Firman Allah Swt.:
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia dengan bentuk yang sebaik-baiknya”.
Hadits Qudsi, firmanNya :
“Sesungguhnya manusia itu rahasiaKu dan Akulah yang menjadi rahasianya. Dan rahasia itu sifatKu dan sifatKu tiada lain, Aku lah juga”.
Mengenai soal makrifat, Allah Swt. berfirman dalam hadits Qudsi:
“Akulah perbendaharaan yang tersembunyi. Aku ingin supaya dikenali (di makrifati), maka Aku jadikan alam ini, maka mereka makrifat kepadaKu”.
FirmanNya lagi:
“Sesungguhnya Allah Swt. memerintahkan kamu (manusia) melaksanakan amanah kepada yang berhak (Allah Swt.)”.
Jadi taraf kemuliaan sesorang hamba Allah Swt. itu adalah bergantung sejauh mana taraf makrifatnya kepada Allah Swt.. 
Jika kita sempurna mencapai tahap sebenar-benarnya makrifat, jadilah kita sebaik-baik makhluk sebagimana firmanNya:
“Sesungguhnya yang beriman dan beramal soleh, mereka itu adalah sebaik baik makhluk”.
Tapi sebaliknya sekiranya kita gagal untuk mengembalikan amanah untuk makrifatullah maka jadilah kita sebagimana yang di firmankan:
“Kemudian Kami kembalikan dia di tempat yang serendah-rendahnya sesudahnya”
Dan firmanNya lagi:
“Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk”.
Baik buruknya manusia adalah bergantung kepada tahap-tahap kesucian batinnya atau nafsunya.
 Sabda Rasulullah Saw.:
“Sejahat-jahat musuh engkau ialah nafsu engkau yang terletak di antara dua lambung engkau”
 

Jenis-jenis nafsu yang dijabarkan dalam tulisan ini adalah:
– Amarah,
– Lawammah,
– Mulhammah,
– Mutmainah,
– Radhiah,
– Mardhiah,
– Kamaliah,

 ● NAFSU AMARAH
 adalah martabat nafsu yang paling rendah dan kotor di sisi Allah Swt.. 
Segala yang lahir darinya adalah tindakan kejahatan yang penuh dengan perjalanan mazmumah (kejahatan/keburukan). 
Pada tahap ini hati nurani tidak akan mampu untuk memancarkan sinarnya karena hijab-hijab dosa yang melekat tebal, dan lapisan lampu makrifat benar-benar terkunci. 
Dan tidak ada usaha untuk mencari jalan menyucikannya. Karena itulah hatinya terus kotor dan diselaputi oleh berbagai 

