Setelah napas terakhir putus, mau di kemanakan jasad kita ini?

Mau diberikan kepada siapa?

Adakah yg mau terima, mau beli atau memperebutkannya?
Padahal … Semasa hidup, kitalah tuan & org yg paling berkuasa di rumah mewah kita.

Saat meninggal,  tak ada yg setuju kita disimpan, walau pun hanya di garasi di belakang rumah kita.
Semasa hidup, tiap malam kita duduk, bersantai di ruang tamu sambil minum kopi, baca koran atau menyaksikan acara TV.
Saat meninggal, tak ada yang bisa terima, walaupun kita hanya duduk diam di pojok paling ujung, tanpa kopi, koran ato acara TV di ruang tamu.
Semasa hidup, kita duduk gagah di kursi direktur utama di kantor kita.
Saat meninggal,  tak ada yang setuju kita didudukkan di kursi manapun di kantor kita.
Semasa hidup, kita bisa istirahat nyenyak sesuka kita di atas ranjang kamar pribadi bersama anak isteri/suami
Saat meninggal, seisi rumah keberatan jika kita di baringkan, walaupun hanya di atas lantai kamar  sekalipun, … tepatnya kita di bawa ke rumah duka yg tidak seindah kamar mewah kita.
Semasa hidup, setiap bepergian kita duduk dgn bangga di kursi belakang mobil mewah.
Saat meninggal, tak ada yang mengijinkan kita duduk, sekalipun hanya di taruh di bagasi belakang mobil.
Walaupun kita punya banyak rumah, villa, condominium & apartemen, namun kini tak ada satupun tempat itu yang dapat menerima kita.
Seminggu kemudian badan ini akan membusuk. Satu2nya tempat yang mau menerima “kita” adalah tanah di bumi ini.
Masih beranikah kita berkata dengan sombong, “Ini milikku, ini wewenang ku, ini kekuasaanku, itu punyaku, dll?”
Renungkanlah !!!

            PINTU BERNAMA KEMATIAN

” Katakanlah, sekiranya kamu berada di rumahmu niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar juga ke tempat mereka terbunuh.”

  (QS. Ali Imran: 154)

   Dalam kitab karya Imam Al Qurthubi, diceritakan tentang Nabi Ibrahim yang kedatangan malaikat maut untuk mencabut nyawanya.
Merasa bahwa malaikat itu datang untuk memutus segala kenikmatan dunia, maka Nabi Ibrahim menyambutnya dengan kalimat, 
” Wahai  Malaikat Maut,  sampaikan kepada Allah, adakah Kekasih ( yang dimaksud di sini adalah Allah),  yang tega menyakiti dengan membunuh kesayangan-Nya? ”
   Malaikat Maut yang ditolak oleh Nabi Ibrahim a.s. pun kembali kepada Allah.

Dan mengatakan penolakan Ibrahim. 
Maka Allah berfirman.  

” Katakan kepada Ibrahim,  adakah kekasih yang enggan berjumpa dengan Yang Dicintainya? ”
   Malaikat maut itu pun kembali menemui Nabi Ibrahim dan menyampaikan hal itu. Lalu Nabi Ibrahim  tersenyum dan menjawab,

” Wahai Malaikat Maut, cabut nyawaku sekarang juga! ”
   Ada kalanya manusia itu paham bahwa kematian akan datang kepadanya. 

Biasanya karena proses sakit yang sudah dilalui sebelumnya. 
Ada kalanya bahkan manusia merasa akan hidup panjang selamanya, karena tubuhnya segar bugar. Bahkan ia rutin memeriksakan kesehatannya ke dokter. 
Tapi ternyata maut itu menjemputnya ketika ia sedang makan atau bahkan ketika ia sedang tidur. 
   Seorang teman lama suatu hari mohon maaf kepada semua teman-temannya termasuk saya, setelah ia keluar dari rumah sakit. 
Jika ia tidak bertemu dengan orang yang dia tuju, ia menitipkannya kepada saudara yang lain untuk menyampaikan permintaan maafnya.
Selang beberapa hari kemudian,  ia kembali masuk rumah sakit dan kemudian di panggil-Nya.
   Sepasang suami isteri tukang soto, malam harinya saya temui sedang duduk melamun. Mereka saya panggil berkali-kali dan baru pada panggilan lebih dari tiga kali, mereka menyahut.
Esok paginya ketika Shubuh, motor yang mereka gunakan untuk belanja ke pasar di tabrak truk. Keduanya tewas meninggalkan tiga orang anak yang masih kecil. 
  Suatu hari,  beberapa tahun yang lalu, saya dan keluarga berkumpul di ruang tamu. 

Idul Fitri yang kesekian kalinya kami berkumpul bersama ayah dan ibu. 
Lalu Bapak bicara tentang banyak hal, termasuk kematian. 
Umur Bapak pada saat itu 69 tahun. Dan Bapak menyatakan dengan sadar bahwa kemungkinan besar,  lebaran tahun depan Bapak tidak bisa berkumpul dengan kami lagi.
   Kalimat seperti itu membuat kami 3 anaknya beserta menantu dan cucunya menangis. 
Kematian itu kami yakini pasti adanya.. 
Tapi kesadaran akan mati itu, Bapak ajarkan dengan tegar.
Sehingga kematian layaknya hanya sebuah pintu yang bisa di buka dan tertutup kembali.
   Hingga beberapa bulan kemudian,  saya belajar banyak hal lagi tentang kematian. 
Tubuh Bapak tiba-tiba tidak sadar dan semua tulangnya kaku.
   “Ada angin puyuh yang Bapak lihat, ”

Begitu yang Bapak katakan kepada saya.
” Angin puyuh itu membuat pohon-pohon bertiup kencang. Tapi ibu tidak tahu. ”

Ujar Bapak kepada saya ketika  tubuhnya normal. 
   Saya paham kematian semakin mendekat kepada Bapak. 
Dalam surat Al Mursalat ayat 2 di sebutkan:

” Dan malaikat-malaikat yang terbang dengan kencangnya.”
   ” Malaikat sudah mengambil sebagian nikmat Bapak, ” ujar saya pada Bapak. 

