DIMANA ALLAH ?

Suatu hari Raja Muzaffar yang masih kanak-kanak bertanya kepada ibundanya tentang ALLAH.
“Bunda… dimana ALLAH dan bolehkah Ananda melihatNya?”
“Oh… ALLAH itu di Arasy wahai Ananda dan Ananda tidak dapat melihatNya karena ALLAH berada nun jauh diatas 7 petala langit. Sedangkan langit kedua pun manusia tidak nampak bagaimana hal keadaanNya.. lantas bagaimana mungkin Ananda akan dapat melihat ALLAH yang berada di Arasy yang terletak lebih atas dan jauh dari 7 petala langit ?”
“Oh begitu… bagaimana dengan dalilnya Bunda?”
Dalilnya begini… “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah ALLAH Yang menciptakan langit dan bumi dalam 6 masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy untuk mengatur segala urusan… dari Surah Yunus ayat ke 3.”
Maka giranglah hati Raja Muzaffar karena telah mendapat jawaban dari persoalan yang selama ini senantiasa difikirannya. 
Masa pun berlalu… hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun, maka telah remajalah Raja Muzaffar.
Suatu hari Raja Muzaffar diperintahkan Ayahandanya supaya belajar ilmu-ilmu agama dari Syeikh Abdullah selaku Mufti di Negeri Ayahandanya itu. 
Maka Raja Muzaffar tidak sabar lagi hendak berguru dengan Syeikh Abdullah ttg pelajaran agama yang paling diminatinya.
Suatu hari sambil duduk-duduk santai dengan Syeikh Abdullah tiba-tiba Raja Muzaffar ditanya oleh Syeikh Abdullah dengan 2 persoalan yang tidak asing baginya.
“Wahai Ananda Putera Raja… dimana ALLAH dan bisakah Ananda Putera Raja melihatNya..?”
Sambil tersenyum Raja Muzaffar menjawab sebagaimana yang telah diajarkan Bundanya dahulu… “ALLAH itu di Arasy wahai Syeikh Guru dan Beta tidak bisa melihatNya karena ALLAH berada nun jauh diatas 7 petala langit.”
 Syeikh Abdullah Tersenyum mendengar jawaban muridnya itu dan menghela nafas sejenak.
Syeikh Abdullah lalu bersuara…. “Begini Ananda Putera Raja… ALLAH itu bukannya makhluk seperti kita lantaran itu ALLAH tidak seperti kita. Apa saja hukum yang terjadi pada makhluk tidak berlaku seperti itu atas ALLAH. Oleh sebab itulah ALLAH tidak bertempat karena bertempat itu hukum bagi makhluk.”
“Lantas dimana ALLAH itu wahai Syeikh Guru ?”
“ALLAH itu tidak bertempat karena Dia bersifat qiammuhu binafsihi yang artinya ALLAH tidak berhajat pada sesuatu zat lain untuk ditempati. Jika kita mengatakan ALLAH berhajat pada sesuatu zat lain untuk ditempati maka ketika itu kita telah menyerupakan ALLAH dengan keadaan makhluk. Ketahuilah, ALLAH tidak serupa dengan makhluk berdasarkan pada dalil dari Surah Asy-Syura ayat ke 11 yang artinya 
“Dia tidak menyerupai segala sesuatu.” 
ALLAH tidak berdiam di Arasy karena Arasy itu adalah makhluk. Bagaimana mungkin makhluk dapat menanggung Zat ALLAH sedang bukit dihadapan Nabi Musa pun hancur karena tidak dapat menanggung pentajalian ALLAH.”
Raja Muzaffar mengangguk-anggukkan kepalanya tanda faham.
Kemudian Syeikh Abdullah menambahkan… “Berkenaan tentang Ananda Putera Raja tidak bisa melihat ALLAH itu adalah betul namun bukanlah karena ALLAH itu jauh maka Ananda Putera Raja tidak boleh melihatNya.”
“Jika bukan begitu lantas bagaimana Syeikh Guru?” Tanya Raja Muzaffar ingin tahu.
“Sebenarnya kita tidak dapat melihat ALLAH bukanlah karena  jarak tetapi karena keterbatasan kemampuan penglihatan mata manusia yang tidak mampu melihat ZatNya. Ini sesuai dengan firman ALLAH yang artinya “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui… dari Surah Al-An’am ayat 103.”
Terdiam Raja Muzaffar mendengar kata Gurunya itu. 
Barulah beliau sadar bahwa apa yang menjadi pegangannya selama ini adalah salah. 
Pegangan yang mengatakan bahwa ALLAH itu diArasy dan ALLAH tidak boleh dilihat karena jarak adalah satu kesalahan.
Uraian dari Gurunya melalui ilmu Kalam membuat Raja Muzaffar begitu kagum dengan kekuasaan akal yang dapat menguraikan segala-galanya tentang Tuhan. 
Mulai hari itu Raja Muzaffar berpegang dengan perkataan gurunya bahwa ALLAH itu tidak bertempat dan manusia tidak boleh melihat ALLAH karena keterbatasan kemampuan penglihatan mata manusia. 
Akhirnya dengan berkat ketekunan dan kesungguhan, Raja Muzaffar telah berhasil menguasai ilmu-ilmu ketuhanan menurut peraturan ilmu kalam sebagaimana yang diajarkan oleh Syeikh Abdullah hingga mahir.
Masa terus berjalan dan kini Raja Muzaffar telah dewasa. 
Karena minatnya yang begitu mendalam tentang ilmu-ilmu ketuhanan maka beliau meminta izin pada ayahandanya untuk memperdalamkan lagi ilmu pengetahuannya dengan belajar dari guru-guru yang berada diluar istana setelah Syeikh Abdullah  meninggal dunia.
Ayahandanya memberi izin lalu bergegaslah Raja Muzaffar menemui sahabat-sahabat sealiran Almarhum Syeikh Gurunya untuk melanjutkan pelajaran. 
Raja Muzaffar mempunyai sikap yang pelik. Setiap hari apabila beliau melalui lorong-lorong kecil untuk sampai ke rumah guru-gurunya, beliau akan bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya dengan soal yang pernah ditanya kepada bundanya yaitu dimana ALLAH dan bolehkah manusia melihatNya?
Bagi siapa yang menjawab soal itu sebagaimana yang pernah dijawab oleh bundanya maka beliau akan membetulkan kefahaman orang itu dengan perkataan Almarhum Gurunya Syeikh Abdullah. 
Jika orang itu tidak mau tunduk dengan hujahnya maka orang itu akan dipukulnya sebelum diusir dari negerinya itu.