macam penyakit.
Firman Allah Swt.:
“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah Swt. penyakitnya”
“Sesungguhnya nafsu amarah itu senantiasa menyuruh manusia berberbuat keji (mungkar)”
“Bahkan manusia itu hendak berberbuat maksiat terus menerus”
Dalam kehidupan sehari-hari segala hukum, halal-haram, perintah dan larangan tidak pernah di ambil peduli. Malah berbuat kejahatan itu sudah sejati. 
Tidak ada penyesalan, malah kadang-kadang bangga berbuat jahat. 
Contohnya dia berbangga dapat merusakkan anak gadis orang, bangga dengan kehidupan jahat, minum minuman keras, berjudi, pergaulan bebas malah jadi meniru kehidupan barat melebihi dari orang barat. 
Bagi mereka pada peringkat nafsu ini, konsep hidupnya adalah hidup sekali, jadi masa mudalah untuk berbuat sepuas-puasnya tanpa mengenal batas-batas. 
Baik jahat adalah sama saja di sisinya tanpa ada perasaan untuk menyesal. 
Malah kadang-kadang bila jadi berbuat jahat seolah-olah terdapat perasaan lega dan puas. 
Itulah sebabnya kadang-kadang ada yang dapat mengawasinya dari menjalankan sesuatu yang jahat.
Sudah jadi hobi, hatinya telah dikunci oleh Allah Swt. sebagimana firmanNya :
“Tidaklah engkau perhatikan orang-orang yang mengambil hawa nafsunya (amarah) menjadi Tuhan dan dia disesatkan oleh Allah Swt. karena Allah Swt. mengetahui (kejahatan hatinya) lalu Allah Swt. mengunci mati pendengarannya (telinga batin) dan hatinya dan penglihatannya (mata hatinya) dibuat penutup. ”
Manusia pada peringkat nafsu amarah ini bergembira bila menerima nikmat tetapi berduka cita dan mengeluh bila tertimpa kesusahan.
Firman Allah Swt. : 
“Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa suatu musibah akibat kesalahan tangan mereka sendiri, lantas mereka berputus asa.”
Jelasnya pada peringkat ini segala tindak tanduknya adalah menuju dan mengikuti apa kehendak syaitan yang telah menguasai sepenuhnya. 
Rupa saja manusia, tapi hati dikuasai syaitan.
Pada peringkat ini, manusia itu tidak makan nasihat, diTegur bagai manapun. dia tetap tidak akan berubah kecuali diberi hidayah olehNya.
Mereka tidak pernah takut pada Allah Swt. dan hari pembala’san. Malah meremehkan tersebut. Mengejek dan mencemooh. 
Mereka tidak pernah peduli dengan ancaman Allah Swt. seperti :
“Akan dicampakkan ke dalam neraka jahanam dari golongan jin dan manusia yang mempunyai hati tidak mengerti, mempunyai mata tidak melihat, mempunyai telinga tidak mendengar. Mereka itu adalah binatang malah lebih hina dari binatang karena mereka termasuk di dalam golongan yang lalai”.
Mereka suka mencela orang lain, memperbodohkan kelemahan orang lain dan melihat dirinya sendiri serba sempurna. 
Mereka tidak pernah menyandarkan hasil usahanya kepada Allah Swt. 
Mereka fikir apa saja kesempurnaan mereka adalah hasil titik peluh diri sendiri.
Jiwa mereka pada tahap ini adalah kosong dan hubungan dirinya dengan Allah Swt. boleh dikatakan tidak wujud.
Dalam penerimaan ilmu, orang yang bernafsu amarah hanya berupaya menerima ilmu diperingkat ilmu Qalam. Terutamanya yang mementingkan soal-soal lahiriah dunia saja. Tidak ada minat kepada pelajaran agama dan hari akhirat. 
Pada peringkat ini tidak ada peluang sama sekali untuk menerima hal ghaib dan ilmu syahadah selagi hatinya kotor dan tidak disucikan dengan pembersihan zikrullah yang mempunyai wasilah bai’ah dengan Rasulullah Saw. 
Untuk membebaskan diri dari cengkaman nafsu ini hendaklah menemukan jalan wasilah ilmu Rasulullah Saw. dengan menerima petunjuk ajaran dari ahli zikir yaitu guru mursyid yang dapat memberikan petuah-petuah penyucian diri dan penyucian jiwa yang mempunyai mata rantai dengan Rasulullah Saw.
Sabda Rasulullah Saw. :
“Tiap sesuatu ada alat penyucinya dan yang menyuci hati ialah zikir kepada Allah Swt.”
Pada tahap amarah ini kalau berzikirpun hanya dibibir saja tanpa meresap ke dalam jiwa. 
Amarah tidak mengenal siapa, malah ahli kitab sekalipun, walaupun ada kelulusan pengAjaran, walupun berserban dan berjubah. Amarah tidak pernah takut dengan semua itu, malahan ia senang menyerang. Yang ia takuti hanyalah zikrillah.
Sabda Rasulullah Saw.:

“Sesungguhnya syaitan itu telah menaruh belalainya pada hati manusia, maka apabila manusia itu berzikir kepada Allah Swt., maka mundurlah syaitan dan apabila ia lupa, maka syaitan itu menelan hatinya”

