Saudaraku.. kita semua sepakat bahwa 

NASH SYARIAT yaitu ALQURAN dan HADITS merupakan BAHAN BAKU POKOK AGAMA. 
Semua tahu soal itu, titik.!
Cuma…. dalam memahaminya itu tergantung dari ketajaman menganalisa dan bersihnya hati, bahkan maqom seseorang itu amat berpengaruh…!! 
Sehingga ada yang memahami nash Qur’an secara tekstual, ini yang pertama, 
yang kedua ada yang sudah memahami dan menyelami makna yang lebih dalam, 
yang ketiga malah ada yang lebih dalam lagi. ~> Sehingga timbullah beraneka ragam tafsiran ulama sampai di muat dalam berpuluh puluh jilid kitab… Padahal bahannya satu yaitu Al-Qur’an dan Hadits.
Sebagai perumpamaan saja.. 

biji kacang kedelai, ini bahan sbg baku utama. 
Nah.. dari bahan baku utama tersebut akan menghasilkan beragam jenis olahan ~> cara pengelolaannya itu tergantung dari kecerdasan dan terampilnya seseorang, ada yang hanya bisa menggorengnya sehingga jadi cemilan kedelai, ada yang lebih pandai lagi dari sekedar itu, apalagi di zaman modern seperti sekarang ini dimana manusia telah banyak menguasai ilmu biotehnologi, sehingga dari kacang kedelai bisa di buat tempe dan penganan lainnya.
Ada lagi yang lebih hebat dari keduanya yaitu di oleh menjadi susu sehingga jadilah ia susu kedelai, dan ada juga minuman kaleng dari kedelai. 
Coba perhatikan dan renungkan, padahal bahan bakunya satu itu, yaitu kedelai…!!
Nah… kalau orang yang hanya bisa membuat cemilan kedelai lantas mengingkari susu kedelai dan mengatakan  “Tidak mungkin ini kedelai, mana ada kedelai cair ?”, Yah, hanya jadi bahan tertawaan orang yang sudah pintar yang sudah tau cara pengelolaan kedelai menjadi susu.. 
bagaimana agar tidak kelihatan bodoh begitu ?
Ya cari tahu… 

kalau bisa mencari pabrik susu kedelai dan melihat sendiri proses pembuatannya biar lebih mantap dan yakin…!! Bahkan haqul yakin..!!
Begitu juga, dg pendapat atau perilaku ulama Tasawwuf, ulama Thoriqoh, atau para Wali, bahkan pendapat para ulama Fuqoha’…. 
Kalau langsung main tuduh 

“Waah ini payah, gak sesuai syariat, soalnya lafadz Al-Qur’an dan haditsnya begini, kok ini bisa begini ?, Sesat nih..”
Ya sama aja, seperti kasus pembuat cemilan kedelai goreng tadi.. yang mengingkari susu kedelai
alasannya ingkar itu cuma satu khan ?? 
Bodoh gak mau belajar…. !! 
itu intinya..!!
Coba nanya sama ahli Fiqh, atau sama ahli Thoriqoh Tasawuf, inshaa Alloh akan menemukan jawaban yang memuaskan, baik berlandaskan kepada Al qur’an, hadits, maupun atsar sahabat. 
Jangan hanya berkutat pada cemilan kedelai goreng… huuu..

Ingat !!

ilmu Allah swt itu sangatlah luas dan tak bertepi, dan manusia ini hanya di beri sedikit saja oleh-NYA. 
Yang jelaaassss…. carilah :

ilmu fiqh kepada ahlinya, 

ilmu tauhid kepada ahlinya, 

tasawwuf kepada ahlinya, 

baru… ilmunya akan seirama, mapan dan tidak bengkok..
Mudah-mudahan saja bacaan ini ada banyak memberikan inspirasi dan manfaat untuk kita semua agar diri ini terhindar dan tak lagi mudah mengklaim orang lain sesat..!!
Mustinya kita berhusnudz-dzon bahwa barangkali ilmu kitalah yang belum sampai ke sana sebagaimana yang kita lihat pada diri dan perilaku para ulama Tasawuf… 

Hadza,. wAllahu A`lam bish-Showaab.