Begitulah sikap Raja Muzaffar setiap hari sehingga pada suatu hari beliau bertemu dengan seorang tua yang sedang bertungkus-lumus menyediakan air minuman untuk diberi minum kepada orang yang lalu-lalang disebuah pekan tanpa mengambil upah sedikitpun.
Melihat kelakuan aneh orang tua itu lantas Raja Muzaffar mendekatinya. 
“Hei orang Tua… mengapa kamu tidak mengambil upah atas usahamu itu ?” Tanya Raja Muzaffar tegas.
Orang Tua yang sedari tadi begitu asyik menawarkan minumannya itu terkejut dengan pertanyaan Raja Muzaffar, lalu meminta Raja Muzaffar memperkenalkan dirinya.
“Siapakah Tuan ini?” Tanya si Tua.
“Beta adalah Putera Raja negeri ini.” Jawab Raja Muzaffar tegas.
“Oh kalau begitu Tuan ini tentu Raja Muzaffar yang terkenal dengan ketinggian ilmu ketuhanan itu. Tapi sayang, Tuan hanya tahu ilmu tentang ALLAH tetapi Tuan sendiri belum mengenal ALLAH. Jika Tuan telah mengenal ALLAH sudah pasti tuan tidak akan bertanya kepada saya soal Tuan tadi.”
Terkejut Raja Muzaffar mendengar kata-kata si Tua itu. Hatinya terpesona dengan ungkapan ‘mengenal ALLAH’ yang diucapkan orang tua itu.
Lantas beliau bertanya kepada orang tua itu. “Kemudian apa bedanya antara ‘tahu’ dengan ‘kenal’ ?”
Dengan tenang si Tua itu menjawab… “Ibarat seseorang yang datang kepada Tuan lantas menceritakan kepada Tuan tentang ciri-ciri buah nangka tanpa menunjukkan zat buah nangka (buahnya), maka ini namanya martabat ‘tahu’ karena ia hanya sekadar penjelasan dan orang yang berada pada martabat ini mungkin akan menyangka bahwa buah cempedak itu adalah nangka karena ciri-cirinya seakan-akan sama. 
Bandingkan dg seseorang yang datang kepada Tuan lantas menghulurkan sebiji buah nangka, maka ini namanya martabat ‘kenal’ karena zatnya terus dapat ditangkap dengan penglihatan mata dan orang yang berada pada mertabat ini pasti dapat mengenal mana cempedak dan mana nangka dengan tepat.”
Raja Muzaffar mendengar dengan teliti uraian si Tua itu. Diam-diam, hatinya membenarkan apa yang dikatakan si Tua itu. 
Kemudian terlintas dihatinya untuk bertanya soal yang biasa ditanyakannya kepada orang banyak.
“Kalau begitu wahai orang Tua silahkan jawab persoalan Beta ini… dimana ALLAH dan bolehkah manusia melihatNya?”
“ALLAH berada dimana-mana saja dan manusia boleh melihatNya.” Jawab si Tua dengan tenang.
Tercengang Raja Muzaffar mendengar jawaban orang tua itu.. kemudian terus dipukulnya orang Tua itu hingga jatuh tersungkur. 
Melihat orang Tua itu tidak mencoba mengelak dari pukulannya, bahkan langsung tidak menunjukkan reaksi takut maka Raja Muzaffar pun lantas bertanya… “Kenapa kamu tidak mengelak pukulan beta wahai orang Tua ?”
“Bukankah tadi sudah hamba bilang… Tuan ini hanya orang yang tahu tentang ALLAH tetapi bukannya orang yang benar-benar mengenal ALLAH.”
Terdiam Raja Muzaffar mendengar kata-kata si Tua itu. 
Kemudian beliau menenangkan dirinya lantas segera duduk diatas tanah dihadapan orang Tua itu.
“Baiklah orang Tua… Silahkan uraikan jawaban kamu tadi sebab Beta berpegang bahwa ALLAH itu tidak bertempat dan manusia tidak boleh melihat ALLAH.”
“ALLAH itu tidak bertempat adalah menurut pandangan hukum akal saja sedang pada hakikatnya tidak begitu.” Ujar orang Tua itu sambil melap ujung bibirnya yang berdarah.
Kemudian beliau menyambung… “Bukankah ALLAH itu wujudNya Esa ?”
“Benar.” Jawab Raja Muzaffar.
“Jika ALLAH itu wujudNya Esa maka sudah barang tentu tidak ada wujud sesuatu bersertaNya.”
“Benar.” Jawab Raja Muzaffar.
“Lantas bagaimanakah kedudukan wujud alam ini jika ALLAH itu diyakini wujud tanpa ada selain zat yang wujud bersertaNya dengan pandangan mata hati ?”
Raja Muzaffar memejamkan matanya rapat-rapat lantas dikerahkan pandangan mata hatinya untuk memahami persoalan yang ditanyakan orang Tua itu. 
Tiba-tiba akalnya dapat menangkap dan memahami hakikat alam ini jika ia merujuk kepada ruang lingkup keesaan wujud ALLAH. 
Lantas beliau membuat satu kesimpulan… “Jika dipandang dari sudut Esanya wujud ALLAH, maka alam ini tidak lain melainkan diriNya sendiri… Tiba-tiba saja perkataan itu muncul keluar dari bibirnya. 
Terpejam matanya apabila mendengar ucapannya sendiri.
Maka lidahnya kelu dan akalnya lumpuh. Terkejut… tergagap…. “Jadi kalau begitu ketika Tuan memandang alam ini, siapa yang Tuan pandang pada hakikatnya..?”
Pantas soal itu diajukan kepada Raja Muzaffar. “Pada hakikatnya Beta memandang ALLAH…”
“Nah kalau begitu bukankah ALLAH berfirman yang artinya “Dimana saja kamu menghadap, disitulah wajah ALLAH” dari Surah Al-Baqarah ayat ke 115 dan dalam Surah Al-Hadiid ayat ke 3 yang artinya “Dialah yang awal, yang akhir, yang zahir dan yang batin.”
Kemudian orang Tua itu bertanya lagi… “Dan sekarang dapat atau tidak Tuan melihat ALLAH saat ini”
“Ya.. Beta menyaksikan dengan ainul basyirah.”
Perlahan-lahan bercucuran air mata dari ujung mata Raja Muzaffar. Beliau menahan sesak karena sekarang beliau sudah faham kenapa orang tua itu tidak mengambil upah atas usahanya dan tidak mengelak ketika dipukul. Semuanya karena yang dipandangnya adalah pentajallian ALLAH. 
Dalam hati perlahan-lahan beliau berkata… “Memang benar sesungguhnya pada sudut ini, ALLAH berada dimana-mana saja dan manusia boleh melihat ALLAH.”
