Uraian di buku ini tentunya tidak sempurna jika tidak membicarkan tentang mati. (Seperti apa kejadiannya dan buktinya)
Setelah kematian..
kemanakah Roh itu pergi ?
dan selanjutnya akan mengalami kejadian seperti apa ? 
Serta bagaimanakah rasanya mati itu ?
Al Qur’an. XXXIX, 42 Surat Az-Zumar :
Allahi yatawaffa alanfusahina mautiha wa allati lam tamut fimanamiha fayumsiku allati qadla ‘alaiha almauta wa jursilu alukhra ila ajalin mussaman inna fadzlika laayatin liqaumin yatafakaruna. 
Tafsirnya kurang lebih sbb : 
Allahlah mengambil nyawa diri ketika diri itu Mati, dan mengambil nyawa diri yang belum mati, ketika Tidur. Dia menahan nyawa diri yang sudah mati, dan mengembalikan nyawa diri yang tidur itu, pada waktu yang sudah didtentukan. Itulah tanda-tanda kekuasaan Tuhan bagi orang-orang yang berfikir.
Al Qur’an III 143 Surat Ali Imran :
“Sesungguhnya kamu sudah mengetahui akan mati, sebelum matinya. Sesungguhnya kamu sudah mengetahui jika kamu memperhatikannya.
Haditz Buchari (42) : Sabda Nabi Muhammad saw. tentang Qiyamat.
“Tanda-tanda Qiyamat itu, jika sudah ada budak perempuan yang melahirkan Tuannya. Dan jika sudah ada penggembala Unta sudah bisa menjadi Raja dan menguasai kerajaan yang indah-indah.
Agar biji bisa tumbuh itu, dikarenkan tertanam di tanah serta mendapatkan zat-zat yang dibutuhkannya, dan jika tidak masih mempunyai daya hidup, tentu tidak akan tumbuh. 
Sehingga hakekat hidup itu, tidak hanya menempel saja atas ujud yang bergerak-gerak saja, walau pun di dalam sesuatu (yang tidak bergerak dan berpikir) itu pun juga ada. 
Sedangkan Daya hidup yang menguasainya tersebut (Untuk bisa tumbuh berkembang dan bisa bergerak) itu bernama : Sifat Qiyamuhu binafsihi. 
Sehingga tanda hidup menurut ukuran yang terlihat itu, menurut pandangan umum adalah : “Yang bisa bergerak-gerak itulah hidup”. 
Hal itu sebenarnya hanya kurang dalam dalam cara memahaminya saja.
Apakah ada mahluk yang hidup di wilayah yang sangat panas atau sangat dingin ? ADA, 
seperti yang diuraikan di bawah ini :
Mahluk-mahluk Baksil yang bernama : Titanus dan Coloxtof itu jika dibakar api yang panasnya hanya 600 derajat Celcius itu, tetap masih bisa hidup. 
Karena atas Kodrat Tuhan, baksil dua jenis itu jika terkena api maka akan berubah warnanya seolah memiliki tameng seperti sisik yang sangat keras sekali, yang bisa menahan panasnya api yang sangat tinggi. 
Dan jika panasnya sudah menghilang, maka baksil-baksil tersebut akan hidup lagi seperti semula.
Di angkasa di wilayah yang tingginya kurang lebih 8 hingga 9 Km dari permukaan bumi, disebut stratosfeer, dan hawa dinginnya kurang lebih 78 derajat Celcius di bawah nol, dan menurut para penerbang Angkatan Udara Ingris di sekitar tahun 1938, berada di wilayah tersebut dengan menaiki pesawat terbang, dan ada mahluk Tuhan yang hidup bergerombol. 
Jika orang biasa tanpa menggunakan pakaian khusus di hawa dingin, maka seketika itu raga akan bisa membatu.
Mahluk yang hidup dengan cara bergerombol tersebut adalah sejenis semut yang mempunyai sayap, tanpa mempunyai tempat untuk hinggap , tanpa ada hawa panas dan tidak makan apa-apa ….. dikatakan sebagai mahluk hidup, di karenakan bisa bergerak-gerak. 
Allah itu Maha Mengetahui dan Maha Kuasa.
Sehingga sebenarnya daya hidup itu dan kekalnya itu ternyata menguasai seluruh keadaan (Tidak terpisah dari sifat). 
Untuk berlatih bagi tingkatan akal (Thariqat Akal), kesemuanya itu harus dipelajari dengan berdasarkan pemahaman yang bisa menjangkaunya.

ooOOoo

Sekarang, bagaimanakah hakekatnya hidup di wilayah alam kubur alam ghaib dan alam yang tidak bisa diukur menggunakan penglihatan (Pancaindera), atau tidak bisa di-indera.
Semua alam itu mempunyai sifat dan keadaan sendiri-sendiri, serta tergantung kepada siapa yang menempatinya, artinya :
1, Alam yang terlihat mata, yang menghuninya juga bisa terlihat mata
2, Alam ghaib, ditempati oleh makhuk ghaib.
3, Alam yang tidak tidak bisa terlihat mata, ditempati oleh yang juga tidak bisa dilihat oleh mata.
Bagi jisim-jisim (bentuk/raga) yang menempati di tempat tersebut, ukurannya (Tingginya, lebarnya dan sebagainya) kesemuanya itu bisa diamati menggunakan alat (Sarana), yang dihasilkan oleh manusia itu sendiri (peralatan ghaib). 
Oleh karena Dzat Tuhan itu menguasai segala sesuatu, sehingga alam-alam tersebut juga terpengaruh oleh Sifat-sifat Tuhan, dan juga tergantung dari sifat hidup bagi yang merasakan :
● Alam Dunia : 

sifat 20, yang semuanya diborong oleh manusia
● Alam dunia di wilayah Samudra : Mahluk-mahluk Tuhan hanya mengambil salah satu dari sifat 20.
● Alam Ghaib : 

mahlluk-mahluk Tuhan yang menempatinya hanya mempunyai salah satu Sifat Tuhan, yang sebagian besarnya ada Sifat HIDUPNYA.
Sebelum menjelaskan tentang mati dsb, ada baiknya terlebih dahulu memikirkan tentang tanda bukti MAHA KUASANYA TUHAN. 
Di dalam Al-Qur’an, Surat Asyura ayat 54, disebutkan penafsirannya sbb :
“Ketahuilah mereka ragu-ragu, ketika akan berjumpa dengan-Ku (Allah), ketahuilah bahwa Allah itu Maha Mengetahui. 
(Pahami terlebih dahulu sifat 20 ya..).
Di dalam Majalah Jayabaya pernah dimuat sebagai contoh tentang kejadian-kejadian, sbb :
Di Universitas Ohio (AS) jurusan Fisika, ada seorang sarjana yang sedang mengadakan pnyeleidikan tentang Pantai. 

Di pantai tersebut diceritakan bahwa banyak bentengnya yang berupa tebing karang, yang berdasarkan penyelidikan menggunakan “spectraal-analyse” umurnya sudah mencapai 1,5 Juta tahun. 

Peneliti tersebut tidak hanya meneliti dengan menyentuhnya atau mengukurnya saja, serta juga dengan cara menggali dan memecah-mecah batu karang tersebut.
Dengan tidak diperkirakan sebelumnya, di dalam sela-sela batu kerang tersebut ditemukan sebuah benda bebentuk oval yang menempel di saluran yang berliku-liku bagaikan aliran sungai, yang bisa bergerak-gerak dan merayap. 
Yang intinya, bahwa sesuatu itu yang sudah terpendam selama 1,5 juta tahun, masih bisa bergerak, dan masih hidup. 
Allah itu Maha Mengetahui dan Maha Kuasa.
Ada contoh yang lebih mudah, yaitu sebutir biji padi. 
Menurut hasil penelitian Ahli Kebun Raya di Washington (AS), biji padi tersebut tidak akan bisa mati, walau pun tersimpan di dalam tembok hingga 300 tahun lamanya, asalkan tidak rusak kulitnya.
QS. XXXIX, Surat Az-Zumar, ada kalimat yang ditafsirkan sbb :
“Mengembalikan Nyawa yang tidur itu di waktu yang sudah ditentukan” 
Uraian di dalam Ayat tersebut, ada hubungannya dengan MATI.
Tidur itu adalah perbuatan badan yang dikarenakan mengantuk dan kecapaian, dan semua pancainderanya menjadi diam. 
AKANTETAPI  tanda atau ibaratnya itu dikodratkan melalui Rasa MENGANTUK, dan hal itu bukan hanya bagi manusia saja, serta hewan pun seperti itu juga sifatnya. 
Sedangkan “Mengembalikan” itu, yang jelas bukan atas kehendak diri sendiri, akan tetapi itu adalah KODRAT TUHAN, Kata kasarnya itu berjalan dengan sendirinya (otomatis). Tanda yang sangat mengherankan itu, ketika terasa mengantuk itu tidak bisa ditawar dan tidak bisa direncanakan 
(Lihat sifat 20 : Qiyamuhu  bi nafsihi). 
 Demikian juga ketika “Terbangun”  di dunia mana pun tidak ada perjanjiannya terlebih dahulu.
Jika benar-benar di pikir dan ditelaah, Bangun dari tidur itu adalah termasuk syarat hidup. 
Karena : Tidur pun ditidurkan, bangun pun dibangunkan. Manusia itu tidak bisa menguasai apa-apa atas kodrat badannya, karena semuanya itu adalah dari Tuhan. 
Siapakah yang menidurkan (membuat tertidur) seorang bayi, dan siapakah yang melahirkan bayi ? 
Apakah Ibunya atau kah orang lain? 
Jawabannya adalah : TIDAK TAHU.
Di dalam Ayat Suci tersebut di atas, sudah dikatakan bahwa sudah ditetapkan, terjadinya itu bukan karena disengaja. 
Lebih jelasnya adalah : Sifat BERDIRI SENDIRI, itu juga menguasai seluruh badan, ketika tidur, ketika bangun dan ketika melakukan kegiatan dsb
Oleh karena tidur itu adalah pekerjaan yang sudah jelas, lama dan tidaknya adalah tergantung yang mengalaminya sendiri ketika tidur. 
Menurut penelitian, semua perlengkapan badan, badan halusnya raga (Pikiran-pikiran) itu akan diam sedikit-demi sedikit, demikian juga ikatan rasanya. Oleh karena terlalu lelapnya, semua suara-suara, bunyi-bunyian, dan kejadian-kejadian dan lain-lainnya, tetap tidak akan mengganggu terhadap yang sedang tidur.
Oleh karena mata, telinga, hidung, lidah, kulit, kesemuanya terdiam (tidak berfungsi), sehingga dalam keadaan tidur itu sebenarnya sangat membahayakan. 
Letak bahayanya adalah dikarenakan tidur itu berada pada keadaan tidak mengerti dan tidak bisa menanggulangi apa-apa, jika mendapatkan gangguan. 
Akan tetapi tidur itu adalah sifat dari hidup, maka tidak perlu merasa kuatir, karena kesemuanya itu berada di TANGAN TUHAN sendiri.