Maaf sebelumnya.. 

JIKA TIDAK SEPENDAPAT TOLONG ABAIKAN SAJA…

JANGAN JADIKAN PERDEBATAN…
TERIMAKASIH…

ALLAH MAHA NYATA (AD-DZAHIR )
Bagaimana mungkin sesuatu dapat mendidingi Allah,
Padahal Dia-lah yang mendhahirkan sesuatu
Bagaimana mungkin sesuatu dapat mendidingi Allah,
Padahal Dia-lah yang tampak pada segala sesuatu
Bagaimana mungkin Allah dapat didindingi oleh sesuatu,
Padahal Dia lebih nyata dari segala sesuatu
Bagaimana mungkin sesuatu dapat mendidingi Allah,
Padahal kalau tidak ada Dia, tidak ada sesuatu
Bagaimana mungkin sesuatu dapat mendidingi Allah,
Padahal Dia Maha Nyata sebelum segala sesuatu
(Al-Hikam)
 

Kata-kata diatas saya rangkum dari Kitab Al-Hikam, yang menunjukkan bahwa Allah itu benar-benar nyata, tanpa terselubung oleh apapun kecuali oleh nafsu dan disesatkan oleh akal pikiran kita sendiri. 
Dalam Asmaul Husna salah satu nama Allah adalah AD-DZAHIR artinya Maha Nyata. 
Silahkan maknai sendiri artinya menurut keinginan kita masing-masing . 
Kalau anda mengartikan makna Maha Nyata itu bahwa Allah telah menciptakan alam beserta isinya, dengan adanya alam ini menunjukkan Maha Nyata nya Tuhan maka sampai disitulah pemahaman anda.
Beberapa tulisan di sini telah pernah membahas tentang apakah Allah bisa dilihat ..
Disini saya tidak lagi mengajak kita semua untuk terus berdebat tentang bisa tidaknya Allah dilihat. 
Saya menganggap orang yang membaca tulisan ini sudah selesai dengan dalil-dalil berserta tafsirannya, sudah selesai dengan debat yang tidak berujung pada akhirnya akan semakin membingungkan diri sendiri. 
Saya menganggap anda adalah orang yang telah dibimbing oleh seorang Guru Mursyid, dengan demikian pertanyaannya bukan lagi apakah Allah bisa dilihat di dunia ini ? 
Akan tetapi pertanyaannya menjadi kapan saya bisa melihat Allah ? 
Lalu jalan apa yang saya tempuh agar Allah bisa memperlihatkan diri-NYA kepada saya ?.
Pertanyaan itu jauh lebih bermanfaat daripada anda terus menerus tidak mengakui bahwa Allah itu tidak bisa dijangkau oleh apapun, tidak bisa dilihat sama sekali dikarenakan Dia Maha segala-galanya. 
Disinilah letak kekeliruan besar yang selama ini tidak kita sadari. 
Kita menempatkan Tuhan itu disebuah menara yang tidak bisa dijangkau oleh apapun, Hampir seluruh agama menempat Tuhan di langit sebagai tempat tertinggi karena tidak ada tempat yang lebh tinggi di dunia ini selain dari langit. 
Kemahakuasaan DIA kita wujudkan dalam bentuk sulit dijumpai, semakin sulit kita jumpai akan semakin nampak bahwa DIA Maha segala-galanya.  
Kalau kita menempatkan DIA sebagai sesuatu yang Maha segalanya, jangan kita lupa bahwa Dia juga Maha Nyata, lebih nyata dari apapun. 
Dengan demikian maka kita semua diberi kesempatan untuk melihat Zat Yang Maha Nyata, sebagai bagian dari karunia-NYA.
“Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi, Aku ingin dikenal, maka aku ciptakan makhluk agar mereka mengenal-Ku”. 
Tuhan menciptakan makhluk supaya mengenal Dia dengan sebenar-benar kenal, berhubungan dengan mesra, terus menerus berdialog dengan Tuhan agar kita terus terbimbing kejalan-NYA.
 