“Makanya wahai Putera Raja.. inilah yang dinamakan sebagai ilmu hakikat.”
Semenjak hari itu, Raja Muzaffar terus mendampingi orang tua itu untuk belajar lebih dalam seluk-beluk ilmu hakikat hingga beliau diangkat oleh gurunya menduduki kedudukan Syeikh ilmu hakikat. 
Demi memahami ilmu-ilmu hakikat yang halus-halus Raja Muzaffar telah menjadi seorang ahli ibadah yang alim-mualim. Beliau tidak lagi berpegang dengan faham Almarhum Gurunya yaitu Syeikh Abdullah karena baginya jalan yang bisa membuat seseorang itu dapat mengenal ALLAH dengan haqqul yaqin ialah dg ilmu hakikat. 
Beliau mulai duduk didalam peraturan musyahadah dan telah menepikan duduk didalam peraturan hukum akal.
Bagi beliau, ilmu kalam yang dituntutnya selama ini adalah semata-mata salah.
Setelah Ayahandanya meninggal maka Raja Muzaffar dinobatkan menjadi Sultan dinegerinya dan sekarang beliau menyandang gelar Sultan Muzaffar Shah pada usia 50 tahun.
Beliau memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana namun sikap ganjilnya yang dahulu masih diteruskannya. Dimana saja beliau pergi, beliau tetap akan bertanya soal yang biasanya itu.
Jika orang yang ditanya tidak dapat menjawab maka akan diajarkan jawabannya menurut ilmu hakikat dan jika orang itu membangkang akan dihukum bunuh.
Akhirnya kezaliman Sultan Muzaffar Shah ini membuat seluruh rakyat jelatanya menganut fahaman hakikat. 

Justeru itu rakyat jelata dinegerinya hidup aman dan makmur.
Suatu saat Sultan Muzaffar Shah yang terkenal sebagai Mursyid ilmu hakikat itu berjalan-jalan disebuah padang rumput yang luas dengan ditemani para pembesar istana.
Pandangannya tertarik pada gelagat seorang pemuda pengembala kambing yg kira-kira berusia 30an yang sedang berusaha menghalau seekor serigala yang mencoba memakan kambing gembalaannya.
Baginda mendatangi pemuda gembala itu. 
Kelihatan pemuda itu hanya memakai pakaian yang dibuat dari goni dan tidak mempunyai sendal sebagai alas kaki. Rambutnya kering berdebu, bibirnya kering dan badannya kurus.
“Wahai pemuda… kenapa kamu menghalau serigala yg akan memakan kambing itu, tidakkah kamu menyaksikan hakikat serigala itu ? Maka biarkan saja ALLAH bertindak menurut kemauanNya.”
Mendengar kata-kata Sultan Muzaffar Shah itu sekonyong-konyong pemuda gembala itu lantas menggenggam pasir lalu dilemparkannya pasir itu ke muka Sultan Muzaffar Shah. Kemudian pemuda gembala itu membongkok lagi untuk kedua kalinya mengambil segenggam pasir lalu dilemparkan sekali lagi ke muka Sultan Muzaffar Shah.
Sultan Muzaffar Shah hanya diam saja mungkin terkejut dengan tindakkan pemuda gembala itu. 
Pemuda gembala itu terus  mengambil segenggam pasir lagi.. melihat hal itu seorang pembesar istana yang berada disitu terus memukul pemuda gembala itu hingga jatuh pingsan.
Setelah sadar dari pingsan, pemuda gembala itu mendapatkan tangan dan lehernya telah dipasung dengan pasungan kayu didalam sebuah penjara. Tidak lama kemudian datang 2 orang pengawal istana dengan kasar merenggut rantai besi yang terikat dibadannya dan dibawa ke suatu tempat yang amat asing baginya. 
Tak lama berjalan akhirnya mereka sampai dihadapan singgahsana Sultan Muzaffar Shah.
“Mengapa kamu melempari muka Beta dengan pasir?” 

tanya Sultan Muzaffar Shah dg tenang.
“Karena Tuanku mengatakan bahwa serigala itu adalah ALLAH yakni Tuhan saya.
“Bukankah hakikat serigala itu memang begitu?” Tanya Sultan Muzaffar Shah heran.
“Nampaknya dakwaan tuanku ini menunjukkan seorang yang mengenal ALLAH adalah kebohongan semata-mata.”
“Kenapa kamu berkata begitu?”
“Sebab orang yang sudah sempurna mengenal ALLAH pasti rindu untuk bertemu menemui ALLAH.”
Setelah 30 tahun baru hari ini hati Sultan Muzaffar Shah terpesona lagi bila mendengar ungkapan ‘bertemu menemui ALLAH’ yang diucapkan oleh pemuda gembala itu.
Dahulu hatinya pernah terpesona dengan ungkapan ‘mengenal ALLAH’. 
Setelah itu Sultan Muzaffar Shah memerintahkan agar pasung kayu yang dikenakan pada pemuda gembala itu dibuka.
“Lantas apa utamanya ‘bertemu’ dibandingkan dg ‘kenal’ ?” Tanya Sultan Muzaffar Shah.
“Adakah Tuanku mengenali sifat-sifat Rasulullah?” Tanya pemuda gembala itu tiba-tiba…
“Ya… Beta kenal akan sifat-sifat Rasulullah.”
“Lantas apa keinginan Tuanku terhadap Rasulullah ?”
“Semestinyalah Beta ingin dan rindu untuk menemuinya karena baginda adalah kekasih ALLAH!”
“Nah begitulah… orang yang sempurna pengenalannya terhadap sesuatu pasti terbit rasa ingin bertemu dengan sesuatu yang telah dikenalinya itu dan bukan hanya sekedar berputar-putar didaerah ‘mengenal’ semata-mata.”
Tiba-tiba saja Sultan Muzaffar Shah berteriak kuat dengan menyebut perkataan ‘Allahu Akbaaar…!.!.!’ sekuat-kuat hatinya lalu baginda jatuh pingsan tidak sadarkan diri. 
Tidak lama kemudian setelah wajahnya disapu dengan air sejuk maka baginda kembali sadar.
Sultan Muzaffar Shah terus menangis terisak-isak hingga jubahnya dibasahi oleh air matanya. 
Baginda memuhassabah dirinya.. “Memang… memang selama ini beta mengenali ALLAH melalui ilmu hakikat tetapi tidak pernah hadir walau sekelumit rasa untuk bertemu denganNya.
Rupanya ilmu hakikat yang beta pegangi selama ini juga salah seperti ilmu bunda dan ilmu Syeikh Abdullah”… bisik hatinya.