Bapak mengangguk.
” Bapak siap,  kalau suatu saat di panggil Allah? ” Tanya saya hati-hati. 
Sesungguhnya saya juga takut mengatakan hal itu kepada Bapak. 

 Bapak mengangguk lagi. ” Bapak harus siap.”
Persiapan Bapak menuju pintu. kematian itu saya saksikan betul…
Bagaimana ketika Bapak resah tidak bisa tidur, Bapak habiskan malam dengan tahajjud dan berzikir.
Bahkan satu-persatu anaknya datang,  yang Bapak bicarakan adalah ayat-ayat al-Qur’an dan kami yang wajib menjaga Ibu.
   Saya diajarkan paham tentang proses menuju pintu kematian, melewati proses sakit hingga beberapa minggu.
Sehingga proses panjang itu, bisa membuat saya dan saudara yang lain bisa fokus mengantar Bapak untuk pelan tapi pasti menuju pintu itu.
   Pada awalnya berat. Pada awalnya sempat protes kepada Allah. Kenapa memberi sakit yang lama kepada orangtua yang ibadahnya selalu terjaga?
   Tapi semakin lama saya justru semakin sadar…
Ujian sakit orangtua adalah ujian untuk para anak…
Sekuat apakah anak untuk menjalani bakti kepada orangtua…
Seikhlas apakah anak mengeluarkan tenaga, waktu dan materi untuk membalas apa yang orangtua pernah lakukan dulu ? 
Selega apakah para menantu … mengikhlaskan isteri atau suami mereka,  mengurus orangtua dengan khidmat tanpa membebani pikiran dengan nama anak dan rumah tangga untuk sementara waktu.?
   Proses berpindah dari ruang ICU stroke ke ruang ICU lain, lalu ke ruang lain di bawahnya ( IMC) dan kamar. Lalu kembali lagi ke ICU, membuat pelajaran lain untuk saya. 
   Bapak mengajarkan kepada saya bahwa sebelum kematian, seperti di sebutkan dalam al-Qur’an, manusia akan di beri gambaran apa yang pernah mereka lakukan di dunia. 
Pada saat itu,  mata pasien biasanya mengambang…
Pandangan antara ada dan tiada… 

Seperti seseorang yang sedang melamun.
   Pada saat kematian semakin mendekat,  malaikat maut akan terasa kehadirannya.
Maka saya bisa menyaksikan Bapak mengerutkan keningnya lalu berdoa sambil menggenggam tangan saya kuat-kuat.
Ketika pasien yang jauh darinya sedang kritis dan keluarganya sudah diminta masuk ke ruangan untuk menemani,
Pada saat yang lain, saya lihat Bapak tersenyum dan melambaikan tangan.
Ketika ada orang yang tak jauh darinya juga dipanggil-Nya. ” Hati-hati,”  begitu yang Bapak pesan dengan mata menerawang.
“Percaya saja kepada Allah, sebab Allah itu mutlak,” ujar Bapak setiap kali bicara kepada anak-anaknya . 
  Tiga hari sebelum benar-benar dipanggil-Nya, di ruang ICU dengan peralatan menempel di tubuhnya, saya menyaksikan sebuah peristiwa manis.
Tangan Bapak digenggam Ibu. 

Lalu mata Bapak terbuka,  ” Ihklaskan,” 

bermaksud meminta Ibu mengiklaskan kepergian Bapak. 
Dan ketika Ibu mengangguk,  Bapak tersenyum bahagia…

Senyum itu yang Bapak bawa hingga akhir hidupnya. 
   Suatu hari di akhir masa hidupnya,  Khalid bin Walid mengeluh. 

” Sejak aku berislam,  selalu kuhabiskan hari-hari dalam peperangan.
Yang selalu kurindukan adalah kesyahidan.

Tapi kini aku tergolek tak berdaya di atas tempat tidur menanti kematian. 

Mengapa aku tidak mati di medan perang?”
   ” Sebab kau pedang Allah,”  sahut Qais Ibn Sa’d menghiburnya. ” Maka Allah tidak akan membiarkanmu patah di tangan musuh-musuh-Nya.
Dia sendiri yang akan menyarungkan pedang-Nya yang dulu telah dihunus-Nya.”
   Setiap manusia yang bernyawa pasti mati…
Salah satu cara untuk memahaminya adalah dengan berada di samping orang yang sedang merasakan sakit, menuju sakaratul maut.
Sebab pada saat itu mata kita akan dibukakan dengan kenyataan. 

Bahwa segala yang tertulis dalam al-Qur’an tentang kematian dan segala tandanya adalah benar adanya.
Kelak kita  juga akan menjalaninya.

                     

             🍁🍁🍁🍁🍁
                                  🌷🌿
 BERSIAPLAH SEBELUM JASAD DIKEBUMIKAN.
Orang Kaya & Orang Miskin Mengakhiri Hidupnya Sama, Tapi Yang Berbeda Adalah Apakah Mereka Mendapatkan Tempat Di Surga ?
Janganlah memuji diri karena esok hari, kita tidak tahu apa yg akan terjadi. 
Baik untuk direnungkan setiap hari, agar kesombongan kita hilang dari diri ini…
Jasad Kita dari tanah … akan kembali juga ke tanah

Iklan