Dimana Allah ?
Pertanyaan itu yang harus kita jawab terlebih dahulu sebelum kita bertanya bagaimana cara melihat Allah.  
Hampir disemua web/blog beraliran syariat (wahabi) memberikan jawaban bahwa Allah itu ada di Arasy, arasy itu berada dilangit dan harus diingat pula pengertian langit ini bisa terjadi multitafsir lagi, apa langit yang dimaksud itu yang sering kita lihat diatas kita berwarna biru kalau cerah kemudian berupa berwarna kelabu kalau mendung dan menjadi gelap kalau sudah malam.  
Kaum sufi tidak mengartikan langit itu dalam pengertian zahir seperti yang kita lihat, akan tetapi lebih kepada pengertian ruhani, sebagai kiasan maqam yang harus dilewati, sebagai 7 tempat atau 7 titik yang harus dibersihkan di dalam iktikaf/suluk lewat zikir secara kontinyu (Istiqamah). 
Dalam dalil lain disebutkan bahwa Allah itu ada dimana-mana, lalu bagaimana hubungan Allah yang berada di arasy dengan keberadaannya dimana-mana?. 
Bagaimana Dia yang lebih dekat dari urat leher ?
Untuk menjawab semua pertanyaan itu kita mulai dari dalil yang menyatakan rumah Tuhan adalah Qalbu (hati) orang mukmin sebagaimana Allah berfirman dalam hadist Qudsi:
“Sesungguhnya langit dan bumi tidak akan menampung Aku. Hanya hati orang beriman yang sanggup menerimanya.”
Kalau anda ingin mencari Allah jangan cari di gunung, di laut, di gereja, di mesjid atau ditempat-tempat lain, sudah pasti anda tidak akan menemukan Allah disana. 
Carilah dalam hati orang mukmin, disanalah Rumah Allah yang sesungguhnya. 
Kalau dalam hati anda telah bersemayam Allah, telah berdialog dengan Allah dan telah Nyata Allah dalam kehidupan anda maka dimanapun anda berada maka disitu anda akan menemukan DIA karena sesunguhnya Allah itu ada dimana-mana.
Kemudian anda bertanya, saya kan punya hati karena semua manusia diciptakan Allah memiliki hati kenapa saya tidak melihat Allah?
Kalau itu persoalannya.. saya akan tanyakan satu hal kepada anda. 
Dirumah anda kan punya TV ??

kalau TV itu tidak dihidupkan apakah bisa anda bisa menonton acara TV ?? 
Menyaksikan  pertandingan sepakbola secara langsung, nonton sinetron atau melihat wajah JOKOWI misalnya..?? 
Apakah semua itu bisa anda lakukan kalau TV anda mati ?? 
Jawabnya tentu TIDAK..!!
Sama dengan HATI anda…

kalau anda tidak bisa melihat Allah, itu berarti HATI ANDA MATI.. 
Kalau menghidupkan TV memakai energi listrik.. lalu menghidupkan HATI pakai apa dong ?? 
Menghidupkan HATI itu harus menggunakan Nur Allah melalui zikir dengan memakai Thariqat (metode) yang tepat dan dibawah bimbingan seorang yang Ahli (Mursyid).
Pengertian Allah lebih dekat dari urat leher karena tempat bersemayam Allah itu berada didalam hati orang mukmin, sangat dalam dan sangat dekat. 
Lewat hatilah kita bisa berhubungan terus menerus dengan DIA yang berada di Arasy. 
Logikanya.., 

suatu saat jika presiden JOKOWI sebagai pemimpin tunggal Indonesia dan tidak satupun yang menyerupai pangkatnya di Negara kita ini sdg berpidato di TV, maka akan ada jutaan wajah “Presiden” JOKOWI itu yg dapat disaksikan oleh masyarakat Indonesia lewat TV, bahkan bisa  ditonton oleh masyarakat seluruh dunia yg berjumlah milyaran.
Nah..apakah wajah Presiden itu  jumlah nya jutaan ?? 
Tentu TIDAK..!!