Kemudian terlintas di fikiran Sultan Muzaffar Shah untuk menanyakan soal yg seperti biasanya kepada pemuda gembala itu.
“Kalau begitu wahai orang muda, silahkan jawab persoalan Beta ini… dimanakah ALLAH?”
Dengan tenang pemuda gembala itu menjawab… “ALLAH berada dimana Dia berada sekarang.”
“Kalau begitu, dimana ALLAH sekarang ?
“Sekarang ALLAH berada dimana Dia berada dahulu.”
“Dimana ALLAH berada dahulu dan sekarang ?”
“Dahulu dan sekarang Dia berada ditempat yang hanya Dia saja yang tahu.”
“Dimana tempat itu?”
“Didalam pengetahuan ilmu ALLAH.”
Sultan Muzaffar Shah terdiam sebentar sambil keningnya berkerut merenungkan jawaban yang diberikan pemuda gembala itu. 
Kemudian baginda meneruskan pertanyaannya lagi.
“Bolehkah manusia melihat ALLAH?”
“Kunhi ZatNya tidak bisa dicapai dengan pandangan mata kepala dan pandangan hati.”
“Silahkan perjelaskan lagi wahai anak muda.” Pinta Sultan Muzaffar Shah.
“Begini Tuanku… adapun jawaban yang diberikan oleh Bunda Tuanku itu atas dasar persoalan yang sering Tuanku berikan itu sebenarnya adalah betul menurut tahapan akal Tuanku yang ketika itu dinilai masih kanak-kanak.
Adapun jawaban yang diberikan oleh Syeikh Abdullah itu juga betul jika dinilai dari sudut hukum akal… Dan jawaban yang diberikan oleh Syeikh Tua itu juga betul jika dinilai dari sudut pengamalan musyahadah terhadap ilmu hakikat. Begitu jugalah dengan jawaban yang saya berikan juga betul jika dinilai dari sudut ilmu ma’rifat.
Tidak ada yang salah.. cuma ilmu itu bertahap-tahap dalam memahaminya dan tuanku telah melalui tahapan-tahapan itu. 
Dari tahapan jahil (ilmu bunda) ke tahapan awam (ilmu kalam) kemudian ke tahapan khusus (ilmu hakikat) dan akhir sekali ke tahap khawasul khawas (ilmu ma’rifat).”
Kemudian pemuda gembala itu terus menyambung kata-katanya… 
“Jika ilmu hakikat itu jalan fana karena menilik pada Zat ALLAH maka ilmu ma’rifat adalah jalan baqa karena menilik terus kepada Kunhi Zat ALLAH . Maka jawaban bagi persoalan tuanku itu yang dapat saya simpulkan ialah Tiada yang tahu dimana ALLAH melainkan ALLAH dan tiada siapapun yang dapat melihat ALLAH melainkan diriNYA sendiri .”
Sultan Muzaffar Shah mengangguk-anggukkan kepalanya tanda faham… 
“Jadi bagaimana jika hendak sampai ke tahap mengenal ALLAH dengan sempurna.. hingga terbit rasa ingin untuk menemuiNya?”
“Jangan mengenal ALLAH dengan akal tuanku.. sebaliknya mengenal ALLAH dengan ALLAH.”
“Kemudian, apa tata caranya untuk dapat bertemu dengan ALLAH ?”
“Sebagaimana firman ALLAH yang artinya… “Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan amalan soleh dan janganlah dia mempersekutukan Tuhannya dalam beribadat kepadanya”… dari Surah Al-Kahfi ayat ke 110.
Mendengar penjelasan dari pemuda gembala itu hati Sultan Muzaffar Shah menjadi tenang dan akhirnya baginda diterima menjadi murid si pemuda gembala itu. .
Karena kesungguhan hati yang luarbiasa dalam mengerti ilmu ma’rifat maka akhirnya baginda termahsyur sebagai seorang Sultan yang arifbillah lagi zuhud serta warak.
Kemudian rakyatnya dibiarkan bebas untuk berpegang pada faham apapun asalkan ajarannya masih didalam ruang lingkup yang mengikuti pegangan Ahlussunnah Wal Jamaah.
Dan sekarang pada usia 70 tahun barulah Sultan Muzaffar Shah sadar dan faham bahwa untuk memahami tentang ALLAH maka seseorang itu harus melalui tahapan-tahapan yang tertentu sebelum seseorang itu layak dinobatkan sebagai arifbillah . 
Baginya sama seperti ilmu kalam, ilmu hakikat atau ilmu ma’rifat maka semuanya adalah sama penting untuk dipelajari, difahami, dimengerti untuk mewujudkan kesempurnaan mencapai kedudukan insan kamil yang ma’rifatullah .
Kini Sultan Muzaffar Shah sudah memahami bagaimana rasanya rindu kepada ALLAH dan bagaimana rasanya benar-benar tidak sabar untuk bertemu ALLAH. 
Sejak semalam mulutnya tidak henti-henti asyik mengucapkan kalimah Ismu Zat Allah..Allah..Allah dan kadang-kadang terlihat deraian air mata jernih mengalir perlahan dipipinya sewaktu dipembaringan.
Perlahan-lahan pemuda gembala itu menghampiri Sultan Muzaffar Shah yang sejak 20 tahun lalu tinggal bersama dengannya dirumah usangnya, lantas meletakkan kepala muridnya itu diduduk silanya dengan linangan air mata. 
Kini nafasnya mulai tersekat-sekat dan melihat hal itu, pemuda gembala itu merapatkan bibirnya ke telinga Sultan Muzaffar Shah kemudian mentalqinkan baginda dengan kalimah tauhid seraya diikuti baginda dengan senyuman. 
Kemudian Sultan Muzaffar Shah menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Suasana menjadi hening… pemuda gembala menunduk saja dan sebentar kemudian dia berkata. “Alangkah beruntungnya dia.. sekarang Tuanku benar-benar telah menemui ALLAH dan dapat mengenalNya dengan sebenar-benarnya kenal. 
“Ya… ALLAH masih belum layakkah untuk aku bertemu denganMu, aku mencemburui Sultan Muzaffar Shah ini maka jemputlah aku menghadapMu…”
Sebentar kemudian pemuda gembala itu pun turut rebah dan menghembuskan nafasnya yang terakhir…
Tiba-tiba hujan pun turun seolah-olah menangisi kepergian 2 insan yang mulia akhlaknya itu.
– TAMAT –
Kirimam Sahabat
dan 
PERSOALAN ‘DIMANA ALLAH ?

