“ Kuntu kanzan makhfiyyan, fa ahbabtu ’an uraf fa khalaqtu al-khalqa li-kay u’raf ” 

Aku pada mulanya adalah khazanah/rahasia yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan makhluk, agar mereka mengenali-Ku
Dari Abu Abdirrahman, Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, dia berkata: 
”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda kepada kami dan beliau adalah orang yang selalu benar dan dibenarkan: “Sesungguhnya setiap orang diantara kamu dikumpulkan kejadiannya di dalam rahim ibunya selama 40 hari dalam bentuk nuthfah [air mani], kemudian menjadi ‘alaqoh [segumpal darah]selama waktu itu juga [40 hari], kemudian menjadi mudhghoh [segumpal daging] selama waktu itu juga, lalu diutuslah seorang Malaikat kepadanya, lalu Malaikat itu meniupkan RUH padanya dan ia diperintahkan menulis empat kalimat : Menulis rizkinya, ajalnya, amalnya, dan nasib celakanya atau keberuntungannya. RODHITU BILLAHI ROBBA…WA BIL ISLAMA DIINA…WA BI MUHAMMADIN NABIYA WA RASULA BIL HUDA…Maka demi Allah yang tiada tuhan selain-Nya, sesungguhnya ada diantara kamu,ada yang melakukan amalan penduduk Surga dan amalan itu mendekatkannya ke Surga sehingga jarak antara dia dan Surga kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapkan atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk Neraka sehingga dia masuk ke dalamnya. 
Dan sesungguhnya ada seseorang diantara kamu yang melakukan amalan penduduk Neraka dan amal itu mendekatkannya ke Neraka, sehingga jarak antara dia dan Neraka hanya kurang satu hasta, namun karena taqdir yang telah ditetapkan atas dirinya, lalu dia melakukan amalan penduduk Surga sehingga dia masuk ke dalamnya.” 

[HR. Bukhori dan Muslim]
SPERMA terdiri dari : 

WADI asalnya dari API menjadi DAGING 
MADI asalnya dari ANGIN menjadi SUMSUM 
MANI asalnya dari AIR menjadi TULANG 
MANIKEM asalnya dari BUMI menjadi KULIT 
Wujud jasmani manusia bakal rusak, tetapi RASA akan tetap ada, enak dan tidak enak, hanya alamnya akan berbeda, itulah sebabnya makhluk umurnya tidak sama, bukan kehendak Allah panjang dan pendeknya umur, tapi wadahnya yang tidak kuat, jadi suka cepat mengalami kematian. 
Pekerjaan dari Bapak dan Ibu tsb, proses Nabati dan Hewani, halal dan haram, namanya Madi, Wadi, Mani, Manikem itulah yang kurang kuat, makanya cepat mati, wadahnya hidup, yang kurang kuat adalah MANI, 
Sebab asal MANI, dari gulungan darah, jika darah Ibu dan Bapak, di waktu tadi keluar, darah dalam keadaan tidak sehat, lagi ada penyakit, akhirnya mani juga akan tidak sehat, tercampuri oleh penyakit, jadinya tetap jadi, tapi cepat lapuk, umurnya tidak akan bertahan lama, karena sudah keropos tadinya. 
Darah harus jalan baik, proses Nabati dan Hewani yang halal agar menghasilkan keturunan yang halal…
Dari asalnya sepi di kesunyian, di Alam sebelum ada, ketika sudah ada di Alam Dunia, mengapa terjadi keributan ? 
Sepi di jaman…

KUN DZAT = HIDUP 

KUN SIFAT = HATI 

KUN MUTLAK = KEHIDUPAN ( Alam Rahim )   
Sudah jelas wujud rupa, terjadi keributan di jaman… KUN FAYAKUN 
Salah jadi Shaleh

Hadas jadi Hadist

Kotor jadi Bersih

Najis jadi Suci ( Alam Dunia )
Rupa tidak bisa diganti, itu tandanya Kun Mutlak DZAT YANG MAHA AGUNG
Ketika bayi di Alam Rahim [di dalam air ketuban] belum ada nyawa, baru ada hidup yaitu adanya RUH, RASA pendengaran dan Nafsu Muthmainah, dari Alam Rahim bayi pindah ke Alam Dunia, dan SIFAT FITRAH RUH berubah sifat menjadi ROH
Ketika kontak dengan Alam Dunia itulah adanya NYAWA, 
NYAWA adalah DARAH ada di bawah kulit di atas permukaan daging, adanya NAFAS adalah adanya HIDUP, 
Adanya HIDUP adalah karena adanya DZAT dan SIFAT. 
1. RUH SULTHONIYAH ( HAK ALLAH ) 

Tempatnya di hati, jika Ruh ini keluar dari jasad, manusia akan mengalami kematian (Nafas)

2. RUH RUHANIYAH ( HAK RASULULLAH )

Tempatnya di dada (Jantung) dan pada 360 sendi (Malaikat Muqqorobin di setiap sendi) = 360 hari, badaniyah bukan raga, Satu badan satu atap (Menyeluruh) 

3. RUH MAKODIYAH 

Ruh ini yang suka meninggalkan jasad, termasuk mimpi, mimpi yang benar adalah kita bisa mengingatnya dan menceritakannya dengan jelas, walaupun kejadian mimpinya sudah lama.