● NAFSU LAWWAMAH
ialah nafsu yang selalu mengkritik diri sendiri bila berperilaku suatu kejahatan dosa atas dirinya. Ia lebih baik sedikit dari nafsu amarah. 
Karena ia tidak puas atas dirinya yang menjalankan kejahatan lalu mencela dan mencerca dirinya sendiri. Bila berbuat salah dia lebih cepat sadar dan lalu mengkritik dirinya sendiri. 
Perasaan ini sebenarnya timbul dari sudut hatinya sendiri bila berbuat dosa, seperti automatis terbitlah seperti bisikan dilubuk hatinya. Inilah yang dikatakan lawwamah. 
Bisikan hati seseorang akan melarang dirinya menjalankan sesuatu yang keji itu timbul seperti spontan. Cepat merasa bersalah kepada Allah Swt. dan Rasulullah atas keterlanjurannya. 
Ia ibarat taufik dan hidayah Allah Swt. untuk memimpinnya kembali dari kesesatan dan kesalahan kepada kebenaran dan jalan yang lurus. 
Rasulullah Saw. bersabda:
“Apabila Allah Swt. menghendaki kebaikan kepada seseorang, maka Allah Swt. akan menjadikan untuknya penasihat dari hatinya sendiri”
“Barangsiapa yang hatinya menjadi penasihat baginya, maka Allah Swt. akan menjadi pelindung ke atasnya. ”
Bila seseorang itu meningkat ke martabat nafsu lawwamah, tetapi tidak mematuhi isyarat lawwamah yang memancar di hatinya, maka lama-kelamaan isyarat ini akan padam dan gelap… Hingga jatuhlah kembali pada tahap nafsu amarah kembali. 
Oleh Sebab itu kadang-kadang kita lihat sebentar orang itu baik, sebentar berubah jahat kembali. 
Kemudian berubah balik baik kembali. Inilah bolak balikkan hati yang di sebabkan oleh keadaan nafsunya yang berubah-ubah.
Firman Allah Swt.:
“Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti (suruhan jahat) mereka setelah datang ilmu (isyarat lawwamah) kepadamu, sesungguhnya kamu termasuk dalam golongan orang-orang yang zalim”
“Sesungguhnya petunjuk Allah Swt. ialah petunjuk yang sebenarnya. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan (jahat dan keji) mereka, setelah ilmu diperoleh (datang kepadamu) maka Allah Swt. tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu”.
Pada tahap lawwamah ini masih bergelimang dengan sifat-sifat mazmumah tapi jumlahnya berkurang sedikit. Keinsafan memancar. 
Sekiranya dia terus mematuhi isyarat lawwamah yang ada, sedikit demi sedikit sifat-sifat keji dapat dihapuskan. 
Pada peringkat ini dia banyak meneliti diri sendiri dan merenungkan segala kesalahan yang lampau. 
Bila perasaan menyesal datang, orang-orang pada peringkat ini Sangat mudah mengeluarkan air mata penyesalan. Kerap menangis dalam solat, atau bila sendirian, sewaktu berzikir, bersolawat. Air matanya bukanlah disengaja tetapi berprilaku seperti spontan. Inilah dikatakan tangisan diri. 
Pada peringkat ini akan banyak mengkaji dan meneliti alam dan kejadian. Malah senantiasa membandingkan sesuatu dengan dirinya. 
Mereka juga menjadi gila untuk beribadat dan cenderung kepada perbincangan berkaitan soal mengenal diri dan akan jemu dengan persoalan yang tidak berkaitan dengan agama. 
Perubahan ini bisa jadi mendadak sekiranya kita terjun ke alam tasauf.
Rasulullah Saw. bersabda:
“Bahwasanya orang-orang mukmin itu perhatiannya pada solat, puasa dan ibadat dan orang munafik itu perhatiannya lebih kepada makanan dan minuman seperti halnya binatang”
“Sedikit taufik adalah lebih baik dari banyak berfikir dan berfikir perkara duniawi itu mencemaskan dan sebaliknya berfikir perkara agama pasti mendatangkan kegembiraan”
Pada tahap ini sudah mementingkan akhirat dari dunia.
Firman Allah Swt.:
“Aku bersumpah dengan nafsu lawwamah”
Sebagai contoh kalau tertinggal sembahyang terdapat perasaan kecut hati dan cepat menyesal.
Sifat nafsu lawwamah adalah:
Mencela diri sendiri,
Bertafakur dan berfikir,
Berbuat kebajikan karena ria,
Kagum pada diri sendiri yakni ‘ujub,
Berbuat sesuatu dengan sum’ah agar dipuji.
Tidakjub pada diri sendiri,
Siapa yang merasa berdegup di hati, sifat seperti di atas itu menandakan masih berada pada tahap nafsu lawwamah yg terdapat pada kebanyakan orang awam.
Harus kuat berzikir untuk menembus dan menyucikan sisa-sisa karat hati. 
Zikir pada peringkat nafsu ini masih dibibir tetapi kadang-kadang sudah akan meresap masuk ke lubuk hati, tetapi dalam keadaan yang tidak istiqamah. 
Pada peringkat ini memang sudah timbul gila beribadat sehingga kadang-kadang merasa dirinya ringan dan melayang, kadang-kadang bagai hilang dirinya. 
Rasa seperti kesemutan berderet diseluruh tubuhnya terutama pada bagian tulang belakang dan tangannya. Keadaan begini menimbulkan keasyikan bagi yang menjalankannya dengan amalan zikir dan ibadat lain.
Pada peringkat ini sudah bisa menerima sedikit ilham hasil dari zauk dan kadang-kadang mengalami mimpi yang perlu ditafsir kembali oleh guru. 
Bila keterusan dengan petuah dan amalan yang diberikan oleh guru Inshaa Allah.. nafsu lawwamah ini akan meningkat kepada tahap seterusnya.

