Hizib Abdul Qodir Jaelani
Doa ini memiliki khasiat yang mena’jubkan, baca doa ini 72 x 
رَبِّ اِنِّي مَغْلُوْبٌ فَانْتَصِرْ، وَاجْبُرْ قَلْبِي الْمُنْكَسِرْ وَاجْمَعْ شَمْلِي الْمُنْدَثِرْ، اِنَّكَ أَنْتَ الرَّحْمَنُ الْمُقْتَدِرْ إِكْفِنِي يَاكَافِي وَأَنَا الْعَبْدُ الْمُفْتَقِرْ،وَكَفَى بِاللهِ وَلِيَّا،وَكَفَى بِاللهِ نَصِيْرَا إِنَّ الشِرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيْمِ، وَمَا اللهُ يُرِيْدُ ظُلْمًالِلْعِبَادْ فَقُطِعَ دَابِرَالْقَوْمِ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا، وَالْحَمْدُللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنِ 
Bismillahirahmanirahiim
Robbi innii maghluubun fantasir, wajbur qolbiyal munkatsir
Ikfinii yaa kaafi wa anal`abdulkal muftakir, wa kafaa billaahi waliyya, wa kafaa billaahi nashiiro
Innasy syirka la zhulmun `azhiim, wa mallaahu yuriidu zulma lil `ibaad
Fa quthi`a daabirul qoumil ladziina zholamuu, wal hamdu lillaahi rabbil `aalamin

Wahai Allah aku sudah kalah 

(kalah oleh tubuh dan nafsuku hingga tak mampu  terus-menerus berdzikir dan mendekat kepada-Mu) 

maka berilah pertolongan, maka hiburlah hati yang telah hancur ini

(Maka padukanlah kemuliaan dan kesempurnaan yang telah 

terselubung, sungguh Engkau Yang Maha Pengasih dan Maha Menentukan)

Cukupkanlah bagiku 

(cukupilah segala kebutuhanku) dan aku adalah Hamba yg sangat membutuhkan uluran bantuan-Mu dan cukuplah sudah Allah sebagai yang diandalkan, dan cukuplah sudah Allah sebagai Penolong (Sungguh menduakan Allah adalah kejahatan yang besar, dan tiadalah menginginkan kejahatan dan kegelapan bagi hamba hamba-Nya) (Maka terputuslah segala tipu daya dan usaha mereka mereka yang berbuat kejahatan, dan segala puji bagi Tuhan sekalian alam)

Demikian laku dan tatacaranya disesuaikan dg ajaran guru masing” yaa..

Artinya M A N U S I A :
MIM = Muhammad 
MA = Maha Suci
NUN = Nukat Ghaib 
NU = Nurullah dari Bapak
SA = Rasul 
SI = Syirullah dari Ibu
WAW = Adam (jasad badan) 
YA = Jadinya kita
Ruh berasal dari alam arwah dan memerintah dan menggunakan jasad sebagai alatnya. 
Sedangkan  Jasad berasal dari alam ciptaan, yang dijadikan dari unsur materi.  
Tetapi para ahli sufi membedakan Ruh  dan Jiwa. 
Ruh berasal dari tabiat Ilahi dan cenderung kembali ke asal semula.  Ruh selalu dinisbahkan kepada Allah dan tetap berada dalam keadaan suci.
Karena Ruh bersifat kerohanian dan selalu suci, maka setelah ditiupkan Allah dan berada dalam jasad, Ruh tetap suci. 
Ruh di dalam diri manusia berfungsi sebagai sumber moral yang baik dan mulia. 
Jika Ruh merupakan sumber akhlak yang mulia dan terpuji, maka lain halnya dengan Jiwa. 
Jiwa adalah sumber akhlak tercela, Al-Farabi, Ibnu Sina dan Al-Ghazali membagi jiwa pada :

