Di dalam kitab tafsir Ruhul Bayan karangan seorang ulama tasawuf ahli Thariqat Khalwatiyah Ismail Haqqy bin Musthafa al-Istanbuly al-Hanafy al-Khalwaty (w. 1127 H/1715 M) disebutkan bahwa :

  • IMAN menurut syariat adalah meyakini dg hati, mengakui dg lisan dan mengerjakan dg amal perbuatan.

Pengertian ISLAM menurut syariat adalah Tunduk dan Patuh.
Maka setiap yang ber-IMAN pasti telah ISLAM .
Namun…
Tak berarti setiap yang ISLAM berarti telah ber-IMAN
Adapun pengertian ISLAM menurut hakikat sebagaimana sabda Nabi Muhammad Salallahu Alaihi Wassalam : 
Menyaksikan Tiada Tuhan Selain Allah
Sedangkan pengertian IMAN secara hakikat sebagaimana firman Allah :
“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk khusyuk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras (tidak dapat ingat Allah). Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik”. (QS. Al Hadiid:16)
(d.p.l : Belumlah dikatakan seseorang itu beriman (dengan benar) bila hatinya belum dapat khusyu’ mengingat Allah )
Dari pengertian IMAN secara syariat dan hakikat ini, imam Al Gazali membagi manusia menjadi 3 tingkatan :
I. IMANnya orang awam
Imannya kebanyakan orang yang tidak berilmu. Mereka beriman karena Taklid semata.
Perumpamaannya : kalau kamu diberitahu oleh orang yang sudah kamu uji kebenarannya, dan kamu mengenal dia belum pernah berdusta, serta kamu tidak merasa ragu atas ucapannya, maka hatimu akan puas dan tenang akan berita orang tadi dg semata-mata hanya mendengar saja.
Ini adalah perumpamaannya iman orang-orang awam yg Taklid.
Mereka beriman setelah mendengar dari ibu-bapak dan guru-guru mereka tentang adanya Allah dan Rasulul-NYA dan kebenaran para Rasul itu beserta apa yang dibawanya.
Dan seperti apa yg mereka dengar itu, mereka menerimanya serta tak ada terlintas di hati mereka adanya kesalahan-kesalahan dari apa yg dikatakan oleh orang tua maupun guru-guru mereka.
Mereka merasa tenang dgnya karena mereka berbaik sangka kpd bapak, ibu, dan guru-guru mereka, sebab orang tua tidaklah mungkin mengajarkan yg salah kpd anak-anaknya, guru juga tidak mungkin mengajarkan sesuatu yang salah kepada muridnya.
Karena kita percaya kepada orang tua dan kepada guru, maka kitapun beragama Islam.
Iman yg semacam ini tidak jauh berbeda dg imannya kaum NASRANI dan YAHUDI, yang juga merasa tenang dg hal-hal yg mereka dengar dari orang tua dan guru-guru mereka.
Bedanya adalah mereka menerima ajaran yang salah dari orang tua dan guru-guru mereka, sedangkan orang-orang Islam mempercayai kebenaran itu bukan karena melihat kebenaran karena penyaksiannya terhadap Allah, tetapi karena mereka telah diberikan ajaran yang HAQ, yang benar.
II. IMANnya orang-orang ahli Ilmu Kalam
yaitu dimana mereka beriman cukup berdasarkan dalil Aqli dan Naqli, dan mereka puas dg hal itu. 
Iman tingkat ke II ini tidak ada bedanya dg iman tingkat ke I, sebagai contoh :
Jika ada seseorang yg mengatakan si A itu ada di rumah dan kamu mendengar suaranya, maka bertambahlah keyakinan mu karena suara itu menandakan adanya si A di rumah tsb. Lalu hatinya menetapkan suara tsb adalah suara si A.
Iman pd tingkat ini adalah iman yg bercampur baur dg dalil dan kesalahan pun juga mungkin terjadi, karena mungkin saja ada yg menirukan suara tadi, tetapi yg mendengar tadi merasa yakin dg apa yg telah didengarnya, karena ia tidak berprasangka buruk sama sekali dan tidak menduga ada maksud penipuan dan peniruan.
III. IMANnya orang-orang ahli Makrifat yang telah mempelajari Tarekat.
Mereka beriman kepada Allah dengan pembuktian melalui penyaksian kepada Allah.
Seumpamanya : kamu masuk kedalam rumah, maka kamu akan melihat si A itu dg pandangan mata mu. Inilah makrifat yg sebenarnya dan inilah yg dikatakan iman yg sebenarnya, karena mereka beriman dg pembuktian melalui penyaksian mata hatinya, maka mustahil jika mereka terperosok ke jurang kesalahan.