ooOOoo

● Apakah mati itu sama saja dengan tidur..?
Walau pun tertidur sangat lelapnya, itu masih ada sebagian PERASAAN (rasa) yang tetap berjalan, yaitu RASA INGAT atau RASA JATI, yang mendapat pengaruh dari salah satu Sifat TUHAN, nomor 9 dan nomor 12 : Ilmu dan Bashar, Maha mengetahui dan Maha melihat.
Sehingga, walau pun  manusia itu sedang tertidur, akan tetapi RASA JATI tetap berfungsi serta masih melihat sesuatu, yang kadang sebagain-nya itu disebut MIMPI. 
Akan tetapi RAJA SATI (Yang sebenarnya Rasa) itu, sebenarnya tidak bisa berbuat dengan sendirinya tanpa adanya sifat Berdiri dengan sendiri” (Qiyamu bi nafsihi). Sehingga semua mahluk hidup itu tentu mempunyai sifat Berdiri Dengan Sendiri, karena hal itu ada sebagi bukti  : “HIDUP”.
Mati itu, Rohnya di tahan, tidak dikembalikan, sedangkan tidur, Rohnya di tahan sementara kemudian dikembalikan lagi  
Bisa disimpulkan : TIDUR itu gambaran MATI. 
Jika di renungkan : TIDUR dan MATI itu adalah dalam keadaan yang sama (Lihat QS. Az-Zumar :42). 
Di dalam Ayat  bagian akhir disebutkan  : Bagi orang yang mau berpikir. 
Intinya : Memberi kebebasan kepada manusisa. 
Tafsir dari ayat QS.XXXIX : 42, itu bukan untuk orang yang tidak mau mempergunakan akalnya, akan tetapi untuk orang yang mau mempergunakan Daya nalar pikirannya
artinya : Sebutan MATI dan TIDUR itu hanya beda keadaannya (beda alam saja).
Sebenarnya KITAB_KITAB SUCI itu adalah untuk manusia yang masih hidup di dunia, bukan untuk orang yang sudah meninggal dunia. 
Sehingga semua isinya yang terkandung di dalamnya bisa dibuktikan ketika masih hidup di dunia, 
contohnya : Kata-kata sebutan Akherat, Kubur, Surga, Neraka, Luh mahfuds, Ghiab dsb yang masih banyak lagi. 
Itu semua bisa dipahami jika mempunyai pengetahuan  dan mempunyai ilmunya.
Mengambil makna ayat 143 Ali-“imran dan Az-Zumar 42 itu, sangat jelas dan terang, bahwa di dalam Mati dan Tidur itu sebenarnya adalah sama dan dalam setiap harinya selalu mengalaminya, dan Dirasakan susasanya
Penjelasannya adalah sbb :
● MATI, itu akan dialami oleh segala wujud yang mempunyai ROH, 
yang semula Roh itu hinggap (bertempat) kemudian meninggalkan sejenak, dikarenakan sesuatu hal. 
Oleh karena Roh itu hidup kekal, sehingga yang disebut dengan mati itu sebenarnya TEMPATNYA (yang sebelumnya  ketempatan Roh). 
Jika dikatakan dengan sebenarnya, bahwa MATI itu adalah suatu keadaan (kejadian) ketika ROH meninggalkan wadahnya/tempatnya. 
Sehingga sama saja dengan kata sebagai tanda atau sebutan-sebutan atas keadaan ketika telah ditinggalkan oleh NYAWA.
Sehingga mati itu sebenarnya adalah Suatu suasana MATI, akan tetapi yang menempatinya (yaitu Roh), keadaannya adalah tetap, dan tetap hidup. 
Maka di alam selanjutnya akan mengalami ha-hal baru lagi, yaitu cerita kehidupan Roh setelah meninggalkan Raganya.
Sedangkan cerita kehidupan itu, akan dialami juga di alam Roh, akan tetapi keadaannya adalah tetap hidup, yang disebut berada di alam penantian (kubur, Quburan, Bardzahum). 
Enak tidak tidak enaknya, akan di jelaskan di belakang.

● TIDUR : itu dilakukan setiap hari, yaitu yang dilakukan di alam Roh, itulah yang disebut alam peralihan (Alam Kubur). 
Oleh karena tidur itu tidak mati, karena Roh akan dikembalikan lagi dalam waktu yang sudah ditetapkan oleh Allah, sehingga masih tetap hidup, 
artinya : Yang berubah adalah hanya alamnya saja.
Ketika berada di alam sadar itu merasakan dan berusaha dan sebagainya, sedangkan keadaan tidak bisa apa-apa (sama dengan mati), karena peralatan-peralatan badan (Pancaindera, astendriya, dan pikiran) dari semuanya itu sebagian tidak berfungsi semestinya. 
Keterangan-keterangan diatas itu, bisa di renungkan, yang mana yang berbeda  dan yang mana yang sama keadaannya.
Jika hal itu disamakan dengan Samadhi : Samadhi itu disengaja untuk menghentikan gerak astendriya, sedangkan tidur itu, adalah tenangnya astendriya sedangkan Mati itu adalah berhentinya gerak astendriya.
Bahaya dari samadhi adalah ketika tidak bisa bangun lagi, demikian juga halnya dengan bahanya tidur. 
Sehingga jika demikian, maka keadaan mati itu  TIDAK BANGUN, akan tetapi ROH tetap kekal dalam bertindak.
Berhentinya astenriya ketika tidur itu, adalah tindakan atas kehendak diri sendiri, sehingga kadang ada kejadian mengigau, ketindihan dsb, hal itu disebabkan : Rasa Jati masih terhubung dengan astendriya. 
Oleh karena hal itu semua maka, MATI, TIDUR dan SAMADHI, walau pun semua alat terdiam, akan tetapi ada yang masih bergerak, yaitu RASAJATI (Rasa Ingat). 
Untuk lebih jelasnya : Bergerak-nya dari Rasajati itu jika astendriya sudah tidak bergerak, yaitu dalam keadaan MATI, TIDUR dan SAMADHI
MATI itu terjadinya MELEWATI RASA 
🚨INGAT..

akan tetapi TIDUR melewati RASA LUPA. 
Penyebabnya adalah : Mati itu tiba-tiba terjadi, sedangkan TIDUR itu dari sedikit-demi sedikit…barulah Lepas..!!. 
Di dalam keadaan mati, rasajati pun, berhenti tiba-tiba dan seketika Bergerak sendiri” dan tidak ada yang menghalang-halangi atau yang menghambatnya, karena astendriya itu sudah rusak. 
Sebaliknya dengan keadaan tidur itu, rasajati kadang-kadang masih tersambung dengan astendriya, itu jika tidak boleh disebut dengan bermimpi. 
Sehingga MATI itu adalah mati yang berlangsung terus menerus.
Seperti itulah perbedaaan antara MATI dan TIDUR. 
Bisa direnungkan dengan menggunakan pikiran dan perasaan, karena hal itu semua ada tafsir dan memaknai atas Dalil Allah.