Suatu hari Raja Muzaffar yang masih kanak-kanak bertanya kepada ibundanya tentang ALLAH.
“Bunda… dimana ALLAH dan bolehkah Ananda melihatNya?”
“Oh… ALLAH itu di Arasy wahai Ananda dan Ananda tidak dapat melihatNya karena ALLAH berada nun jauh diatas 7 petala langit. Sedangkan langit kedua pun manusia tidak nampak bagaimana hal keadaanNya.. lantas bagaimana mungkin Ananda akan dapat melihat ALLAH yang berada di Arasy yang terletak lebih atas dan jauh dari 7 petala langit ?”
“Oh begitu… bagaimana dengan dalilnya Bunda?”
Dalilnya begini… “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah ALLAH Yang menciptakan langit dan bumi dalam 6 masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy untuk mengatur segala urusan… dari Surah Yunus ayat ke 3.”
Maka giranglah hati Raja Muzaffar karena telah mendapat jawaban dari persoalan yang selama ini senantiasa difikirannya. 
Masa pun berlalu… hari berganti minggu, minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun, maka telah remajalah Raja Muzaffar.
Suatu hari Raja Muzaffar diperintahkan Ayahandanya supaya belajar ilmu-ilmu agama dari Syeikh Abdullah selaku Mufti di Negeri Ayahandanya itu. 
Maka Raja Muzaffar tidak sabar lagi hendak berguru dengan Syeikh Abdullah ttg pelajaran agama yang paling diminatinya.
Suatu hari sambil duduk-duduk santai dengan Syeikh Abdullah tiba-tiba Raja Muzaffar ditanya oleh Syeikh Abdullah dengan 2 persoalan yang tidak asing baginya.
“Wahai Ananda Putera Raja… dimana ALLAH dan bisakah Ananda Putera Raja melihatNya..?”
Sambil tersenyum Raja Muzaffar menjawab sebagaimana yang telah diajarkan Bundanya dahulu… “ALLAH itu di Arasy wahai Syeikh Guru dan Beta tidak bisa melihatNya karena ALLAH berada nun jauh diatas 7 petala langit.”
 Syeikh Abdullah Tersenyum mendengar jawaban muridnya itu dan menghela nafas sejenak.
Syeikh Abdullah lalu bersuara…. “Begini Ananda Putera Raja… ALLAH itu bukannya makhluk seperti kita lantaran itu ALLAH tidak seperti kita. Apa saja hukum yang terjadi pada makhluk tidak berlaku seperti itu atas ALLAH. Oleh sebab itulah ALLAH tidak bertempat karena bertempat itu hukum bagi makhluk.”
“Lantas dimana ALLAH itu wahai Syeikh Guru ?”
“ALLAH itu tidak bertempat karena Dia bersifat qiammuhu binafsihi yang artinya ALLAH tidak berhajat pada sesuatu zat lain untuk ditempati. Jika kita mengatakan ALLAH berhajat pada sesuatu zat lain untuk ditempati maka ketika itu kita telah menyerupakan ALLAH dengan keadaan makhluk. Ketahuilah, ALLAH tidak serupa dengan makhluk berdasarkan pada dalil dari Surah Asy-Syura ayat ke 11 yang artinya 
“Dia tidak menyerupai segala sesuatu.” 
ALLAH tidak berdiam di Arasy karena Arasy itu adalah makhluk. Bagaimana mungkin makhluk dapat menanggung Zat ALLAH sedang bukit dihadapan Nabi Musa pun hancur karena tidak dapat menanggung pentajalian ALLAH.”
Raja Muzaffar mengangguk-anggukkan kepalanya tanda faham.
Kemudian Syeikh Abdullah menambahkan… “Berkenaan tentang Ananda Putera Raja tidak bisa melihat ALLAH itu adalah betul namun bukanlah karena ALLAH itu jauh maka Ananda Putera Raja tidak boleh melihatNya.”
“Jika bukan begitu lantas bagaimana Syeikh Guru?” Tanya Raja Muzaffar ingin tahu.
“Sebenarnya kita tidak dapat melihat ALLAH bukanlah karena  jarak tetapi karena keterbatasan kemampuan penglihatan mata manusia yang tidak mampu melihat ZatNya. Ini sesuai dengan firman ALLAH yang artinya “Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedangkan Dia dapat melihat segala penglihatan itu dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui… dari Surah Al-An’am ayat 103.”
Terdiam Raja Muzaffar mendengar kata Gurunya itu. 
Barulah beliau sadar bahwa apa yang menjadi pegangannya selama ini adalah salah. 
Pegangan yang mengatakan bahwa ALLAH itu diArasy dan ALLAH tidak boleh dilihat karena jarak adalah satu kesalahan.
Uraian dari Gurunya melalui ilmu Kalam membuat Raja Muzaffar begitu kagum dengan kekuasaan akal yang dapat menguraikan segala-galanya tentang Tuhan. 
Mulai hari itu Raja Muzaffar berpegang dengan perkataan gurunya bahwa ALLAH itu tidak bertempat dan manusia tidak boleh melihat ALLAH karena keterbatasan kemampuan penglihatan mata manusia. 
Akhirnya dengan berkat ketekunan dan kesungguhan, Raja Muzaffar telah berhasil menguasai ilmu-ilmu ketuhanan menurut peraturan ilmu kalam sebagaimana yang diajarkan oleh Syeikh Abdullah hingga mahir.
Masa terus berjalan dan kini Raja Muzaffar telah dewasa. 
Karena minatnya yang begitu mendalam tentang ilmu-ilmu ketuhanan maka beliau meminta izin pada ayahandanya untuk memperdalamkan lagi ilmu pengetahuannya dengan belajar dari guru-guru yang berada diluar istana setelah Syeikh Abdullah  meninggal dunia.
Ayahandanya memberi izin lalu bergegaslah Raja Muzaffar menemui sahabat-sahabat sealiran Almarhum Syeikh Gurunya untuk melanjutkan pelajaran. 
Raja Muzaffar mempunyai sikap yang pelik. Setiap hari apabila beliau melalui lorong-lorong kecil untuk sampai ke rumah guru-gurunya, beliau akan bertanya kepada setiap orang yang ditemuinya dengan soal yang pernah ditanya kepada bundanya yaitu dimana ALLAH dan bolehkah manusia melihatNya?
Bagi siapa yang menjawab soal itu sebagaimana yang pernah dijawab oleh bundanya maka beliau akan membetulkan kefahaman orang itu dengan perkataan Almarhum Gurunya Syeikh Abdullah. 
Jika orang itu tidak mau tunduk dengan hujahnya maka orang itu akan dipukulnya sebelum diusir dari negerinya itu.