● NAFSU MULHAMAH
ialah nafsu yang sudah menerima latihan beberapa proses kesucian dari sifat-sifat hati yang tercemar melalui latihan sufi/tariqat (amalan guru) lainnya yang mempunyai sanad dari Rasulullah Saw. 
Nafsu ini lebih baik dari amarah dan lawwamah.
Kesucian hatinya telah menyebabkan segala lintasan kotor atau was-was syaitan telah dapat dibuang dan diganti dengan ilham dari malaikat atau Allah Swt..
Firman Allah Swt.:
“Diami nafsu (manusia) dan yang menjadikannya (Allah Swt.) lalu diilhamkan Allah Swt. kepadanya mana yang buruk dan mana yang baik, sesungguhnya dapat kemenanganlah orang yang menyucinya (nafsu) dan rugilah (celakalah) orang yang mengotorkannya (nafsu).
Maqom nafsu ini juga dikenal dengan nafsu samiah. 
Pada peringkat ini amalan baiknya sudah mengatasi amalan kejahatannya. Sifat mazmumah telah diganti dengan mahmudah. 
Sikap beribadat telah tebal dan amalan guru terus diamalkan dengan lebih tekun lagi.
Penyesalan pada peringkat lawwamah tadi terus bersejati di dalam jiwa. Isyarat lawwamah senantiasa subur. 
Sesungguhnya taubat orang peringkat mulhamah ini adalah “taubatan nasuha”. Bukan saja di mulut tetapi hakiki.
Dalam kehidupan sudah terbina satu sikap yang baik, tabah menghadapi godaan, bila terlintas sesuatu yang ke arah maksiat coba-coba memohon kepada perlindungan dari Allah Swt..
Firman Allah Swt. :
“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan, maka berlindunglah kepada Allah Swt., sesungguhnya Allah Swt. Maha Mendengar dan Maha Mengetahui.
Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa, bila mereka ditimpa was-was dari syaitan, mereka ingat kepada Allah Swt., maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahan. ”
Sabda Rasulullah Saw. :
“Barangsiapa yang merasa gembira dengan kebaikannya dan merasa susah (gelisah) dengan kejahatan yang dijalankan, maka mereka itu orang-orang mukmin”
Zikir pada tahap ini telah menyerap kedalam lubuk hatinya bukan sekadar lewat dibir saja lagi. Malah sudah menerima hakikat nikmat zikir dan zauk. 
Bila disebut nama Allah Swt. rindunya Sangat besar, berdesir darahnya dan gemetar tubuhnya tanpa disengaja.
Firman Allah Swt. :
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu, bagi mereka apabila disebut nama Allah Swt., niscaya gemetarlah seluruh hati mereka”
Perasaan ini terus menjalar sehingga bertemu kekasihnya.
Sifat-sifat yang bernafsu mulhamah :
1. Sifat-sifat ketenangan, lapang dada dan tidak putus asa,
2. Tidak sayang akan harta,
3. Qanaah,
4. Berilmu laduni,
5. Merendahkan diri/ tawwadu’,
6. Taubat hakiki,
7. Sabar hakiki,
8. Tahan ujian dan dpt menanggung kesusahan.
Mereka pada tahap ini akan masuk ke pada maqom wali yakni kerapkali akan mencapai fana yang menghasilkan rasa makrifat dan hakikat (syuhud) tetapi belum teguh dan kemungkinan untuk kembali kepada sifat yang tidak baik masih ada. 
Kebanyakan orang cepat terhijab pada masa ini karena terlalu asyik dengan anugerah Allah Swt. padahal itu hanyalah ujian semata-mata.
Dalam ilmu mereka bukan saja menguasai ilmu qalam malah sudah dapat menguasai ilmu ghaib, menerusi tiga bagian ilmu laduni yaitu 