Dari ke 3 tingkat keimanan tsb dapat kita ketahui bhw hanya orang-orang ahli Makrifat dan orang-orang ahli Tarekat lah yang dikatakan benar-benar telah beriman kepada Allah.
Adapun imannya orang-orang awam dan imannya orang-orang ahli Ilmu Kalam adalah beriman secara syariat, namun secara hakikat mereka belum beriman kepada Allah. Ini disebabkan karena ketidak adaan ilmu dan ketidak tahuan mereka.
Jadi dg mempelajari Tarekat lah kita baru dapat lepas dari SYIRIK KHAFI (Syirik yang tersembunyi) dan SYIRIK JALI (Syirik yang nyata)
Kita patut bersyukur kepada Allah karena kita tergolong pd tingkat iman yg ke III, yaitu imannya orang-orang ahli marifat, yang tentunya peringkat ini hanya bisa dicapai oleh orang-orang yg mempelajari ilmu Tarekat..~> Karena tanpa ber-Tarekat mustahil Allah dapat dikenal.
Namun mayoritas umat Islam saat ini tidak mau mempelajari ilmu Tarekat atau ilmu Hati, sehingga mereka tidak mengenal Tuhan yg mereka sembah, dan sesungguhnya mereka berada pada kesesatan yang nyata.
Sebagaimana firman Allah pd surah az Zumar ayat 22
أَفَمَن شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِّن رَّبِّهِ فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ أُوْلَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (QS Az-Zumar 39 : 22)
Demikianlah celaan Allah terhadap orang-orang yang tidak dapat mengingat-NYA, yang disebabkan katena mereka tidak mempelajari ilmu soal hati. Namun kebanyakan orang Islam saat ini tidak tahu kalau mereka itu tidak tahu.
Mereka menganggap amal ibadah mereka itu dapat diterima oleh Allah Ta’ala karena merasa bhw Tauhid mereka telah sempurna, padahal sesungguhnya mereka berada dalam kesesatan yg nyata.
Tentu bagi kita yg telah memperoleh ilmu dan pengenalan kepada Allah, tentu kita mempunyai kewajiban untuk berdakwah dalam rangka mekepaskan umat manusia dari kesesatan karena tidak mengenal Allah. 
Dan didalam berdakwah tentunya harus dilakukan dg arif dan bijaksana.
Allah berfirman: 
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS. An-Nahl 16:125)
●Dakwah BIL HIKMAH adalah dakwah yang ditujukan pd orang yg alim atau orang yg berilmu.
●Dakwah dg MAUIZATIL HASANAH adalah dakwah yg ditujukan pd orang yg awam atau orang yg bodoh dg cara memberikan nasehat yg baik.
Ada 2 jenis orang bodoh yg harus kita ketahui sebagai sasaran dakwah kita, yaitu :
– Orang bodoh yg mau belajar.
maka tunjukilah dia, karena memang dia jauh dari panduan dan petunjuk, sedangkan kuat niatnya untuk menambah ilmu pengetahuan dan ketaatan ibadah.
– Orang bodoh yg tidak tahu kalau dirinya tidak tahu dan tidak mau tahu.
Maka janganlah dekati dia dan tak usah buang-buang waktu untuk mendakwahinya karena orang seperti ini adalah syetan yg berwujud manusia.
Pintarnya tidak dapat diturutkan, bodohnya tidak dapat ditunjukkan, ia lebih bodoh daripada keledai, lebih bebal dari lembu. Tinggalkanlah dia sampai Allah Ta’ala yg akan merubahnya.
Kalau menghadapi orang bodoh saja sudah sulit, tentu lebih sulit berdakwah kepada orang yg berilmu, dikarenakan kesombongan yg ada pd mereka karena merasa telah banyak memiliki ilmu.
Orang alim yg seperti ini disebut orang alim yg tanggung, ilmunya ke atas tak sampai, ke bawah tak jejak, yang selalu berebut pengaruh di masyarakat dan berdakwah di sana sini.
Mereka bagaikan cendawan yang tumbuh menonjol di sana sini sambil membusungkan dada dg banyaknya ilmu yang tak bersari.
Sungguh sedih dan kasihan melihat orang yg seperti ini, disangka emas.. rupanya imitasi.
Maka ajaklah mereka ini untuk mengenal Allah dg cara yg bijaksana, karena mereka terhijab oleh ilmu yg mereka miliki…

Salam persaudaraan

Iklan