Begitulah sikap Raja Muzaffar setiap hari sehingga pada suatu hari beliau bertemu dengan seorang tua yang sedang bertungkus-lumus menyediakan air minuman untuk diberi minum kepada orang yang lalu-lalang disebuah pekan tanpa mengambil upah sedikitpun.
Melihat kelakuan aneh orang tua itu lantas Raja Muzaffar mendekatinya. 
“Hei orang Tua… mengapa kamu tidak mengambil upah atas usahamu itu ?” Tanya Raja Muzaffar tegas.
Orang Tua yang sedari tadi begitu asyik menawarkan minumannya itu terkejut dengan pertanyaan Raja Muzaffar, lalu meminta Raja Muzaffar memperkenalkan dirinya.
“Siapakah Tuan ini?” Tanya si Tua.
“Beta adalah Putera Raja negeri ini.” Jawab Raja Muzaffar tegas.
“Oh kalau begitu Tuan ini tentu Raja Muzaffar yang terkenal dengan ketinggian ilmu ketuhanan itu. Tapi sayang, Tuan hanya tahu ilmu tentang ALLAH tetapi Tuan sendiri belum mengenal ALLAH. Jika Tuan telah mengenal ALLAH sudah pasti tuan tidak akan bertanya kepada saya soal Tuan tadi.”
Terkejut Raja Muzaffar mendengar kata-kata si Tua itu. Hatinya terpesona dengan ungkapan ‘mengenal ALLAH’ yang diucapkan orang tua itu.
Lantas beliau bertanya kepada orang tua itu. “Kemudian apa bedanya antara ‘tahu’ dengan ‘kenal’ ?”
Dengan tenang si Tua itu menjawab… “Ibarat seseorang yang datang kepada Tuan lantas menceritakan kepada Tuan tentang ciri-ciri buah nangka tanpa menunjukkan zat buah nangka (buahnya), maka ini namanya martabat ‘tahu’ karena ia hanya sekadar penjelasan dan orang yang berada pada martabat ini mungkin akan menyangka bahwa buah cempedak itu adalah nangka karena ciri-cirinya seakan-akan sama. 
Bandingkan dg seseorang yang datang kepada Tuan lantas menghulurkan sebiji buah nangka, maka ini namanya martabat ‘kenal’ karena zatnya terus dapat ditangkap dengan penglihatan mata dan orang yang berada pada mertabat ini pasti dapat mengenal mana cempedak dan mana nangka dengan tepat.”
Raja Muzaffar mendengar dengan teliti uraian si Tua itu. Diam-diam, hatinya membenarkan apa yang dikatakan si Tua itu. 
Kemudian terlintas dihatinya untuk bertanya soal yang biasa ditanyakannya kepada orang banyak.
“Kalau begitu wahai orang Tua silahkan jawab persoalan Beta ini… dimana ALLAH dan bolehkah manusia melihatNya?”
“ALLAH berada dimana-mana saja dan manusia boleh melihatNya.” Jawab si Tua dengan tenang.
Tercengang Raja Muzaffar mendengar jawaban orang tua itu.. kemudian terus dipukulnya orang Tua itu hingga jatuh tersungkur. 
Melihat orang Tua itu tidak mencoba mengelak dari pukulannya, bahkan langsung tidak menunjukkan reaksi takut maka Raja Muzaffar pun lantas bertanya… “Kenapa kamu tidak mengelak pukulan beta wahai orang Tua ?”
“Bukankah tadi sudah hamba bilang… Tuan ini hanya orang yang tahu tentang ALLAH tetapi bukannya orang yang benar-benar mengenal ALLAH.”
Terdiam Raja Muzaffar mendengar kata-kata si Tua itu. 
Kemudian beliau menenangkan dirinya lantas segera duduk diatas tanah dihadapan orang Tua itu.
“Baiklah orang Tua… Silahkan uraikan jawaban kamu tadi sebab Beta berpegang bahwa ALLAH itu tidak bertempat dan manusia tidak boleh melihat ALLAH.”
“ALLAH itu tidak bertempat adalah menurut pandangan hukum akal saja sedang pada hakikatnya tidak begitu.” Ujar orang Tua itu sambil melap ujung bibirnya yang berdarah.
Kemudian beliau menyambung… “Bukankah ALLAH itu wujudNya Esa ?”
“Benar.” Jawab Raja Muzaffar.
“Jika ALLAH itu wujudNya Esa maka sudah barang tentu tidak ada wujud sesuatu bersertaNya.”
“Benar.” Jawab Raja Muzaffar.
“Lantas bagaimanakah kedudukan wujud alam ini jika ALLAH itu diyakini wujud tanpa ada selain zat yang wujud bersertaNya dengan pandangan mata hati ?”
Raja Muzaffar memejamkan matanya rapat-rapat lantas dikerahkan pandangan mata hatinya untuk memahami persoalan yang ditanyakan orang Tua itu. 
Tiba-tiba akalnya dapat menangkap dan memahami hakikat alam ini jika ia merujuk kepada ruang lingkup keesaan wujud ALLAH. 
Lantas beliau membuat satu kesimpulan… “Jika dipandang dari sudut Esanya wujud ALLAH, maka alam ini tidak lain melainkan diriNya sendiri… Tiba-tiba saja perkataan itu muncul keluar dari bibirnya. 
Terpejam matanya apabila mendengar ucapannya sendiri.
Maka lidahnya kelu dan akalnya lumpuh. Terkejut… tergagap…. “Jadi kalau begitu ketika Tuan memandang alam ini, siapa yang Tuan pandang pada hakikatnya..?”
Pantas soal itu diajukan kepada Raja Muzaffar. “Pada hakikatnya Beta memandang ALLAH…”
“Nah kalau begitu bukankah ALLAH berfirman yang artinya “Dimana saja kamu menghadap, disitulah wajah ALLAH” dari Surah Al-Baqarah ayat ke 115 dan dalam Surah Al-Hadiid ayat ke 3 yang artinya “Dialah yang awal, yang akhir, yang zahir dan yang batin.”
Kemudian orang Tua itu bertanya lagi… “Dan sekarang dapat atau tidak Tuan melihat ALLAH saat ini”
“Ya.. Beta menyaksikan dengan ainul basyirah.”
Perlahan-lahan bercucuran air mata dari ujung mata Raja Muzaffar. Beliau menahan sesak karena sekarang beliau sudah faham kenapa orang tua itu tidak mengambil upah atas usahanya dan tidak mengelak ketika dipukul. Semuanya karena yang dipandangnya adalah pentajallian ALLAH. 