– nur,  

– tajalli  

– laduni di peringkat sir. 
Yang dimaksudkan dengan laduni peringkat sir ialah menerusi telinga batin yang terletak ditengah-tengah kepala yang biasanya dipanggil bagian tanaffas. 
Suara yang diterima amat jelas sekali. Tidak ubah seperti mendengar suara telepon. Pada saat yang sama pendengaran zahir tetap tidak terganggu walaupun saat menerima laduni sir itu ada kawan berbincang. 
Biasanya suara ghaib itu adalah waliyulah atau anbia yang merupaka guru-guru ghaib yang bertugas mengajar ilmu ghaib pada mereka yang diperingkat mulhamah. 
Tapi perlu diingat guru murysid zahir kita tetap guru. Malah Guru mursyid kita sebenarnya telah berkomunikasi terlebih dahulu dengan guru-guru ghaib ini. 
Oleh Sebab itu kalau tidak ada murysid kita akan terpedaya dengan syaitan dan jin yang menyamar. 
Pembukaan telinga batin ini pada awalnya berperilaku seakan suatu bisikan suara yang dapat dibagian dalam telinga, dimana merasa berdesing, kemudian barulah dapat dengar jelas.
 Zikir tetap meningkat. 
Pada peringkat inilah Allah Swt. berfirman:
“Orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir kepada Allah Swt. Diingatlah hanya dengan berzikir kepada Allah Swt. sajalah hati menjadi tenteram”.