ooOOOoo

Pengalaman di dalam Mimpi.
Setelah pengalaman-pengalaman tentang mimpi di uraikan, pengalaman Roh serta rahasia di dalam Kubur itu bisa ditebak.
Qur’an dan Kitab-Kitab Suci itu adalah disediakan hanya untuk manusia yang masih hidup di alam dunia ini. Sehingga bukti dan kenyataannya juga bisa didapat di dunia ini yang bisa dibuktikan ketika manusia masih hidup.
● TIDUR itu adalah : Diamnya Pancaindera dan Astendriya yang melewati alam tidak merasa apa-apa. 
Pengaruhnya adalah sering tidak merasa namun kadang-kadang masing” bisa merasa. 
Yang intinya adalah melewati TIDAK MERASA. 
Jika hal itu dilakukan oleh ahli Samadhi, maka sama dengan masuk pada alam Hakekat Ma’rifat.
Ketika sedang tidur tidak merasanya berlangsung terus menerus selama tidurnya, maka akibat yang ditimbulkannya adalah sama sekali tidak bermimpi, karena terus menerus berada di alam “Entah”, alam yang tidak merasa apa-apa, tidak mengetahui apa-apa, bagaikan ketika pertama terlahir ke dunia ini, yang tidak ingat apa-apa. 
Alam yang tidak terbayangkan..!!
Ketika berada di Wilayah tidak merasa apa-apa, itu sebenarnya masuk ke alam penyatuan (Menyatu). Oleh karena sedang tidur, sehingga baru terasa ketika terbangun dari tidurnya/Bangun, yang terasa sangat cepat sekali, ketika 3 atau 9 jam, terasa bagaikan hanya 3 detik saja. TIDAK MERASA APA-APA.
Sedangkan bagi yang mengalami alam mimpi, setelah mengalami (melewati) waktu tidak merasa, kemudian mengalami bayangan-bayangan atau gambaran-gambaran yang sebagian besarnya adalah sudah pernah dialaminya, atau setelahnya. 
Seumpama, ketika siang tadi bermain-main dengan api, ketika tidur kemudian bermimpi terkena api, dan sebagainya.
Sehingga sangat jelas, bahwa gerak dari Rasa Jati atau rasa ingat itu sangat Indah. 
Penjelasannya adalah : 
● Rasa Jati itu bisa MEMBERI BEKAS kepada rasa perasaan, yang berguna untuk menyimpan semua pengalaman-pengalaman yang terang di alam nyata dan juga yang tidak terang (di dalam batin dan angan-angan) yang disebut bekas jejak Tri Indriya (Keinginan, Nafsu dan hasrat), alat yang menyebabkan rasa senang, susah, menyesal, takut, dan ribuan rasa yang lainnya.
Ketika dalam keadaan terjaga, manusia itu dikuasi oleh rasa dari rasa badan yang melalui Pancaindera : Pedas, asin, sakit, capek, pegal, panas dsb. 
Semua rasa tersebut ketika dihalang-halngi oleh Tidur, maka akan hilang semua, karena Pancaindera (astendriya) sedang diam. 
Ketika itu, rasa yang manakah yang masih ada ?
Dalam hidup bermasayarakt itu tidak akan bisa terlepas dari bermacam-macam perasaan. 
Sedangkan yang terpenting adalah  PIKIRANNYA, yaitu TRI INDRIYA itu tadi. 
Hal itu sebenarnya adalah merupakan Pakian dari yang disebut Hidup ! 
Semua yang meninggalkan bekas itu, jika saja Astendriya diam (tidur) maka akan muncul (disebut dengan bermimpi).
Yang dirasa ketika sedang dalam keadaan bermimpi itu bagaikan benar-benar nyata, puas, senang, gembira dsb, itu semua seperti terjadi di alam ketika terjaga, akan tetapi sebenarnya itu, tidak terasa apa-apa, karena pancaindera/astendriya. TALI RASA sedang diam, tidak aktif. 
Demikian juga seseorang yang disuntik  obat bius. Sedangkan lama dan tidaknya itu tergantung dari lama/ atau tidaknya DIAMNYA alat-alat itu.
Kejadian didalam mimpi sering mengalami : Takut, susah, takut, dan sebagainya, kitu semua sangat membekas di perasaan walau pun sudah terbangun (membuka mata/duduk). 
Bayangan yang menyebabkan rasa takut, jika umpamanya seperti itu. Berimpi dikejar anjing, dalam perasaannya sudah melarikin dengan sangat cepatnya, akan berteriak untuk meminta tolong, namun tidak ada orang, walau pun ada, itu pun hanya melihat saja, atau bahkan ikut berlari. 
Contoh lainnya yang mirip dengan peristiwa itu, masih sangat banyak.

Tentunya, hampir semua orang pernah bermimpi yang mirip kejadian tersebut di atas, dan semua rasa itu yang merasakannya adalah yang mengalami mimpi itu sendiri, orang lain (anak, istri dan lainnya) tidak akan ikut merasakan karena berbeda kurungannya.
Hilangnya semua rasa dalam mimpi itu, jika yang mengalami mimpi sudah terbangun dari tidurnya, yang tertinggal hanyalah sedikit ingatan-ingatan, hal karena memang memberi bekas. 
Terbangun dari mimpi yang baik/buruk itu, penyebabnya ada 2 macam :
1. Sudah waktunya terbangun dari yang sudah ditetapkan.
2. Ketika sedang bermimpi, Rasajati bisa berhubungan dengan astendriya, sepertinya kemudian membangunkannya agar terbangun.
Ketika kebetulan sedang bermimpi, sedangkan rasajati roh dll, tidak bisa terhubung dengan Pancaindera (Raga), bagaimanakah kejadiannya ? 
Jawabannya : Akan tetap mengalami kejadian-kejadian mimpi-mimpi yang sangat menakutkan itu, yang dirasakan oleh Rasajati diri masing-masing dan akan tetap demikian, karena tidak terbangun lagi. Sehingga, akibatnya adalah orang itu tidak akan bisa menghilangkan rasa ketakutannya itu.
Sekarang, bagaimanakan rasanya di alam kubur ? 
Apakah rasa jati akan tetap, tidak berubah dalam perbuatannya seperti yang terjadi di alam mimpi itu ? 
Penjelasan tentang perasaan di alam mimpi itu adalah : Walau pun TIDAK TERASA APA_APA KETIKA TIDUR, akan tetapi manusia itu tidak akan terlepas dari rasa perasaan senang, susah, tenang, tenteram, sedih, takut, kuatir, kecewa dsb, yaitu sebagai bekas dari memori  yang tersimpan dari rasa Pancaindera.
Jika mau merenungkan dengan sungguh-sungguh atas contoh-contoh di atas, maka akan bisa berpikir sendiri atas “RASA” yang belum pernah di alami, yaitu rasa di dalam kubur, serta bisa menelaah terhadap kematian tetangganya, apakah masih ada hubungan apa tidak dengan anak istri yang ditinggalkannya..??
Apakah di alam kubur nantinya akan bisa berkumpul kembali dengan Istrinya yang juga menyusulnya karena meninggal dunia ? 
Apakah di alam kubur akan bisa bermusyawarah tentang ilmu ? 
Apakah bisa meminta batuan kepada teman ? 
Itu semua akan diuraikan di bawah; berdasar Dalil, Hadits, Kiyas, Ijmak. 
Jika ada yang kurang tepat, itu sangat masuk akal, karena hal ini hanyalah pengetahuan,  nyata kebenarannya tahu pun tidak harus di alami sendiri.
● Pengalaman tentang Mati ( Di Alam Kubur).
Karena Dzat itu menguasai dan mempunyai sifat-sifat hidup dan kekal, sehingga di semua tempat dan di semua keadaan, pasti mendapat pengaruhnya, walau pun itu adalah alam Kubur sekalipun. 
Sehingga ukuran kekal itu, yang dikatakan oleh manusia di dunia ini bisa juga dikarenakan mengambil dasari dari “Hidup” , yang bagi Ukuran Tuhan itu ternyata adalah TETAP Adanya, walau pun tidak bisa di rasakan oleh manusia yang masih hidup.
Warna kuning atau merah yang ada di sekuntum bunga itu akan hilang ketika bunga itu layu. 
Kemanakah perginya warna itu ? 
Bunga-bunga itu itu bisa mempunyai warna  adalah sebagai wadah warna dari warna aslinya, yang sifatnya tidak bisa diketahui.
Di angkasa itu banyak awan, bintang-bintang, dan keadaan-keadaan yang di atas bumi itu tidak ada. 
Yang mengherankan lagi itu saat terjadi pelangi dengan tujuh warnanya sehingga sangat indahnya. 
Setelah menghilang, kemanakah perginya warna-warna tersebut ? 
(Kita juga bisa membuat pelangi). 
Dan dari manakah warna itu berasal..?
Dan jawabannya bisa membuat kebingungan. 
Menurut ilmu akal pikiran, itu semua berasal dari sinar bintang, atau bisa juga berasal dari ether 
(Gelombang yang memenuhi jagad raya). 
Pertanyaan darimanakah asalnya  warna yang dimiliki bintang, jika memang berasal dari bintang ? 
Kesimpulan akal, akan mengalami kebuntuan.
Semua uraian di atas itu hanya sekedar contoh dan sudah nyata bahwa Dunia ini hanya sebatas menerima hakekat dari Dzat. Dan juga hakekat hidup manusia itu hanya sebatas menerima saja, terjadinya warna bunga itu hanya sebatas menerima warna merah dsb, demikian juga di alam kubur, di langit, di mana saja yang bernama hidup (Sifat Hidup), itu tetap adanya.
Sekarang menjawab tentang pengalaman mati di dalam alam kuburnya masing-masing, 
seperti  tafsir dalil Qur’an, QS.102, Surat Al-Haji :
Mereka tidak bisa mendengar bunyinya, sedangkan mereka tetap merasakan apa-apa yang dicintai oleh nafsunya.
QS.10 – 11 Surat Al-Ma’arij 
Ketika waktu itu tidak ada saling tanya jawab (tolong-menolong, saling memberi dan menerima) kepada siapa saja. Mereka saling pandang memandang; yang merasa berdosa hanya berharap saja; agar di hari itu bisa menebus dirinya serta anak-anaknya.