Dalam hati perlahan-lahan beliau berkata… “Memang benar sesungguhnya pada sudut ini, ALLAH berada dimana-mana saja dan manusia boleh melihat ALLAH.”
“Makanya wahai Putera Raja.. inilah yang dinamakan sebagai ilmu hakikat.”
Semenjak hari itu, Raja Muzaffar terus mendampingi orang tua itu untuk belajar lebih dalam seluk-beluk ilmu hakikat hingga beliau diangkat oleh gurunya menduduki kedudukan Syeikh ilmu hakikat. 
Demi memahami ilmu-ilmu hakikat yang halus-halus Raja Muzaffar telah menjadi seorang ahli ibadah yang alim-mualim. Beliau tidak lagi berpegang dengan faham Almarhum Gurunya yaitu Syeikh Abdullah karena baginya jalan yang bisa membuat seseorang itu dapat mengenal ALLAH dengan haqqul yaqin ialah dg ilmu hakikat. 
Beliau mulai duduk didalam peraturan musyahadah dan telah menepikan duduk didalam peraturan hukum akal.
Bagi beliau, ilmu kalam yang dituntutnya selama ini adalah semata-mata salah.
Setelah Ayahandanya meninggal maka Raja Muzaffar dinobatkan menjadi Sultan dinegerinya dan sekarang beliau menyandang gelar Sultan Muzaffar Shah pada usia 50 tahun.
Beliau memerintah negerinya dengan adil dan bijaksana namun sikap ganjilnya yang dahulu masih diteruskannya. Dimana saja beliau pergi, beliau tetap akan bertanya soal yang biasanya itu.
Jika orang yang ditanya tidak dapat menjawab maka akan diajarkan jawabannya menurut ilmu hakikat dan jika orang itu membangkang akan dihukum bunuh.
Akhirnya kezaliman Sultan Muzaffar Shah ini membuat seluruh rakyat jelatanya menganut fahaman hakikat. 

Justeru itu rakyat jelata dinegerinya hidup aman dan makmur.
Suatu saat Sultan Muzaffar Shah yang terkenal sebagai Mursyid ilmu hakikat itu berjalan-jalan disebuah padang rumput yang luas dengan ditemani para pembesar istana.
Pandangannya tertarik pada gelagat seorang pemuda pengembala kambing yg kira-kira berusia 30an yang sedang berusaha menghalau seekor serigala yang mencoba memakan kambing gembalaannya.
Baginda mendatangi pemuda gembala itu. 
Kelihatan pemuda itu hanya memakai pakaian yang dibuat dari goni dan tidak mempunyai sendal sebagai alas kaki. Rambutnya kering berdebu, bibirnya kering dan badannya kurus.
“Wahai pemuda… kenapa kamu menghalau serigala yg akan memakan kambing itu, tidakkah kamu menyaksikan hakikat serigala itu ? Maka biarkan saja ALLAH bertindak menurut kemauanNya.”
Mendengar kata-kata Sultan Muzaffar Shah itu sekonyong-konyong pemuda gembala itu lantas menggenggam pasir lalu dilemparkannya pasir itu ke muka Sultan Muzaffar Shah. Kemudian pemuda gembala itu membongkok lagi untuk kedua kalinya mengambil segenggam pasir lalu dilemparkan sekali lagi ke muka Sultan Muzaffar Shah.
Sultan Muzaffar Shah hanya diam saja mungkin terkejut dengan tindakkan pemuda gembala itu. 
Pemuda gembala itu terus  mengambil segenggam pasir lagi.. melihat hal itu seorang pembesar istana yang berada disitu terus memukul pemuda gembala itu hingga jatuh pingsan.
Setelah sadar dari pingsan, pemuda gembala itu mendapatkan tangan dan lehernya telah dipasung dengan pasungan kayu didalam sebuah penjara. Tidak lama kemudian datang 2 orang pengawal istana dengan kasar merenggut rantai besi yang terikat dibadannya dan dibawa ke suatu tempat yang amat asing baginya. 
Tak lama berjalan akhirnya mereka sampai dihadapan singgahsana Sultan Muzaffar Shah.
“Mengapa kamu melempari muka Beta dengan pasir?” 

tanya Sultan Muzaffar Shah dg tenang.
“Karena Tuanku mengatakan bahwa serigala itu adalah ALLAH yakni Tuhan saya.
“Bukankah hakikat serigala itu memang begitu?” Tanya Sultan Muzaffar Shah heran.
“Nampaknya dakwaan tuanku ini menunjukkan seorang yang mengenal ALLAH adalah kebohongan semata-mata.”
“Kenapa kamu berkata begitu?”
“Sebab orang yang sudah sempurna mengenal ALLAH pasti rindu untuk bertemu menemui ALLAH.”
Setelah 30 tahun baru hari ini hati Sultan Muzaffar Shah terpesona lagi bila mendengar ungkapan ‘bertemu menemui ALLAH’ yang diucapkan oleh pemuda gembala itu.
Dahulu hatinya pernah terpesona dengan ungkapan ‘mengenal ALLAH’. 
Setelah itu Sultan Muzaffar Shah memerintahkan agar pasung kayu yang dikenakan pada pemuda gembala itu dibuka.
“Lantas apa utamanya ‘bertemu’ dibandingkan dg ‘kenal’ ?” Tanya Sultan Muzaffar Shah.
“Adakah Tuanku mengenali sifat-sifat Rasulullah?” Tanya pemuda gembala itu tiba-tiba…
“Ya… Beta kenal akan sifat-sifat Rasulullah.”
“Lantas apa keinginan Tuanku terhadap Rasulullah ?”
“Semestinyalah Beta ingin dan rindu untuk menemuinya karena baginda adalah kekasih ALLAH!”
“Nah begitulah… orang yang sempurna pengenalannya terhadap sesuatu pasti terbit rasa ingin bertemu dengan sesuatu yang telah dikenalinya itu dan bukan hanya sekedar berputar-putar didaerah ‘mengenal’ semata-mata.”
Tiba-tiba saja Sultan Muzaffar Shah berteriak kuat dengan menyebut perkataan ‘Allahu Akbaaar…!.!.!’ sekuat-kuat hatinya lalu baginda jatuh pingsan tidak sadarkan diri. 
Tidak lama kemudian setelah wajahnya disapu dengan air sejuk maka baginda kembali sadar.
Sultan Muzaffar Shah terus menangis terisak-isak hingga jubahnya dibasahi oleh air matanya. 
Baginda memuhassabah dirinya.. “Memang… memang selama ini beta mengenali ALLAH melalui ilmu hakikat tetapi tidak pernah hadir walau sekelumit rasa untuk bertemu denganNya.