● NAFSU MUTMAINAH
Inilah peringkat/martabat nafsu yang pertama yang benar-benar diridhai Allah Swt. seperti kesempurnaan yg kita nyatakan di atas. Yang layak masuk syurga Allah Swt. 
Maknanya.. siapa sampai pada maqom ini berarti syurga tetap terjamin, InshaaAllah Hakikat inilah yang difirmankan Allah Swt. :
“Wahai orang yang berjiwa/bernafsu mutmainnah, pulanglah kepangkuan Tuhanmu dalam keadaan ridha meridhai olehNya dan masuklah ke dalam golongan HAMBAKU dan masuklah ke dalam syurgaKU”.
Pada peringkat ini jiwa mutmainnah merasakan ketenangan hidup yang hakiki yang bukan dibuat-buat. Tidak ada lagi perasaan gelisah. Semuanya lahir dari tauhidnya yang tinggi dan mendalam. Tauhid yang sejati dan hakiki. Tidak ada lagi perbedaan senang dengan susah baginya sama saja. 
Pada maqom inilah mendapat derajat wali kecil.
Sifat-sifat maqom ini adalah :
1. Taqwa yang benar,
2. Arif,
3. Syukur yang benar,
4. Tawakkal yang hakiki,
5. Kuat beribadat,
6. Ridha dengan ketentuan Allah Swt.,
7. Murah hati dan berbuat bersedekah,
8. Dan lain-lain sifat mulia yang tidak dibuat-buat.
Pada maqom ini biasanya (walaupun tidak semestinya), akan ada keramat-keramat yang luar bisa serta mendapat ilmu dengan tidak bersusah payah belajar sebab sudah dapat memahami rahasia-rahasia dari LuhMahfuz. 
Adanya sifat lidah masin.. Apa yang keluar dari mulut bukan sembarangan lagi bahkan yang dipanggil bagi ‘inkisaf’. 
Mereka sudah menguasai ilmu peringkat nur, tajalli, sir dan juga sirussir, yaitu lebih tinggi dari maqom mulhamah. 
Yang dikatakan menerusi sirussir ialah penerimaan dengan telinga dan mata batin. Kalau mulhammah tadi baru terbuka dengan telinga batin tanpa mata batin. 
Dengan mata batin inilah dia berupaya melihat sesuatu yang ghaib yang tidak mampu dilihat oleh mata biasa kita. Malah dapat melihat sesuatu yang akan terjadi pada masa akan datang. Betul-betul bagai melihat TV. 
Perlu diingat pada peringkat ini dia tidak terganggu penglihatan dan pendengaran zahirnya pada saat yg sama melihat dan mendengar yang batin walaupun duduk di kedai kopi bersama-sama orang lain. Melalui penerimaan sirussir ini dia berupaya melihat alam barzakh, menjelajahi alam-alam. Keyakinan mereka sudah pada tahap ainul yakin dan haqqul yakin.
Fana juga bisa berperilaku yang dikenali bagi “fana qalbi” yaitu merupakan penafian diri ataupun menafikan maujud dirinya dan dinisbatkan kepada wujudnya Allah Swt. semata-mata. Inilah peringkat yang kita sebut LAA MAUJUD ILLALLAH 
Keadaan inilah yang digambarkan Allah Swt. :
“Semua yang ada adalah fana (tiada wujud hakikinya). Dan yang kekal (baqa) itu adalah wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan” 
Namun fana qalbi ini tidaklah kekal.