– jiwa nabati (tumbuh-tumbuhan),
– jiwa hewani (binatang)  
– jiwa insani.
Jiwa NABATI adalah kesempurnaan awal bagi benda alami yang organis dari segi makan, tumbuh dan melahirkan. 
Jiwa HEWANI, di samping memiliki daya makan untuk tumbuh dan melahirkan, juga memiliki daya untuk mengetahui hal-hal yang dan daya merasa, 
sedangkan Jiwa INSANI mempunyai kelebihan dari segi daya berfikir (al-nafs al-nathiqah).
Daya jiwa yang berfikir (al-nafs al-nathiqah atau al-nafs al-insaniyah). Inilah, yang menurut para filsuf dan sufi merupakan hakikat atau pribadi manusia. 

Sehingga dengan hakikat, ia dapat mengetahui hal-hal yang umum dan yang khusus, dzatnya dan penciptaannya.
Karena pada diri manusia tidak hanya memiliki jiwa insani (berpikir), tetapi juga jiwa nabati dan hewani, maka jiwa (nafs) manusia menjadi pusat tempat tertumpuknya sifat-sifat yang tercela pada manusia.. ~> Itulah sebabnya jiwa manusia mempunyai sifat yang beraneka sesuai dengan keadaannya.
Apabila Jiwa menyerah dan patuh pada kemauan syahwat dan memperturutkan ajakan syaithan, yang memang pada jiwa itu sendiri ada sifat kebinatangan, maka ia disebut jiwa yang menyuruh berbuat jahat. 
Firman Allah, 

“Sesungguhnya jiwa yang demikian itu selalu menyuruh berbuat jahat.” (QS Ar-Ra’d: 53)
Apabila jiwa selalu dapat menentang dan melawan sifat-sifat tercela, maka ia disebut jiwa pencela, sebab ia selalu mencela manusia yang melakukan keburukan dan yang teledor dan lalai berbakti kepada Allah. 
Hal ini ditegaskan oleh-Nya, 

“Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang selalu mencela.” (QS Al-Qiyamah: 2)
Tetapi apabila jiwa dapat terhindar dari semua sifat-sifat yang tercela, maka ia berubah jadi jiwa yang  tenang  (al-nafs al-muthmainnah). 
Dalam hal ini Allah menegaskan, 

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rasa  puas  lagi diridhai, dan masuklah kepada hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam Surga-Ku.” (QS Al-Fajr: 27-30)
Jadi, 

JIWA mempunyai 3 buah sifat, yaitu 

jiwa yang  telah menjadi  tumpukan sifat-sifat  yang  tercela, jiwa yang telah melakukan perlawanan pada sifat-sifat tercela, dan jiwa yang telah  mencapai  tingkat kesucian, ketenangan dan ketentraman, yaitu jiwa muthmainnah. Dan jiwa muthmainnah inilah yang telah dijamin Allah langsung masuk surga.
Jiwa muthmainnah adalah jiwa yang selalu berhubungan dengan Ruh. 
Ruh bersifat Ketuhanan sebagai sumber moral mulia dan terpuji, dan ia hanya mempunyai satu  sifat, yaitu suci. 
Sedangkan jiwa mempunyai beberapa sifat yang ambivalen.  
Allah sampaikan, 

“Demi jiwa serta kesempurnaan-Nya, Allah mengilhamkan jiwa pada keburukan dan ketaqwaan.” (QS Asy-Syams: 7-8).  
Artinya,  dalam  jiwa  terdapat potensi buruk dan baik, karena itu jiwa terletak pada perjuangan baik dan buruk.

 
AKAL
AKAL yang dalam bahasa Yunani disebut  nous  atau  logos  atau intelek  (intellect) dalam bahasa Inggris adalah daya berpikir yang terdapat dalam otak, sedangkan “hati”  adalah daya jiwa (nafs  nathiqah).  
Daya Jiwa berpikir yang ada pada otak di kepala disebut Akal. 