Sudah sangat jelas makna ayat Suci ini. 
Di depan sudah dijelasskan, bagaimanakah keadaanya ketika di alam mimpi. Seperti apa saja yang dialami ketika bermimpi itu bisa ditebus, jika yang sedang bermimpi itu bangun dari mimpinya.
Sekarang bagaimanakah pengalaman-pengalaman di alam kematian ? 
Uraian ini hanyalah perkiraan saja adalah mirip dengan makna dari Ayat Suci dan hanya berdasarkan analisa atau pendapat saja, karena sama-sama belum pernah mengalami kematian..he..he..hee
Ketika terbujur menjadi bangkai, Roh yang meninggalkannya itu masih tetap hidup, karena masih mendapatkan pengaruh dari Sifat Hidup, dan juga masih membawa Rasa Ingat (Rasa Jati). 
Oleh karena Sifat Hidup dan juga sifat-sifat yangn lainnya  masih tetap ada, sehingga perjalanan Roh juga mengikuti dari yang bernama :
Sifat yang manakah yang tidak ikut  mengembara di alam kubur ?
Yang ikut mengembara, itu adalah :

Sifat Nomor 5 : Qiyamu bi nafsihi.

Sifat Nomor 10 : Hayyat.

Sifat Nomor 12 : Bashar
Terbungkus oleh : RASA JATI dari masing-masing diri ini. 
Sedangkan sifat-sifat yang lainnya, walau pun terbawa, akan tetapi tidak bisa berfungsi.
Tidur itu melewati LUPA, akan tetapi kematian itu melewati INGAT (tiba-tiba menyala terang bagaikan melihat gambar hidup), karena sifat MELIHAT itu berfungsi, yaitu yang menempel di RASA JATI.
Perbedaan dengan di alam sadar adalah bhw Rasajati itu tidak aktif, dan tidak bisa melepasskan diri dari kungkungan Astendriya. 
Setelah kematiannya, maka akan terlepas dari kungkungan Astendriya (Panca indera, cerita hidup dan Hijab), sehingga otomatis berfungsi tanpa ada penghalang yang menutupinya, bebas tanpa batas.
Perjalanan (keadaan) ROH yang sudah meninggalkan raga itu sama saja  dengan keadaan di alam Tidur, alam Samadhi (Yoga). Raga akan menjadi rusak, dan sebagian pancaindera ikut rusak juga, sehingga Roh sudah tidak bisa berhubungan kembali dengan raganya..!
Ketika sedang di alam mimpi, contoh sedang mengalami mimpi yang menakutkan dsb, itu bisa terbebas jika terbangun, sedangkan jika mati maka yang dialami oleh ROH itu akan tetap berjalan dan berfungsi selamanya merasakan pengalaman-pengalaman di alam kubur dan tidak akan bisa terbangun untuk menggerakkan raganya. 
Untuk lebih jelasnya adalah sbb :
Setelah Roh meninggalkan raga, maka kemudian akan merasakan data yang tersimpan di Memory Tiga Indra (Cipta, rasa dan karsa) ketika masih aktif selama hidup di dunia (Ketika hidupnya). 
Jika ketika hidupnya itu serakah, mengumbar hawa nafsu dan sebagainya (lihat lagi tentang mati QS. 102 Al-Haji), maka pengalaman-pengalaman ROH akan tetap merasakan bekas dari nafsunya. Meskipuan jika ada musik yang keras pun, tetap tidak akan bisa mendengarnya (Tidak memiliki telinga), di pukuli itu pun tidak akan bisa merasakan, karena sudah tidak memiliki indera perasa, ketika andaikan merasa tertabrak mobil, itu hanya rasa ketakutan dan rasa kuatir yang akan tetap ada ! 
Seperti apakah selanjutnya yang akan dialami oleh ROH ?
(1). Seumpama ketika masih hidup di dunia itu bertindak jahat, mencuri, membunuh, maka ROH kemudian akan merasakan penyesalan.. 
Di dunia akan mengalami rasa menyesal, maka ketika berada di alam kubur rasa penyesalan itu tetap berjalan, dan tidak bisa bisa dihilangkan meski menggunakan sarana apa saja. 
Wallahu’alam hanya kehendak Tuhan yang bisa melepaskan yang dialami rasa itu ! 

(2). Dari dorongan keinginan diri serta hawa nafsu ketika hidupnya di dunia, setelah ROH meninggalkan raganya, maka kemudian akan bisa melihat dengan jelas apa-apa yang menjadi keinginannya ketika masih hidup
itu dikarenakan ketika ROH memasuki alam kubur, maka Memory yang tersimpan di dalam Inderanya yang disebabkan dorongan hawa nafsunya serta keinginan dirinya menjadi aktif berjalan dengan sendirinya.
Lama waktunya MENGALAMI RASA TIDAK ENAK ITU hanya Yang Maha Kuasa yang mengetahui-Nya.
 Uraian di atas, itulah rasa di dalam SIKSA KUBUR, yang mungkin disebut sebagai Neraka ! 
Sehingga semua rasa itu adalah berasal dari akibat yang dikarenakan berasal dari perbuatannya sendiri ! 
Bagaimanakah untuk bisa menghindar ketika mengalami  hal seperti itu! ? 
Jawabnnya adalah tetap tidak akan bisa : karena sudah tidak memiliki AKAL /DAN PIKIRAN.
Kesemuanya itu, seperti adalah tuntutan RASAJATI kepada pemiliknya. 
Sedangkan tafsir dari Ayat Al-Ma’arij 10 – 11 di atas itu adalah memberi peringatan, bahwa ketika mengalami siksa kubur itu sebenarnya tidak akan ada yang menjenguknya, tidak akan ada yang akan memberikan pertolongan dan menebusnya.
Di alam kubur itulah bisa MELIHAT akan tetapi tidak bisa MEMINTA, dan sering mengalami akibat dari rasa pengalaman ketika masih hidupnya di dunia, akan tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa, yang bisa hanyalah merasakan keinginan, serakah, menyesal dan sebagainya……. dan berlangsung tetap selama-lamanya !.
Kemudian mengingat-ingat kejadian yang sudah-sudah, itu justru semakin menambah berat yang dirasakannya. 
RASA SADAR (Rasa ingat) yang sudah tidak ada penghalangnya yang berupa Pancaindera (Raga) itu, aktif berjalannya adalah terus menerus dan semakin bertambah dan tanpa henti, karena hanya sebatas mengelarkan atas Memori yang tersimpan dikarenan bekas perbuatan Pancaindera yang dulu dikuasi dan dipergunakannya.
 Sedangkan peristiwa-peristiwa yang dialami itu untuk bisa berganti adalah setelah berganti kisahnya jika saja  Rasajati (rasa ingat ) itu setelah berganti dalam berbuatnya ! 
Setelah hilangnya rasa merana, kemudian rasajati sekejap saja kemudian menggeluarkan rasa sedih, hilang rasa sedih berganti menjadi rasa takut, semikianlah seterusnya bagaikan perputaran jamrum jam. 
Detik pertama masuk ke detik ke dua dan selanjutnya hingga detik ke dua belas, dan kembali ke detik pertama ……………. ! 
Akan tetapi walau pun berganti rasa, namun kesemuanya itu masih dalam lingkungan rasa peristiwa yang tidak pernah terputus.
Dan ternyata bahwa Roh siapa saja, tetap akan melewati alam kuburnya masing-masing. 
Yaitu yang dialaminya  dan dirasakannya itu akan dialami ketika Roh masih melayang dan berada di alam kubur ! 
Karena jika tidak melayang dan mengembara itu berarti sudah mendapatkan tempat untuk hinggap, mendapat tempat atau tempatnya untuk berisitirahat ! 
KE MANAKAH PERJALANAN ROH selanjutnya ?
Oleh karena urian hal tersebut  sangat panjang dan berhubungan dengan hal-hal yang ghaib (Tidak berujud), akan tetapi bisa dibuktikan), dan kenyataannya atas semuanya itu akan bisa dimengerti adalah dengan menggunakan rasa dan dibuktikan dengan contoh-contoh kisah-kisahnya.
Di dalam Kitab Serat Wirid Hidayat Jati, ada uraian sebagai berikut : (Halaman pertama di bait terakhir) 
“Aburing eroh punika baboning dumadi. 
(Terbangnya Roh itu adalah sebagai sumber segala yang ada). 
Hal itu ada benarnya, karena Hidayat Jati adalah sumber dari Kitab.
Kata “Terbangnya Roh”  mengapa justru menjadi “Induk dari segala yang ada”.? 
Untuk lebih jelasnya atas hal tersebut; bahwa semua yang mati itu maka  Roh-nya pasti terbang melayang melewati alam peralihannya (yaitu alam kubur). 
Artinya, Setelah melewati hidupnya di dunia kemudian hidup di alam antara, yaitu hidup di wilayah alam kubur “Untuk hidup lagi dalam kehidupan selanjutnya” yaitu hidup lagi di dunia dengan menggunakan Badan Kasar (Menjelma). 
Sehingga bahwa menjelma itu harus melewati alam kubur  (Bardzah). 
Dan untuk lebih jelasnya adalah urian berkut ini 

