu maka menjawab sekelian ROH ,”Qolu Bala Syahidna” Bahkan kami semua menyaksikan .
Maka itulah sebabnya ROH itu ‘Ammar Rabbi” Urusan Tuhanku, ROH itulah pesuruh Allah yang sentiasa mengingatkan NAF’S/ diri kita agar jangan lupa kamu bhw ada kehidupan yang lebih kekal abadi dan bukan hanya hidup untuk bersuka-suka di atas muka bumi ini.
ROH adalah suci, ciptaan Allah, sehingga dikategorikan sebagai Makhluk. 
Jadi ROH dalam diri jasad manusia bukanlah Allah itu sendiri. 

🎐 Fahami betul-betul..!

“Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” ( QS. Surah Hijr: ayat 29)
Pengertian “ROH KU”..? 
ROH milik Allah. 

ROH ciptaan dan milik Allah, yang ditiup masuk oleh Allah ke dalam Jasad manusia, dan Bila manusia meninggal maka ROH ini akan kembali ke Sang Pencipta.
Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri (Bahkan atas diri manusia itu ada bashirah yang melihat).(QS 75:14)
Kata BASHIRAH (mata hati) ini disebut sebagai yang menyaksikan dan tahu atas segala gerak manusia yang sekalipun sangat rahasia. 
BASHIRAH biasa menyebut diri (wujud)-nya adalah “Aku”. 
Ulama Tafsir secara syariat menafsirkan bahwa anggota-anggota tubuh manusia menjadi saksi terhadap pekerjaan yang telah mereka lakukan seperti tersebut dalam surat Nur ayat 24, Sedangkan sifat Bashirotun itu antara sifat Maanawiyah yang ditajalli kepada ROH. 

🎐 Fahami betul-betul isyarat ini…

ROH yg tetap itu dinamakan RUHUL QUDUS., 
ROH yang pergi dinamakan RUHUL ‘AZIM., 
RUHUL QUDDUS itulah yg turun naik..
Oleh karena adanya RUHUL QUDDUS itulah maka adanya 7 LATIFAH dalam tubuh INSAN. 
LATIFAH itu dinamakan MAKAM, 
Latifah RUHUL QUDDUS itu ialah 
Latifatul QALB, 

Latifahtul ROH, 

Latifatul SIRR, 

Latifatul KHAFI, 

Latifatul AKHPIA, 

Latifatul NAFS, 

Latifatul JASAD. 
Saya tidak akan membahaskan persoalan Makam, Wilayah dan Latifah di sini karena sudah ada di posting sebelumnya..
Sebenarnya RUH itu asalnya satu juga, karena , “MUHAMMAD Abu Ar ROH” ~> Muhammad itu BAPAK sekalian ROH. 
Manakala pada martabat perpisahan/ perceraian ia menjadi bermacam-macam nama namun sifatnya sama. Istilah yang berbeda-beda itu cuma menunjukkan pada martabat ROH pada perbedaan manusianya dan perbedaan makamnya.
Macam-macam istilah tentang ROH, itu semua menunjukkan kepada LATIFAH RABBANIAH, barang yg seni dan halus . 
Jangan kita tenggelam dengan istilah yang macam-macam ini sebab pd Hakikatnya ROH itu satu yang bernama NAFAS atau NAF’S…
ROH itu urusan ALLAH.. 
Istilah-istilah ROH yang macam-macam itu sesuai peringkat ROH tersebut.
Ruhul AMIN – ROh Muhammad, 

Ruhul QUDDUS – ROh Jibrail, 

Ruhul AMMAR – ROh yg Allah tiupkan pada tubuh Adam, yg fungsinya menjalankan perintah Allah.. urusan Allah
Sedangkan di dalam pembahasan ilmu Usuluddin NAF’S menunjukkan kepada Zat Allah Ta’ala, apabila dibicarakan sifat wujud maknanya wujud NAFSIAH. 

🎐 Jangan pula kamu keliru di sini . 

Maksud wujud NAFSIAH di sini adalah Diri Zat ALlah Ta’ala . 
Apabila sifat wujud ini sudah tahkik pada hamba itulah NAF’S yang menunjukkan kepada NAFSU kita . 
Maka NAFS Zat Allah Ta’ala sudah tentu berbeda dengan NAFS, nafsu yang ada pada kita.
dan NAFSU itulah kita, sebab kita ini hamba .
dalam pembahasan Tassawuf, berkaitan dengan kalam sufi 
‘Man ‘arafa Robbahu,Fa qod ‘arofa Rabbahu’ 
“Barangsiapa mengenal dirinya (nafsahu) maka mengenal ia akan Tuhannya”
Maksudnya..

untuk mengenal Allah Ta’ala itu adalah dengan melihat diri sendiri, mengenal segala sifat-sifat kelemahan dari kita sebagai tanda wujud kekuasaan Allah Ta’ala dan kebesaranNYA pada kita, maka tahulah kita ini selaku hambaNYA yang wajib mengabdikan diri kepada Tuhan Rabb sekalian ‘alam.
Tidak ada yang namanya ROH jahat, ataupun lainnya. 
Sesungguhnya ROH itu selalu mengajak JIWA ke jalan yang lurus, tetapi syaitan sangat gigih menyeru segala yang dimiliki JIWA agar sesat…!!

Salam persaudaraan

Iklan