Sedangkan yang ada pada Hati (jantung) di dada disebut Rasa  (dzauq). 
Karena itu ada 2 sumber pengetahuan, yaitu pengetahuan : 

– akal (ma’rifat aqliyah)  

– pengetahuan hati  (ma’rifat  qalbiyah). 
Kalau para filsuf mengunggulkan pengetahuan Akal, para sufi lebih mengunggulkan pengetahuan Hati (rasa).
Menurut para filsuf Islam, akal yang telah mencapai tingkatan tertinggi (akal  perolehan  (akal   mustafad)) ia dapat mengetahui  kebahagiaan  dan berusaha memperolehnya. ~> Akal yang demikian  akan  menjadikan  jiwanya  kekal  dalam  kebahagiaan (surga).  
Namun, jika akal yang telah mengenal kebahagiaan itu berpaling, berarti ia tidak berusaha memperolehnya. 
Jiwa  yang demikian akan kekal dalam kesengsaraan (neraka).
Adapun akal yang tidak sempurna dan tidak mengenal kebahagiaan, maka menurut Al-Farabi, jiwa yang demikian akan hancur. Sedangkan menurut para filsuf tidak hancur. Karena kesempurnaan manusia menurut para filsuf terletak pada kesempurnaan pengetahuan akal dalam mengetahui dan memperoleh kebahagiaan yang  tertinggi, yaitu ketika akan sampai ke tingkat akal perolehan.

 
HATI atau SUKMA (Qalb)
Hati atau Sukma terjemahan dari kata bahasa Arab ~> Qalb. 
Sebenarnya terjemahan yang tepat dari Qalb adalah Jantung, bukan hati atau sukma. 
Tetapi, dalam pembahasan ini kita memakai kata hati sebagaimana yang sudah  biasa.  
Hati  adalah segumpal daging yang berbentuk bulat panjang dan terletak di dada sebelah kiri. 
Hati dalam pengertian  ini  bukanlah  objek kajian kita di sini, karena hal itu termasuk bidang kedokteran yang cakupannya  bisa  lebih  luas, misalnya hati binatang, bahkan bangkainya.
Adapun yang dimaksud hati di sini adalah hati dalam arti yang halus, hati-nurani – daya pikir jiwa (daya nafs nathiqah) yang ada  pada  hati, di rongga dada. Dan daya berfikir itulah yang disebut  dengan rasa (dzauq),  yang memperoleh sumber pengetahuan hati (ma’rifat qalbiyah). 
Dalam kaitan ini Allah berfirman, 

“Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan memahaminya.” (QS Al-A’raaf: 179)
Dari  uraian  di  atas, dapat kita ambil kesimpulan sementara, bahwa menurut para filsuf dan sufi Islam, hakikat manusia  itu Jiwa yang berfikir (nafs  insaniyah), tetapi mereka berbeda pendapat pada cara mencapai kesempurnaan  manusia.  
Bagi  para filsuf, kesempurnaan  manusia diperoleh melalui pengetahuan akal (ma’rifat  aqliyah), sedangkan para sufi melalui pengetahuan  hati (ma’rifat qalbiyah). 
Akal dan hati sama-sama merupakan daya berpikir.
Menurut sufi, hati yang bersifat nurani itulah  sebagai  wadah atau  sumber  ma’rifat – suatu alat untuk mengetahui hal-hal yang Ilahi. 
Hal ini hanya dimungkinkan jika hati telah  bersih dari  pencemaran  hawa  nafsu  dengan menempuh fase-fase moral dengan latihan jiwa, serta  menggantikan  moral  yang  tercela dengan moral yang terpuji, lewat hidup zuhud yang penuh taqwa, wara’ serta dzikir yang kontinyu, ilmu  ladunni (ilmu Allah) yang memancarkan sinarnya dalam hati, sehingga ia dapat menjadi sumber atau wadah ma’rifat, dan akan mencapai pengenalan Allah. Dengan  demikian, poros jalan sufi ialah moralitas.
Latihan-latihan ruhaniah yang  sesuai  dengan  tabiat  terpuji adalah  sebagai  kesehatan hati dan hal ini yang lebih berarti ketimbang kesehatan jasmani sebab penyakit anggota tubuh  luar hanya  akan  membuat  hilangnya  kehidupan  di dunia ini saja, sementara  penyakit  hati  nurani akan membuat   hilangnya kehidupan  yang  abadi. 
Hati nurani ini tidak terlepas dari penyakit, yang kalau dibiarkan justru akan membuatnya berkembang  banyak  dan  akan  berubah  menjadi hati dzulmani – hati yang kotor.
Kesempurnaan hakikat manusia (nafs insaniyah) ditentukan oleh hasil perjuangan antara hati nurani dan hati dzulmani. 
Inilah yang dimaksud dengan firman Allah yang artinya,
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang mensucikan jiwanya, dan rugilah orang yang mengotorinya.” (QS Asy-Syams: 8-9)
Hati nurani bagaikan cermin, sementara pengetahuan adalah pantulan gambar realitas yang  terdapat di dalamnya. Jika cermin hati nurani tidak bening, hawa  nafsunya  yang  tumbuh. 
Sementara  ketaatan  kepada Allah serta keterpalingan dari tuntutan hawa nafsu itulah  yang  justru  membuat  hati-nurani bersih dan cemerlang serta mendapatkan limpahan cahaya dari Allah SWT.
Bagi para sufi, kata Al-Ghazali, Allah melimpahkan cahaya pada dada  seseorang,  tidaklah karena mempelajarinya, mengkajinya, ataupun menulis buku, tetapi dengan bersikap asketis  terhadap dunia, menghindarkan diri dari hal-hal yang berkaitan dengannya, membebaskan hati nurani dari berbagai pesonanya, dan menerima Allah  segenap hati. 
Dan barangsiapa memiliki Allah niscaya Allah adalah miliknya. Setiap hikmah muncul dari hati nurani, dengan keteguhan beribadah, tanpa belajar, tetapi lewat pancaran cahaya dari ilham Ilahi.
Hati atau sukma dzulmani selalu mempunyai keterkaitan dengan nafs atau jiwa nabati dan hewani. Itulah sebabnya ia selalu menggoda manusia untuk mengikuti hawa  nafsunya. 
Kesempurnaan manusia (nafs nathiqah), tergantung pada kemampuan hati-nurani dalam pengendalian dan pengontrolan hati dzulmani.
“Bukan penampilan fisik-duniawi-raga yang akan mengantarkan manusia mencapai derajat mulia di sisi Sang Gusti. Wujud lahiriah hanyalah wadah bagi sukma. Jasad akan kembali menjadi tanah, sementara sang Roh akan kembali (marak sowan) kepada Yang Maha Wikan.
“Melalui penampilan duniawinya yang tidak sempurna seperti menegaskan bahwa kemuliaan seseorang terletak pada keluhuran akhlak, budi pekerti, ilmu dan ketakwaannya kepada Gustinya. 
Sekalipun hanyalah abdi namun mampu menjadi guru dan pembimbing bagi para tuannya.
“Kapasitas dan ketinggian ilmunya tidak lantas menyebabkan bernafsu menguasai dunia. Jiwanya lebih memilih tetap menjadi abdi yang menancapkan kemuliaan dan kebenaran kepada setiap insan agar bumi ini dipenuhi kedamaian dan ketentraman.

Jika ada tulisan atau kata kata yang kurang pada tempatnya mohon mohon maaf yang sedalam dalamnya, semoga bermanfaat untuk sesama, semoga Allah senantiasa menyatukan kita dalam ikatan persaudaraan yang penuh Rahmad dan Ridhonya… Amin..

Salam persaudaraan

Iklan