Saya baru saja berada di Rumah depan. Rumah depan itulah “Alam saya” ketika itu. 
Jika saya akan pergi menuju Rumah bagian belakang , maka saya harus melewati rumah bagian tengah. 
Rumah bagian tengah itulah yang disebut alam peralihan bagi saya. 
Setelah melewati rumah bagian tengah, kemudian saya pergi menuju halaman belakang yang keadaannya hampir sama dengan halaman depan.
Sehingga yang disebut memasuki wilayah alam Peralihan itu, yaitu ketika MELEWATI RUANG TENGAH YANG GELAP, itu yang sebagai ibarat dari alam KUBUR..! 
Contoh yang lebih mudah, yaitu peristiwa yang di alami dan dirasakan oleh raga kemudian  diganti dengan alam yang dialami dan dirasakan oleh RASA (kejiwaan), dalam tiap harinya.
Dalam tiap tahunnya, seorang petani padi pasti menanam padi. 
Setelah tiba waktu panen, kemudian hasilnya dimakan dalam waktu tiga 3 bulan yang kemudian habis ! Ketika masuk di bulan ke empat, kembali lagi menanam padi diiringi dengan bekerja yang lainnya hingga tiba waktu panen kembali. 
Maka isi tempat penyimpanan padi kembali penuh, akan tetapi karena untuk makan setiap harinya, maka dalam waktu 6 bulan kemudian habis.
Dalam kurun watu 6 bulan tersebut petani padi itu terpaksa harus mengalami kesulitan (kesusahan), karena harus merawat tanaman padinya dari pengganggunya. 
Selama waktu 6 bulan itu selalu merasa kuatir di dalam hatinya (Ini tentang rasa perasaan), Untuk berhasil panen atau pun gagal panen itu masih tanda tanya. 
Dalam kurun waktu 6 bulan itulah (Waktu penantian petani padi itu) adalah yang dicontohkan sebagai penggambaran “Alam peralihan”  yang selalu membuat hati bergetar. 
Jika beruntung maka akan berhasil panen dalam tahun berikutnya. Sehingga dalam kehidupan petani padi ketika itu mengalami : 
a). 3 bulan dalam kesenangan karena berhasil panen. 
b). 6 bulan dalam penantian dengan hati penuh tanda tanya 
c). Senang hati karena berhasil panen kembali.
Di dalam Majalah Jayabaya ada petikan yang diambil dari Bhagawatghita yang isinya sebagai berikut : 
Barang siapa yang bekerja yang berdasarkan Pamrih untuk mendapatkan hasilnya, yang artinya hanya berdasar hasrat pribadinya sendiri, Akan TErJERAT oleh KARMA, yaitu tidak bisa terlepas dari urusan keduniaan, sehingga akan selalu berkali-kali “Menjelma hidup ke alam duna dengan menggunakan raga”.
Jika demikian cerita hidupnya, apakah manusia biasa akan bisa memiliki raga kembali ? 
Hal itu dikarenakan bahwa manusia yang seperti itu masih dikuasai oleh pamrih/keinginan diri/ hasrat/nafsu dsb !?
Kalimat tersebut hanya sebagai gambaran atas manusia yang sudah bisa membuktikannya sendiri, sehingga di sini perlu diuraikan lagi agar lebih jelas. Yang diibaratkan dari kata “TERBANGNYA ROH” 
mengapa bisa menjadi Induk dari segala yang ada ? 
dan PAMRH itu mengapa bisa menyebabkan kembali menjelma ? 
hal itu tentunya adalah mengada-ada saja !. 
Keterangannya adalah sbb :
Pamrih itu tidak hanya untuk sesuatu yang bisa dilihat mata saja. Sedangkan yang berupa ingin dihormati dihargai, ingin disanjung, ingin dikira hebat dan sebagainya, itu semua juga masih termasuk pamrih, karena yang masih mempunyai pamrih seperti itu, maka di dalam hatinya pastilah berusaha untuk i“Bagaimana agar bisa Aku ini di anggap hebat”.
Hasrat hati yang demikian itu adalah yang memberikan BEKAS dan meninggalkan bekas di dalam Indera, karena terlalu besarnya PENGHARAPANNYA. 
Dan pamrih itu macam dan jenisnya ada beribu-ribu macam.
Apakah hal itu sudah benar jika hanya berasal dari kata-kata saja ? 
Ayat Suci da dalam Al-Qur’an Surat : YASIN : 12 
“Sesungguhnya Aku (Allah) menghidupkan orang-orang yang sudah mati dan menulis apa pun yang menjadi kisah hidupnya. Kesemunya itu Aku (Allah) tulis di dalam Kitab yang nyata.” 
Seperti itulah dasar penguat dari makna tafsir di dalam Kitab Hidayat Jati dan Bhagawat Ghita yang sudah dimuat di depan, sehingga sangta jelas bahwa kata “Terbangnya ROH” itu menjadi induk segala yang ada itu tentunya ada sebab-sebabnya, yang asalnya adalah dari diri sendiri-sendiri. 
Artinya jika ada pengalaman yang berasal dari luar itu hanya sebatas sebagai penghantar adanya bekas cerita ! 

Sehingga Ayat tersebut di atas adalah memberi pengetahuan bahwa orang yang mati itu akan kembali lagi. 
Roh yang berada di alam kubur itu masih terpengaruh oleh bekas perbuatan dari Tiga Indra, yaitu bekas ikatan keduniaan yang sangat tebal, seperti yang sudah dijelaskan di atas. 
Dasarnya adalah sbb :
Roh manusia ketika berada di alam kuburnya adalah mengembara dengan mengalami segala kejadiannya, yang akhirnya akan kembali hidup di alam dunia menggunakan badan kasarnya yang baru lagi.
Di depan sudah diuraikan bahwa di manapun  tempat hidupnya itu, manusia tetap dibawah kekuasaan dan didpengaruhi oleh Sifat MAHA HIDUP-NYA TUHAN.
Makna sederhananya adalah sbb : 
Siapa pun saja, apabila roh nya masih terbungkus oleh Pamrih (keterikatan), walau pun dirinya meninggal dunia hingga 6 kali, tetap akan mengalami hidup lagi  dengan menggunakan badan kasar yang disebabkan oleh akibat perbuatan Inderanya, sehingga bisa disebut sebagai Karma-nya diri sendiri-sendiri. 
Artinya : Akan membayar hutang atas darmanya (perbuatannya) sendiri, dan tidak akan terputus hingga keinginannya itu berhasil diraihnya (Pamrih, nafsu, dan keinginan dirinya).
Bagimanakah yang akan dialami selanjutnya, dikarenakan akan bisa hidup dengan menggunakan badan kasar kembali ? 
Apakah hal itu tidak bertentangan dengan Hukum Islam ?
Oleh karena yang sedang kita bicarakan adalah Roh dari manusia, sehingga hinggapnya juga kepada manusia ! 
Kesemuanya ini hanya akan menguraikan tafsir dari : 
Inna lillahi wa inna illaihi raji’un”, 
Berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan, dan tidak akan kembali ke dunia kembali. 
Dalam uraian-urian sebelumnya sudah di jelaskan bahwa sebenarnya manusia itu bisa menghadap kepada Tuhan (Islamu) dan dalam pencariannya itu mumpung masih hidup di dalam raga itu adalah dengan jalan menyatakannya (Ma’rifatullah).
Bisa saja akan menumbuhkan pemikiran sebagai berikut : “Oleh karena di kemudian hari akan hidup kembali, jika demikian sehingga memiliki hasrat (pamrih) yang lebih luhur di banding yang sekarang ini !”
Hasrat itu bukanlah ilmu, akan tetapi itu adalah nafsu. 
Sesuai yang terkandung dalam Al Qur’an (Surat Hamim) ayat 31, sbb :
“Aku (Allah) memimpin kalian hdiup di dunia dan akhirat; di sana kalian akan mendapatkan apa-apa yang kalian ingini dan apa-apa yang kalian “minta”..!”
Apakah semua hasrat itu akan selalu tercapai ? Karena kebanyakan itu hanya terhenti hanya pada hasrsat saja, yang dikiranya itu akan terjadi dengan sendirinya !
Hasrat dan keinginan ketika masih di dunia itu akan tercapai jika dengan syarat dengan dilaksanakan. Roh itu tidak datang langsung otomatis bisa memiliki raga. 
Dalam kandungan ayat tersebut sudah sangat jelas, dijelaskan bahwa yang bisa menuntun dan menghidupkannya itu HANYA Tuhan. 
Penjelasannya adalah sebagai berikut : Yang dialami roh ketika berada di alam kubur itu, untuk bisa pulang dan menghadap Tuhan, itu pun hanya atas kehendak Tuhan, dan untuk bisa kembali lagi memiliki raga dan hidup kembali di alam dunia, itu pun adalah atas kehendak Tuhan.
Ketika masih di dunia, keinginan-keinginan itu sesungguhnya lebih banyak yang hilang, karena teralihkan oleh keadaan yang beraneka ragam, namun hal itu akan tetap merasakan puas, kecewa, sedih dan sebagainya : Karena terpenjera oleh urusan dunia (rasa memiliki) yang bermacam-macam jenisnya, sedangkan yang dirasakannya juga bermacam-macam dan hal itu bukan rasa nikmat dan senang.! 
Berapa tahun kah yang akan dirasakan ketika mengalami penderitaan, walau pun yang dicita-citakan itu adalah hal yang luhur, maka itu semua yang mengetahuinya adalah hanya Tuhan sendiri.
Sedikit penjelasan tentang, kecewa, sedih, hampa, rasa tidak enak. Itu semua adalah yang dirasakan oleh Roh (Jiwa), yang masih terikat dan terbawa oleh rasajati serta bekas dari hawa nafsu. 
Oleh karena hal itu adalah BEKAS, sehingga, kejadian-kejadian, dan peristiwa apa saja yang pernah dilakukannya ketika hidup di dunia, maka di alam kubur akan selalu mengingatkannya. 
Rasa KECEWA itu seolah akan menghilangkan rasa itu, akan tetapi ternyata tidak akan bisa. 
Kesimpulannya, untuk menghindar dari rasa susah, sedih, takut, kuatir dsb itu tetap tidak akan bisa, kisah hidupnya ketika masih di dunia walau pun tidak diperhatikannya, ketika berada di alam kubur maka akan menampakkan diri dan bercerita sendiri-sendiri. 
Sehingga Dalil di dalam Surat Yasin ayat 65 menyebutkan : Dan seluruh anggota badannya akan berbicara sendiri-sendiri ! 
Ayat itu  juga ada penguatnya, lihatlah Surat Yasin ayat 12, yang intinya : Rasajati yang masih mendapat pengaruh oleh bekas-bekas nafsu-nafsi itu, akan bercerita sendiri-sendiri, artinya akan menampakkan diri dan akan dirasakannya kembali 
(Hubungkan dengan pengalaman-pengalaman ketika sedang tidur)
Sedangkan Roh yang dikehendaki oleh Tuhan untuk dikembalikan hidupnya dengan menggunakan Raga kasar untuk hidup kembali di alam dunia ini, itu pun masih tetap membawa BEKAS perbuatan-perbuatan, kelakuan-kelakuan, pamrih, rasa kemilikan, nafsu dsb, dan semuanya ketika di kehidupannya yang terdahulu ketika hidupnya di alam dunia yan ketika itu BELUM KESAMPAIAN. Sehingga “Apapun saja” yang terbawa oleh nafsunya itu “Tetap menempel terus”.
Di dalam Surat Yasin 12 di atas, ada  kalimat “Dan ditulisnya apa-apa yang menjadi bekas keinginanya”. 
Keterangan hal itu adalah sebagai berikut :