● NAFSU RADHIAH
Maqom ini dinamakan radhiah karena perasaan keridhaan pada segala ketentuan dan hukuman Allah Swt. 
Pada maqom ini sudah tidak ada rasa takut dengan bala’ Allah Swt. dan tidak tahu susah dan gembira dengan nikmatNya. Akan sama saja yang dirasakan. Yang penting Allah Swt. ridha padaNya. 
Kalau sakitpun sudah tidak perlu obat, sebab bagi dia sakit itulah nikmat karena dia merasa makin dekat dengan tuhannya. Dunia sudah dipandang kecil , malah sudah tidak dipandang lagi sebaliknya dunia yang datang kepadanya.
Firman Allah Swt. :
“Sesungguhnya wali-wali Allah Swt. itu tidak merasa ketakutan dan tidak pernah merasa kerugian di atas mereka”.
Ini karena nur syuhud sudah sejati dalam jiwa mereka. Alam sekeliling seperti cermin yang bisa mereka melihat Allah Swt. setiap saat. Ini adalah maqom musyahadah tahap ihsan seperti hadits Rasulullah Saw.:
“Hendaklah kamu menyembah Allah Swt. bagimana kamu melihatNya… ”
Ini adalah maqom wali dalam martabat khawas.
Pada masa inilah apa yang diisyaratkan oleh rasulullah Saw.:
“Takutlah akan firasat orang mukmin, bahwasanya orang-orang mukmin itu melihat dengan Nur Allah Swt.”.
“Pada tahap radhiah ini, ia melihat melalui basyirahnya, merenung dengan kasyafnya, bertindak melalui perintah ilmu laduninya. Mulutnya dan doanya Sangat mustajab. apa yang diinginkan langsung terjadi. ”
Orang dimaqom ini kadang-kadang perbuatannya menyalahi syariat. Percakapan kadang-kadang menyinggung orang bisa yang tidak faham tapi dikeluarkan tanpa sengaja. Masih mengalami fana qalbi. tapi tidak menentu. 
Hidupnya ibarat mengalami gelora cinta seolah-olah terapung bersama-sama Allah Swt. Hanya memandang dan menyaksikan sesuatu bahwa tiada sesuatu yang wujud di dunia ini melainkan wajah Allah Swt. semata-mata:
Firman Allah Swt.:
“Di mana saja kamu menghadap, maka disitulah wajah Allah Swt.
Itu yang terjadi pada Al Junaid : Tiada apa dalam jubahku, melainkan Allah Swt.
Mereka sudah memandang yang banyak kepada satu. Keadaan inilah bisa menimbulkan fitnah, malah kadang-kadang orang akan dianggap gila. Inilah maqom Ana’al Haq-Mansur Al-Hallaj.
Zikir pada peringkat ini adalah seperti ‘khafi’ yang telah meliputi seluruh anggota zahir dan batinnya. 
Pada peringkat inilah kulit berzikir, daging berzikir, tulang berzikir, malah semuanya berzikir. Itu yang menjadikan darah Al-Hallaj membentuk tulisan Allah Swt. lalu keluar zikir, malah kematian wali-wali, masih terdengar zikir di badannya. Kadang-kadang mereka dijemput menjelajah alam ghaib kubra yang diluar akal manusia. 
Mereka mampu berhubungan langsung dengan para rasul, nabi, ambia dan waliyullah yang lain. Mereka menuntut ilmu dengan aulia bagai berbincang dengan kawan melalui handphone, malah bisa berinteraksi beramai-ramai walaupun masing-masing berada di berbeda tempat.
Sifat-sifatnya:
1. Ikhlas,
2. Warak,
3. Zahid,
4. Dan lain-lain lagi yang baik yang ada pada maqom sebelum ini.

● NAFSU MARDIAH
Pada peringkat ini segala yang keluar darinya (semuanya) telah diridhai Allah Swt. 
Kata-katanya, diamnya semuanya atas izin Allah Swt. Akan keluar keramat yang luar bisa. Mereka sudah menanam ingatan pada Allah Swt. 
diteras lubuk hati mereka menerusi bagai “khafi-filkhafi”, maknanya seperti penyaksiaan ‘basitiah’ yaitu penyaksian sifat ma’ani Allah Swt. yang nyata dan dizahirkan oleh diriNya sendiri. 
Af’al diri mereka sudah dinafikan dan dinisbahkan seperti langsung kepada af’al Allah Swt. 
Jiwa mereka betul-betul sejati, ingatan mereka terhadap Allah Swt. tidak sesaatpun berpisah darinya. 
Penyaksiaan terhadap hak sifat Allah Swt. jelas baginya, sehingga hilang dirinya nya sendiri. 
Inilah spt yg dinyatakan oleh Abu Yazib Bistami: 
“Subha Inni.. “.
“Pandanglah yang satu pada yang banyak”.
Peringkat ini sudah tenggelam dalam fana baqabillah. 
Pada peringkat inilah suka mengasingkan diri, tidak suka bergaul lagi dengan makhluk.
Namun begitu ia mempunyai kesegaris dua alam sekaligus, Zahir dan batin. Dan ia akan kembali normal seperti biasa.
Konsep perjalanannya lebih kurang dengan radhiah. mereka berpegang kepada konsep:
Firman Allah Swt.:
“Apa yang di sisi kamu itu pasti lenyap dan apa yang ada di sisi Allah Swt. Tetap kekal”.
Perkataan syetan sudah hilang. Mereka suka hidup nafsi-nafsi.
Sabda Rasulullah Saw.:
“Apabila kamu sekalian melihat seseorang mukmin itu pendiam dan tenang , maka dekatilah ia. karena Sesungguhnya dia akan mengajarkanmu hikmah”
Menyentuh tentang zikirnya, 