Rupanya ilmu hakikat yang beta pegangi selama ini juga salah seperti ilmu bunda dan ilmu Syeikh Abdullah”… bisik hatinya.
Kemudian terlintas di fikiran Sultan Muzaffar Shah untuk menanyakan soal yg seperti biasanya kepada pemuda gembala itu.
“Kalau begitu wahai orang muda, silahkan jawab persoalan Beta ini… dimanakah ALLAH?”
Dengan tenang pemuda gembala itu menjawab… “ALLAH berada dimana Dia berada sekarang.”
“Kalau begitu, dimana ALLAH sekarang ?
“Sekarang ALLAH berada dimana Dia berada dahulu.”
“Dimana ALLAH berada dahulu dan sekarang ?”
“Dahulu dan sekarang Dia berada ditempat yang hanya Dia saja yang tahu.”
“Dimana tempat itu?”
“Didalam pengetahuan ilmu ALLAH.”
Sultan Muzaffar Shah terdiam sebentar sambil keningnya berkerut merenungkan jawaban yang diberikan pemuda gembala itu. 
Kemudian baginda meneruskan pertanyaannya lagi.
“Bolehkah manusia melihat ALLAH?”
“Kunhi ZatNya tidak bisa dicapai dengan pandangan mata kepala dan pandangan hati.”
“Silahkan perjelaskan lagi wahai anak muda.” Pinta Sultan Muzaffar Shah.
“Begini Tuanku… adapun jawaban yang diberikan oleh Bunda Tuanku itu atas dasar persoalan yang sering Tuanku berikan itu sebenarnya adalah betul menurut tahapan akal Tuanku yang ketika itu dinilai masih kanak-kanak.
Adapun jawaban yang diberikan oleh Syeikh Abdullah itu juga betul jika dinilai dari sudut hukum akal… Dan jawaban yang diberikan oleh Syeikh Tua itu juga betul jika dinilai dari sudut pengamalan musyahadah terhadap ilmu hakikat. Begitu jugalah dengan jawaban yang saya berikan juga betul jika dinilai dari sudut ilmu ma’rifat.
Tidak ada yang salah.. cuma ilmu itu bertahap-tahap dalam memahaminya dan tuanku telah melalui tahapan-tahapan itu. 
Dari tahapan jahil (ilmu bunda) ke tahapan awam (ilmu kalam) kemudian ke tahapan khusus (ilmu hakikat) dan akhir sekali ke tahap khawasul khawas (ilmu ma’rifat).”
Kemudian pemuda gembala itu terus menyambung kata-katanya… 
“Jika ilmu hakikat itu jalan fana karena menilik pada Zat ALLAH maka ilmu ma’rifat adalah jalan baqa karena menilik terus kepada Kunhi Zat ALLAH . Maka jawaban bagi persoalan tuanku itu yang dapat saya simpulkan ialah Tiada yang tahu dimana ALLAH melainkan ALLAH dan tiada siapapun yang dapat melihat ALLAH melainkan diriNYA sendiri .”
Sultan Muzaffar Shah mengangguk-anggukkan kepalanya tanda faham… 
“Jadi bagaimana jika hendak sampai ke tahap mengenal ALLAH dengan sempurna.. hingga terbit rasa ingin untuk menemuiNya?”
“Jangan mengenal ALLAH dengan akal tuanku.. sebaliknya mengenal ALLAH dengan ALLAH.”
“Kemudian, apa tata caranya untuk dapat bertemu dengan ALLAH ?”
“Sebagaimana firman ALLAH yang artinya… “Barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya maka hendaklah dia mengerjakan amalan soleh dan janganlah dia mempersekutukan Tuhannya dalam beribadat kepadanya”… dari Surah Al-Kahfi ayat ke 110.
Mendengar penjelasan dari pemuda gembala itu hati Sultan Muzaffar Shah menjadi tenang dan akhirnya baginda diterima menjadi murid si pemuda gembala itu. .
Karena kesungguhan hati yang luarbiasa dalam mengerti ilmu ma’rifat maka akhirnya baginda termahsyur sebagai seorang Sultan yang arifbillah lagi zuhud serta warak.
Kemudian rakyatnya dibiarkan bebas untuk berpegang pada faham apapun asalkan ajarannya masih didalam ruang lingkup yang mengikuti pegangan Ahlussunnah Wal Jamaah.
Dan sekarang pada usia 70 tahun barulah Sultan Muzaffar Shah sadar dan faham bahwa untuk memahami tentang ALLAH maka seseorang itu harus melalui tahapan-tahapan yang tertentu sebelum seseorang itu layak dinobatkan sebagai arifbillah . 
Baginya sama seperti ilmu kalam, ilmu hakikat atau ilmu ma’rifat maka semuanya adalah sama penting untuk dipelajari, difahami, dimengerti untuk mewujudkan kesempurnaan mencapai kedudukan insan kamil yang ma’rifatullah .
Kini Sultan Muzaffar Shah sudah memahami bagaimana rasanya rindu kepada ALLAH dan bagaimana rasanya benar-benar tidak sabar untuk bertemu ALLAH. 
Sejak semalam mulutnya tidak henti-henti asyik mengucapkan kalimah Ismu Zat Allah..Allah..Allah dan kadang-kadang terlihat deraian air mata jernih mengalir perlahan dipipinya sewaktu dipembaringan.
Perlahan-lahan pemuda gembala itu menghampiri Sultan Muzaffar Shah yang sejak 20 tahun lalu tinggal bersama dengannya dirumah usangnya, lantas meletakkan kepala muridnya itu diduduk silanya dengan linangan air mata. 
Kini nafasnya mulai tersekat-sekat dan melihat hal itu, pemuda gembala itu merapatkan bibirnya ke telinga Sultan Muzaffar Shah kemudian mentalqinkan baginda dengan kalimah tauhid seraya diikuti baginda dengan senyuman. 
Kemudian Sultan Muzaffar Shah menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Suasana menjadi hening… pemuda gembala menunduk saja dan sebentar kemudian dia berkata. “Alangkah beruntungnya dia.. sekarang Tuanku benar-benar telah menemui ALLAH dan dapat mengenalNya dengan sebenar-benarnya kenal. 
“Ya… ALLAH masih belum layakkah untuk aku bertemu denganMu, aku mencemburui Sultan Muzaffar Shah ini maka jemputlah aku menghadapMu…”
Sebentar kemudian pemuda gembala itu pun turut rebah dan menghembuskan nafasnya yang terakhir…
Tiba-tiba hujan pun turun seolah-olah menangisi kepergian 2 insan yang mulia akhlaknya itu.
– TAMAT –

Iklan