“Hidup kembali di alam dunia dengan membawa serta bekas keinginan dirinya. Hal yang demikian itu, sehingga ada kalanya seorang bayi yang terlahir, dan setelah dewasa akan menjadi penjahat, dodkter, pandita, presiden, pahlawan dan lain sebagainya, hal itu disebabkan oleh bekas pamrih/nafsu keinginan dirinya yang sudah tertulis di jiwanya, artinya tulisan yang terdahulu itu membekas ! 
Sekedar contoh.

» Suta anak dari Pak Wedara, memiliki watak sederhana, tenang, cerdas, penampilannya tenang, dan sangat pandai ! 
Namun apa sebabnya masih mempunyai musuh ? 
Penyebab dari permusuhannya itu karena sama-sama saling membenci dan tidak ada yang mau mengalah.

> Seseorang bernama Beja, keturunan rakyat jelata, sangat jelek rupanya, dan mempunyai cacat. Akan tetapi apakah sebabnya tingkah lakunya baik, ramah dan sebagainya, serta  teman-temannya sangat mencintainya, dan bersedia berkorban untuk kebutuhan hidup dari Beja.

> Di Blitar ada seseorng yang mendapatkan hadiah pertama undian berhadiah, dan sebenarnya dia itu hanya sekedar coba-coba saja, namun akhirnya menjadi kaya dengan tiba-tiba. 
Ingatlah “Hal itu” hanya sekedar mencoba saja, akan tetapi terjadi sungguhan.

> Seorang anak dari seorang buruh, ketika lahirnya bertepatan jaman sulit dalam kehidupan. Hidupnya selalu ikut orang lain, yang menurutnya adalah bisa membiayai hidup dan sekolahnya. 
Sehingga jika tidak disekolahkan oleh majikannya, lebih baik tidak mengabdi. 
Namun pada akhirnya dia itu menjadi Ahli Agama (senang berpikir tenang ke-Allah-an).

> Bung Karno adalah anak dari seorang Kepala Sekolah , Mantri Guru Sekolah Rakyat, yang penghasilannya sedikit.
Di masa mudanya termasuk anak sekolah yang pintar sehingga berhasil memperoleh gelar Insinyur. Akan tetapi mengapa tidak bekerja di bidang membuat bangunan, akan tetapi justru menjadi seorang ahli politik ? 
Contoh-contoh yang demikian itu, tidak hanya terdapat di Indonesia saja, akan tetapi juga ada di mana-mana. 
Yang terpenting dari hal itu adalah : Tidak memilih siapa saja orangnya ! 
Sebenarnya : Jiwa yang masih terkena tempelan dari pamrih  (Nafsi, hasrat dirinya ketika hidupnya di masa lalu dan sebagainya) itu hanyalah sekedar meneruskan saja bekas dari perbuatannya yaitu atas pamrih dan nafsunya di kehidupan sebelumnya.
Allah, itu menghidupkan orang mati, hal itu adalah seperti contoh di atas, yang sudah dihidupkan kembali atas rohnya. 
Dari contoh-contoh di atas, bisa di bedakan, yang manakah yang keinginannnya luhur dan yang manakah yang rendah dan biasanya itu bagi yang menjalanyi , dia itu tidak menyadarinya.
Sebelum menguraikan contoh-contoh di atas perlu pula menelusuri kata KASTA, yang berasal dari paham Hindu, yang sudah berumur beribu-ribu tahun. 
Pada umumnya KASTA itu dimaknai sebagai tingkatan kehidupan, akan tetapi hakekatnya adalah tidaklah demikian ! 
Adanya Kasta itu sebelum adanya Agama Islam seperti sekarang ini dan sebagai kehidupan bermasyarakat bersifat universal (Memenuhi dunia), maksudnya adalah BAGIAN KEHIDUPAN yang sudah TERCETAK, dan manusia itu tidak bisa membuatnya !!!

1. BRAHMANA, 

itu adalah golongan para ahli pikir. Sejak jaman dahulu hingga sekarang, selalu ada orang-orang yang demikian itu  (Pandita suci, Wiku, Biksu Tapa, Filosof, Theosofi, Pengarang, Mistikus\, ahli tasawuf dan sebagainya), yang keahliannya adalah MENGOLAH BATiN.

2. KSATRYA,  

itu berada pada WATAK, jika sudah dibuktikan oleh keahliannya dalam perang, yang disenanginya adalah membela bangsa dan masyarakat dengan tanpa pamrih, takut malu, dan giat dalam bekerja. Yang menjadi cita-citanya adalah menjaga keteneteraman dunia! Hal itu bila di dalam yang nampak dalam Tata lahir! 
Sedangkan bagi urusan batin, manusia yang mempunyai sifat Satrya, bukan hanya prajurit saja, akan tetapi ketika hidupnya di dunia ini seka memberi pelayanan dengan ikhlas.

3. Wahisya : 

Itu adalah yang selalu suka mencari penghasilan yaitu golongan pekerja handal.
4. Sudra : 

itu adalah Tingkatan terendah bagi Jiwa. Di dalam kehidudpan bermasyarakat, itu bisa berperan sebagai penjahat, PSK, peminta-minta, penjudi, pengacau dan sebagainya, walau pun bertempat tinggal di wilayah mana pun saja. Sehingga Kasta ini, adalah sama saja dengan tingkatan atau PERINCIAN KISAH HIDUP bagi manusia ketika hidupnya yang hanya mengikuti tulisannya dirinya saja atas dasar Bekas perbuatannya yang terbawa dari kehidudpan masa lalunya ! 
Sedangkan yang menginginkan perincian kejadian-kejadian itu adalah Tuhan sendiri, dan hal itu sesuai dengan ayat Suci  Al-Qur’an yang tafsirnya sebagai berikut : 
“Di setiap diri itu sudah Ku (Allah) tulis di dalam KITAB YANG TERANG” …… !!. 
Dalam bahasa Pesantren mungkin kitab yang terang itu disebur LUHZMAHFUDZ, yang dalam Bahasa Indonesia-nya dikatakan sebagai GARIS HIDUP, garis yagn harus dilalui yang disebabkan oleh manusia itu sendiri.
ARTINYA :

a. Tuhan mengadakan Luhzmafuds, tergelar di alam dunia itu dengan keadaan tetap. Sebelum adanya mahluk, bagian dari kehidupan (Luhzmahzfuds) sudah ada, dan adanya menjadi 4 tingkatan.
b. Manusia itu bisa mengubah Luhzmahzfuds itu. Dengan cara Darma hidupnya (perbuatannya) sendiri, menghidar diri dari ketetapan garis hidupnya sebelumnya, seumpamanya jika menurut Islam, berserah diri, suci, ikhlas, mencari untuk bisa Ma’rifat.
Menurut kisah-kisah yang dicintihkan tentang, Kaya, Miskin, pangkat dan sebagainya itu, hanya amenersukan bekas dari keingingan-keinginan diri. 
Sehingga sebutan Menitis itu, memang dasarnya adalah benar, dan bisa di cocokkan dengan Ayat Suci surat As-Sajdah 31 yang tafsirnya adalah “ Di alam sana kalian akan mendapatkan apa-apa yang kalian ingini dan apa-apa yang kalian minta!”.