zikirnya adalah zikir rahasia, tidak tersebut lafaz dengan lidah maupun hati, tapi seluruh anggota zahir dan batin mengucapkan dengan zikir rahasia yang didengar oleh telinga batin di maqom tanaffas. 
Zikirnya tidak pernah terganggu dengan alam zahir walaupun dia tengah bercakap atau berbuat apa saja.
Firman Allah Swt.:
“Orang-orang berzikir kepada Allah Swt. sambil berdiri, sambil duduk dan dalam keadaan berbaring… ”
Bagi mereka di maqom ini setiap perbuatan, perkataan, penglihatan dan apa saja adalah zikir.
Pada tahap ini mempunyai kekeramatan yang amat luar biasa. Namun biasanya jarang sekali menzahirkan/ menyatakan  kelebihannya itu. 
Dari segi ilmu, mereka sudah memperoleh ilmu disemua peringkat sebelum ini yaitu nur, tajalli, sir, sirussir malah ditambah lagi dengan tawasul/seperti terjaga dengan ambia dan waliyullah. 
Kehadiran wali-wali pada orang maqom mardiah ini lebih ke ( merupakan ) penghormatan dan ziarah saja. sambil berbincang-bincang. Mereka berpeluang menjelajah seluruh alam maya dan alam ghaib termasuk syurga, neraka dan bagianya. 
Mereka berupaya melawat ke berbagai tempat sama dengan pecahan diri batinnya atau dengan jasad sekalipun. Malah dalam satu saat bisa menjelma di berbagai tempat. Ini disebut “Khawa Fulkhawaf”.
Ia berprilaku tanpa sengaja dan tanpa dapat dikawal.
 Sifat-sifatnya:
1.     Ridha dan rela dengan apa-apa pemberian Allah Swt.,
2.     Lemah lembut pergaulannya,
3.     Elok dan tingginya budi,
4.     Lain-lain sifat terpuji maqom sebelum ini.

● NAFSU KAMALIAH
Ini adalah Maqom tertinggi. 
Maqom ini digelari “baqa billah”, Kamil Mukamil”, Al Insan kamil karena ia dapat menghimpunkan antara zahir dan batin, yakni ruh dan hatinya kekal kepada Allah Swt. tetapi zahir tubuh kasarnya tetap manusia. 
Hati mereka kekal dengan Allah Swt. Dalam ruang dan waktu, tidur atau terjaga senantiasa mereka bermusyahadah kepada Allah Swt..
Ini adalah maqom khawas al khawas. 
Semua gerak gerik mereka sudah jadi ibadah.
Ilmu mereka adalah seperti yang dinyatakan oleh Imam Ghazali, ilham dan ilmu mukasyafah yang diterimanya adalah sama dengan istilah wahyu, semuanya datang terus menerus dari Allah Swt. 
Cuma…. kalau Rasul dan Nabi disebut Wahyu dan manusia biasa yang kamil disebut Ilham.

Mohon maaf jika ada salah” kata, kebenaran hanya milik Allah semata

Salam persaudaraan

Iklan