Beliau itu 1 tetapi berada dimana-mana, berada di dalam TV yang dihidupkan.
Dan pertanyaan berikutnya adalah bagaimana kita bisa melihat Allah ??
Dalam sebuah hadits Nabi bersabda, “Matilah dirimu sebelum kamu mati”. 
Dan seorang sufi bernama Abu Mu’jam mengatakan: 

“Barangsiapa yang tidak merasa mati, niscaya dia tidak dapat melihat/bermusyahadah kepada Al-Haq”
🔑Kunci seseorang bisa berjumpa dan melihat Allah adalah setelah MERASAKAN MATI.
Tentu mati yang dimaksud disini bukan nafas berhenti yaa.., kalau hal ini terjadi maka para nabi dan para wali tidak akan pernah berjumpa dengan Tuhan di dunia. 
MATI yang dimaksud disini adalah KEMATIAN RASA kemanusian kita setelah tenggelam dalam zikir, setelah mengalami 4 TAHAP MATI yaitu : 
– Mati Tabi’I (Zikir Qalbi), 
– Mati Ma’nawi (Zikir Lathifatul Ruh), 
– Mati Suri (Zikir Lathifatus Sirri) 
– Mati Hissi (Zikir Lathifatul Kullu Jasad).
Semua pengalaman mati itu hanya bisa didapat lewat Thariqatullah (jalan kepada Allah) dan sudah ada sejak zaman nabi yang dikenal dengan Thariqatussiriah (Jalan Rahasia). 
Kenapa disebut Jalan Rahasia ? 
Karena lewat jalan itulah kita bisa menuju kepada sang pemilik segala Rahasia, dan dengan jalan itulah kita bisa menemukan sesuatu yang Maha Nyata. 
Kalau anda belum menemukan jalan itu, segeralah mencari karena Allah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada kita untuk bisa berjumpa dengan-NYA. 
Tuhan tidak pernah menghalangi seluruh manusia untuk berjumpa dengan-NYA. 
Namun terkadang manusia merasa terlalu pandai dengan akalnya, terlalu bangga dengan logika sendiri yang pada akhirnya akan menyesatkan diri sendiri tanpa disadari. 
Imam Al-Ghazali memisalkan orang yang mencari Tuhan lewat logika dan filsafat itu ibarat seorang yang mempunyai kaki dari kayu, yang rapuh dan mudah patah.

hendaknya menjadi bahan renungan kita bersama, terutama untuk kaum yang sangat anti dengan Tarekat.  

Setelah kita membuang Tarekat, kita bid’ahkan, bahkan kita sesatkan, padahal ini merupakan metode yang digunakan oleh para Wali dan para Nabi dari sejak dahulu kala dan sudah terbukti kebenarannya. 
Kemudian setelah kita tuduh Tarekat sebagai pembuat bid’ah dan dengan serta merta mencampakkan sebagai suatu aliran yang “sakit” maka yang  terjadi kemudian adalah kita semua akan dibuat bingung dengan keberadaan Allah dan sudah pasti dengan segala argumen kaum yang tidak memakai Metode (thariqat) yang benar tidak akan bisa menjawab dimana keberadaan Allah, semua sepakat dengan suara bulat mengatakan bahwa Allah itu tidak bisa dijumpai, ya jelas saja karena mereka sudah membuang metodenya koq..
Kalau sampai saat ini anda masih memahami Allah itu Maha Gaib maka sekali lagi saya menganjurkan carilah ilmu yang bisa membawa anda menuju kepada Maha Nyata, bersungguh-sungguhlah anda dijalan itu dan pasti anda akan mencapai kemenangan (Al-Maidah-35). 
Saya tutup tulisan ini dengan mengutip  sebuah iklan:
Hari gini Allah masih gaib, apa kata dunia..!:)
Salam santun

Iklan