ooOOOoo

Oleh karena Tuhan itu memiliki sifat WENANG, barangkali saja roh yang dihidupkan-Nya kembali itu tidak berbadan kasar berujud manusia, barangkali dihidupkan kembali berujud buaya, itu seumpamanya. Padahal buaya itu termasuk musuh manusia dan manusia bisa menerapkan kekuasaannya yaitu menembaknya, menjeratnya dan sebagainya… 
Hal itu betapa sakitnya.
Sehingga bagi para pencari Hakekat, itu harus memusnahkan gerak cetusan hatinya.
Di bawah ini, menguraikan tentang contoh-contoh di depan, sebagai berikut :
a. Walau si Suta itu anak dari Pak Wedana, hal itu sebenarnya hanya gelar di alam nyata. Di kehidupan sebelumnya, sebelum suta mendapatkan Roh (Jiwa) yang bertempat di tubuh si Suta, 
sekarang ini dan juga beserta teman-temannya KETEMPELAN perbuatan (bekas) nafsu permusuhan! Sekarang ini yang memetik buahnya adalah si Suta itu sendiri.
b. Walau pun Si Beja anak dari seorang rakyat jelata, akan tetapi mendapat pengaruh dan bekas kelakuan Luhur. 
Yang memetik kebaikan itu adalah bukan orang tuanya, akan tetapi si Beja itu sendiri.
Bekas dari hasrat keinginan diri, nafsu dan sebagainya itu, tidak kemudian di petik sekaligus. Bisa juga dengan jalan sudah bertahun-tahun, dan kehidupan selanjutnya yang akan dialaminya kembali atas dasar ijin dari Tuhan! Allah memimpin semua permintaan-permintaan dengan cara menggantinya dengan Raga yang lainnya.
Penjelasan-penjelasan di atas itu sama saja tentang kenabian : Karena semua Nabi-Nabi itu keyakinannya sama yaitu Monoteisme, meyakini bahwa Allah itu SATU dan ESA, sehingga Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Muhammad saw. itu hakekatnya juga hanya SATU KESATUAN.
Sehingga benar, bahwa Theosof, mempunyai keyakinan bahwa “Meester” atau Penuntun Agung itu yang mempunyai raga kasar, berkumpul di dalam kehidupan bermasyarakat memenuhi kewajiban hidup. Sedangkan penjelmaan “Meester” itu memilih manusia yang bisa dan mampu untuk ditempatinya. 
Contohnya : Kepada manusia yang memberi penerang kepada masyarakat yang tersesat. 
Hal itu diibaratkan seperti Hyang Wisnu menjelma dan menempatkan diri sebagai raja di dalam salah satu dari manusia ! 
Oleh karena dengan adanya roh-Roh yang MENYATUKAN Bangsa Indonesia yang terdiri dari suku-suku bangsa yang sangat banyak. Cara yang digunakan oleh Gajahmada ketika itu dengan cara mengadakan Payung, sebagai pedoman untuk menata negara (Mukadimah) yaitu berupa SILA SILA yang dijadikan sebagai Dasar Negara. 
Akan tetapi sebelum Sila-sila yang diharapkannya itu terwujud, tiba-tiba datang kekisruhan di antara para petinggi kerajaan.
Menurut cerita sejarah Tanah Jawa, walau pun tidak tertulis tentang Sila-sila yang menjadi harapan oleh Gajahmada, itulah yang sekarang disebut dengan PANCASILA.
Sekarang, kita cocokan dengan pidato Presiden Dr. Ir, Soekarno, ketika menerima gelar Honoris Caosa oleh Universitas Negeri Gajahmada di Yogyakarta. 
Seperti inilah isinya : “Saya bukan pencipta Pancasila, tetapi saya, seorang Soekarno ini, hanya sekedar menggali sila-sila itu yang sejak beratus-ratus tahun telah berurat berakar di dada Bangsa Indonesia,  ialah PANCASILA !”
Seperti itulah makna dari uraian yang berhubungan  dengan penjabaran Wirid di buku ini. 
Demikian juga isi uraian ketika mengadakan rapat raksasa Kongres Rakayat di Surabaya.
Bung Karno dilahirkan di Blitar ketika tahun 1901 Masehi. Tumbuhan pemikiran : Apakah Bung Karno sudah mengadakan perjanjian dengan Gajahmada?” 
Apakah yang menyebabkan bahwa cita-cita Bung Karno sama dengan Cita-cita Gajahmada !!
Dan menurut kenyataan, sepeninggal Gajahmada hingga sekarang ini sekitar 6 ratus tahun.
Mengulangi uraian tentang Maha Kuasa-Nya Allah, yang ada hubungannya dengan yang dialami dan perjalanan ROH-ROH di dalam alam Kubur ! 
Roh-Roh yang sedang menunggu giliran untuk berganti alam, yang artinya menunggu hari putusan (hari pengadilan, hari Hisab) yaitu suatu hari yang menentukan bahwa ROH-ROH itu akan kembali menempati raga, dan berada di alam peralihan itu bertahun-tahun lamanya dan selalu membawa bekas perbuatannya yang terdahulu !
Bisa saja hal itu yang disebut SUNNAH, KARMA, yang menyebabkan adanya CAKRA MANGGILINGAN (perputaran hidup), dilahirkan kembali, rencarnasi. 
Hal itu di cocokkan dengan dalil yang tafsirnya sebagai berikut : QS, Surat Ath-Thur ayat 21 :
“Setiap diri manusia itu terikat oleh perbuatannya sendiri’ 
QS.Al-Fath – 23 : 
….. Sudah demikian itu (sunnah) dari peraturan-peraturan (Undang-undang) Allah sejak dahulu kala dan Sunnah Allah itu tidak akan pernah berubah.”
Cita-cita atau yang ingin dicapai  itu tumbuh dari cetusan hati, artinya bahwa terlebih dahulu hatilah yang mengajaknya, barulah dibuktikan dengan tindakan. 
Sedangkan cara atau yang dilakukan oleh para pencari hakekat itu ada 2 macam yaitu :
1. Cetusan hati, hasrat batin (belum keluar).
2. Tindakan nyata yang berdasarkan hasrat itu.
Jika keduanya berbeda maka berarti MENIPU, sedangkan yang ditipunya adalah dirinya sendiri. 
Tindakan yang tidak menipu diri sendiri, yang selanjutnya untuk Asma Tuhan itu adalah jika kedua-duanya berjalan seiring sejalan. Atas keadilan Tuhan, semua yang menjadi permintaan baik yang kasar mau pun yang halus, atau bekas dari perbuatan nafsu dan Indera sekali pun, akan akan DIPENUHI (Lihat QS. As-Sajadah : 31).
Bekas yang tertinggal dari perbuatan itu bisa mendorong adanya niat baik/buruk, seperti firman Tuhan di dalam QS.XXX Surat Al-Buruj ayat 19, yang tafsirnya : 
“Sesungguhnya kalian akan memasuki keadaan yang bertingkat-tingkat.”
Dan juga Surat Al-An’am ayat 132 : 
“Tiap diri itu memunyai derajat sendiri-sendiri menurut perbuatannya masing-masing.”
Di sini sepertinya ada ayat yang menguatkan makna dari keinginan diri yang terhenti hanya pada niat saja, artinya manusia tidak akan bisa merobah keadaan nasibnya sendiri jika manusia itu bandel dan tidak berkehendak untuk merobah nasibnya sendiri (merubah niat untuk bisa terlepas dari pengaruh keduniaan). 
Nasib itu adalah apa pun saja yang dialami di alam dunia ini. 
Walau pun demikian, atas kehendak Tuhan, Nasib-nasib yang menjerat itu, sekarang bisa terkoyak, seperti yang termuat di dalam Al-Qur’an QS.XIII surat Al-Ra’du ayat II : yang tafsirnya : 
“….. Sesungguhnya Tuhan tidak akan merubah apa pun yang ada di suatu kaum, jika saja kaum itu sendiri tidak merobah apa-apa yang ada di dirinya.”
Jika demikian tentunya menjadi bertentangan dengan ayat-ayat di depan? 
Karena di ayat Al-Fath 23, ada kata-kata SUNNAH atau undang-undang larangan Tuhan yang tidak bisa berubah, akan tetapi di Ayat Al-Ra’du 11 mengatakan : 
Tuhan tidak akan merobah sunnahnya, akan tetapi mengapa manusia diijinkan untuk merubah sunnah hidupnya? 
Sebelum hal itu diuraikan, terlebih dahulu akan menguraikan tentang Kasta dan contoh-contoh kejadian seperti yang diterangkan di atas.
Menurut contoh di situ, bisa saja seorang anak dari keturunan rakyat jelata ketempelan (membawa pengaruh dari) jiwa orang yang dikehidupan sebelumnya senang memikirkan tentang Ilmu Ketuhnan. 
Setelah dia itu dewasa, kemudian berguru ilmu batin kepada salah satu perguruan ilmu batin. Kemudian akhirnya, dia itu menjadi seorang yang ahli mengajarkan dan menguraikan tentang Wirid. 
Apakah yang menyebabkan sehingga dia itu bisa menjadi Ahli wirid ? 
Apakah cukup hanya berguru saja ? 
Apakah cukup hanya dengan cara bertanya saja ? 
Apakah cukup hanya membaca-baca buku tentang ilmu wirid ?
Keinginan dan tekad anak itu sangat kuat sekali, diibaratkan tiap yang diucapkannya adalah tentang Ilmu batin. 
Sekarang anak tersebut sudah menjadi seorang yang benar-benar ahli. 
Ternyata bisa saja menjadi apasaja yang sesuai yang diinginkan sebelumnya. Kisah seperti contoh tersebut, jika ditelusuri, yang merobahnya atas semua keinginannya hingga berhasil apa yang menjadi keinginannya  itu bukan dari Tuhan. Akan tetapi berasal dari Usahanya sendiri (Qs. surat Al-Ra’du 11). 
Keterangan yang lebih jelas lagi, sebagai berikut :
★ Pengaruh dari bekas Jiwa dari kehidupan sebelumnya, sekarang berada di diri anak itu, hal itu menyebabkan segala pekerjaannya menjadi aktif (giat bekerja) artinya, mau melangkah untuk bertindak dengan TIDAK MERASA, bahwa telah ketempatan bekas tindakan di kehidupan sebelumnya.
★ Atas dorongan dari Bekas tindakan dikehidupan sebelumnya, menyebabkan adanya KEJADIAN dan cerita seperti di atas yang kemudian terbukti menghasilkan tindakan hingga bisa berhasil apa yang diinginkannya.
Apakah yang sebenarnya (dasar-dasar yang bisa dijadikan pedoman), tentang SUNNAH atau peraturan (Undang-undang) yang tidak bisa berubah itu..? 
Uraiannya adalah sebagai berikut : 
Jika hanya terhenti hanya pada niat saja, dan tidak dilanjutkan dengan gerak aktif berupa tindakan, maka akan tetap pada keadaan seperti isi dari Ayat As-Sajdah 31
artinya ayat tersebut hanya memberi tahu saja bagi suatu cita-cita yang diinginkannya, sebagai gambarannya adalah hanya diberitahu saja bahwa ada uang senilai Rp.100.000,- yang berada di atas meja. 
Rahasia batinnya adalah : Uang tersebut menyebabkan tumbuhnya keinginan. Oleh karena gerak dari sasa ingin tercatat di dalam Luh mahfuds (Kitab yang nyata yang tercatat di dalam rasajati tiap diri masing-masing).
Sedangkan Luhzmahfuds (Kitab yang nyata) adalah bukan ukuran dunia, karena itu adalah dibuat oleh Allah sendiri, terbukti di dalam hukum Kasta yang berjumlah 4 tingkatan (Brahmana, Ksatrya, Waisya dan Sudara). 
Bukti bahwa keadaan di dunia ini itu ada kasta-kasta tersebut adalah : Di dunia mana saja, sebelum adanya Agama Islam, Krissten dsb, sudah ada (ada isinya) Pandita, Filosof, Suffi dsb. 
Semua manusia, baik yang beragama atau pun tidak, dan dari bangsa mana saja Pasti termasuk dari salah satu golongan kasta tersebut (Al-Buruj.19).
Sedangkan tentang Perbuatan di dalam kehidupan bermasyarakat TETAP berada di dalam keadaan seperti isi dari ayat Suci QS. Al-An’naam.132 : 
“Tiap diri masing-masing manusia itu memiliki derajat sendiri-sendiri sesuai dengan perbuatannya!”
Penyebabnya adalah bagi pelaku Yang Membawa bekas sifat dari Roh (Jiwa) yang menurut keinginannya di masa hidup sebelumnya itu belum masuk (mengikuti) akhir dari kedudukan kastanya. 
Artinya : Walau pun sekarang ini  di tingkat derajat rendah dan menempati kasta-nya sendiri, sebelum sampai kepada kasta tertinggi , tetap akan terlahir kembali untuk menyempurnakannya menjadi kasta tertinggi (Evolusi). 
Berapa tahun waktu yang diperlukan untuk menjuku kasta luhur (luh mahfuds) itu ?? 
hanya Tuhan yang tahu.!
Merubah nasib itu adalah dengan cara berusaha, bukan hanya menerima saja untuk menempati kadaan yang dialaminya sekarang ini. 
Hal itu memang masih merupakan hasrat pamrih (ikatan keduniaan), akan tetapi sebenarnya bahwa manusia yang bersifat luhur dan Muhammad itu tidak sekedar menerima terhadap keadaan PERASAAN diri sekarang saja dan terus berusaha untuk mencapai kepada kemuliaan, itulah yang disebut  hidup kekal (kanirwanan). 
Di mana saja manusia itu pasti mempunyai sifat ingin menghamba dan menyatu, karena sudah terlalu lama berada di dalam lingkungan kastanya.

ooOOOoo

Manusia hidup itu harus selalu ingat dan menyadari, bahwa segala perbuatannya selalu mengalami resiko luar/dalam. 
Resiko di luar itu berupa halangan-halangan dari orang lain, dari musuhnya yang roh-nya ketempelan rasa benci, rasa permusuhan dan sebagainya 
Perbuatan roh yang seperti itulah yang di masa hidupnya yang lalu yang selalu merusak. 
Keadaan yang demikian itu terdapat juga di lingkungan keluarganya sendiri. 
Sehingga di dalam keluarganya sendiri juga ada yang menjadi musuh (Ingatlah sifat bawaan dari hidup sebelumnya), seperti yang diceritakan di dalam QS. At-Taghabun 14 : 
“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri dan anak-anakmu ada yang menjadi musuhmu, maka dari itu kalian berhati-hatilah !”.
Musuh di sini bermakna adalah jelmaan jiwa yang ketempelan sifat rendah. 
Seperti apakah liku-liku hidup yang menuju salah satu kasta (Garis hiduP itu sudah jelas. 
Sekarang, dari manakah asal Luh mahfuds itu ??? 
Jawabannya akan bisa ditemukan di dalam uraian selanjutnya.
Oleh karena “Garis hidup itu tingkatannya ada 4 macam, di bawah ini ada penjabaran sebagai bukti dan untuk selanjutnya agar tidak membingungkan :
1. Seorng yang bernama Suta tidak megetahui garis hidupnya. Oleh karena tidak tahu, sehingga kemudian mencari pekerjaan, akhirnya berhasil dan dijadikan pegawai tinggi memang karena pintar dan mampu.
2. Ketika pada suatu waktu, Suta di tangkap karena berbuat korupsi, kemudian dipenjara. Keluarganya mengalami kesusahan, dan kembali menjadi miskin seperti ketika baru dilahirkan !  
Setelah keluar dari penjara, dengan terpaksa Suta menjadi seorang peminta-minta, walau pun menggunakan cara yang lebut (dengan alasan minta derma). 
(Lihatlah Qs. Surat Al-An-naam. 132 – Al-Ra’du 11, dihubungkan dengan Surat Al-Fath:23).
Penjelasannya adalah sebagai berikut :
Menurut contoh di atas,  Tuhan itu tidak merubah Sunnahnya, Tingkatan SUDRA di dunia ini itu tetap ada. 
Sedangkan kelakuan Suta itu tumbuh dari hasrat yang ketempelan jiwa rendah (Sudra). 
Penampilan yang gagah, berpangkat, terkenal, pandai dan ketrampilannya itulah yang menyebabkan Suta menjadi giat dalam melakukan apa saja, sehingga dirinya menduduki yang dimaksud dari QS. Al-An’naam 132. 
Oleh karena kisah hidupnya tidak dirasakannya, maka akhirnya berada di dalam keadaan seperti didalam QS. Al-Ra’du 11, 
artinya : Tuhan tidak akan merubah apa-apa jika dirinya tidak merubahnya sendiri..! 
Sehingga berubahnya kisah hidup si Suta itu karena berasal dari perbuatannya sendiri, bukan atas kehendak Tuhan.
Jika saja Suta bisa mengerti, tentunya tidak akan mengalami kisah hidup yang demikian itu, tidak akan kembali menjadi sudra (bisa melepaskan diri), dengan cara Kodratnya tentunya akan bisa menghindar dari perbuatan korupsi. 
Sehingga keterangannya adalah : Suta tetap menjadi Isi dari Luh mahfuds, tercatat dalam derajat rendah.
Ringkasan :
● Sunnah : 

Peraturan Undang-Undang Hukum Allah, seperti : Adanya kasta-kasta, Luh mahfudz, saling bunuh membunuh, malu dibayar malu, hidup, mati, lahir, biji yang tumbuh kemudian berbuah, bumi, planet itu selalu berputar, sejak jaman dahulu tidak pernah berubah, tetap demikian adanya.
Sunnah, di dalam kehidupan ada 4 tingkatan, tetap ada dan tidak bisa berubah, akan tetapi bisa dirubah oleh manusia yang masih hidup di dalam raga kasarnya. 
Berubahnya itu sedikit-demi sedikit, umpamanya itu dari Waisya naik menjadi Satrya dan seterusnya, itu tergantung dari perbuatannya ketika hidupnya.
● Luhmahzfuds (Kitab yang Nyata), Garis Hidup, yaitu kaya, miskin, bodoh, pintar, enak hidupnya, dan tidak enak hidupnya, gila, sehat, berpangkat, menjadi peminta-minta, beruntung, celaka dan sebagainya, itu tetap adanya. 
Artinya, Luh mahfuds itu adalah pakain diri bagi diri masing-masing manusia, yang dirinya itu tidak ikut-ikut membuatnya. 
Yang mengakibatkan yaitu : Jika yang menjelma di dalam raganya itu masih membawa BEKAS dari kehidupan sebelumnya.
Contoh : Di kehidupan sebelumnya ada sebagai durjana, akan membekas menjadi Jiwa penjahat (di mana-mana itua da), walau pun berpangkat, kaya dan sebagainya. Atau bekas seorang penjahat, akan membekas di dalam tindakan : Main perempuan, makan berlebihan, mencuri dsb. 
Bekas Jiwa baik akan memberi bekas yang baik, berjiwa luhur, pandita, mukmin dan sebagainya !!.
Seperti itulah kejadian-kejadan dan kisah hidup yang selalu berputar yang mempengaruhi di dalam kehidupan masyarakat.
Salam persaudaraan

Iklan