4. RUH DINNIYAH / JASADIYAH

Berdirinya Islam, Fitrah diri/Fitrah Agama, Ruh Samawi

Di proses melalui Ilmu, bertemu dengan :
5. RUHUL QUDUS RASULULLAH SHALALLAHU ‘ALAIHI WASSALAM
1. RUH SULTHONIYAH > INJIL > PENCIUMAN 
2. RUH MAKODIYAH > TAURAT > PENDENGARAN
3. RUH DINNIYAH > AL – QUR’AN > PENGLIHATAN
4. RUH RUHANIYAH > ZABUR > PERKATAAN
Hakikat NYAWA adalah RASA JASMANI, 

olahan dari API – ANGIN – AIR – BUMI 

pada waktu itu mata terbuka belum bisa melihat, telinga belum bisa mendengar, hidung belum bisa mencium, mulut belum bisa berkata, hanya ada suaranya saja, setelah diberi asi atau makanan apa saja yang berasal dari saripati Api, Angin, Air dan Bumi, maka dari saripati yang empat ini, menjadi NUR DARAH yang 4 macam :
1. ALIF – NUR DARAH MERAH dari Saripati API, adanya pada DAGING, membesarkan dagingnya bayi, hawanya keluar melalui TELINGA hingga bisa mendengar. 
[RUHUS SAMMA’ = RASA PENDENGARAN] 

2. LAM – NUR DARAH KUNING dari Saripati ANGIN, adanya pada SUMSUM, membesarkan sumsum bayi, hawanya keluar melalui HIDUNG hingga bisa mencium dan merasa.
[RUHUN NAFASI = RASA PENCIUMAN] 

3. LAM – NUR DARAH PUTIH dari Saripati AIR, adanya pada TULANG, membesarkan tulang bayi, hawanya keluar melalui MATA hingga bisa melihat.
[RUHUL BASHAR = RASA PENGLIHATAN] 

4. HA – NUR DARAH HITAM dari Saripati BUMI, adanya pada KULIT, membesarkan kulitnya bayi, hawanya keluar melalui LIDAH [Mulut] hingga bisa berbicara. 
[RUHUL KALAMI = RASA PERKATAAN] Di proses melalui Ilmu, bertemu dengan :

5. NUR DARAH BENING Setelah bayi membesar kulitnya, membesar dagingnya, membesar tulangnya, membesar [banyak] sumsumnya, maka keluarlah hawanya, yaitu nafsu yang 4 yaitu: 
1. NAFSU AMARAH berdomisili pada TELINGA
2. NAFSU SUFIAH berdomisili pada MATA
3. NAFSU LAWAMMAH berdomisili pada LIDAH
4. NAFSU MUTHMAINAH berdomisili pada HATI
Datangnya nafsu yaitu keinginan pada waktu di beri ASI, rasa menjadi kontak dengan gulungan Api – Angin – Bumi – Air, sebab itulah adanya air susu asal dari yang empat, buktinya adalah makanan yang di makan oleh Ibu, sebab jika Ibunya tidak makan apa-apa, tidak akan ada air susu, ketika mulut bertemu dengan air susu, tentu ada rasa, rasa enak dan manis, terasa yang enak, sampai ingin lagi tidak mau telat, kalau telat suka ngambek dan menjerit, semua terjadi karena adanya pertemuan / kontak, bukti bhw kontaknya Ibu dan Bapak keluarlah seorang bayi dari Alam Rahim dengan hidupnya, bertemulah hawa Bathin dan Dhohir, ketika kontak dengan Alam Dunia adanya NYAWA. 
Sifat NYAWA yaitu NAFAS, 
Hakikatnya NYAWA, 

RASA adalah buktinya, 

ketika rasa kontak dengan makanan maka akan menjadi NAFSU dan banyak kemauan sudah pasti, dan bibit dari pada kemauan adalah karena tadi sudah merasakan air susu itu enak di rasakannya. 
Jika Ada enak sudah pasti Ada tidak enak. 
Murakabah enak dan tidak enak sudah tentu, kepada telinga, mata, kepada penciuman begitu juga, sudah pasti ada enak dan tidak enak, bukti di pendengaran juga begitu, ada yang enak di dengar, ada yang tidak enak di dengar sehingga menimbulkan amarah. 
Jika pendengaran kontak dengan suara yang jelek, kejadiannya menjadi rasa tidak enak, begitu juga jika kontak dengan suara yang baik akan menimbulkan enak, seterusnya begitu. 
Di mata pun bukti, ada enak di lihat dan tidak enak di lihat, malah ada penglihatan yang suka menimbulkan amarah. Matapun tergantung kontaknya dengan sifat, sifat yang baik dan prilaku yang buruk, jika baik maka akan menjadi enak, di penciuman pun begitu ada enak dan tidak enak, sama dengan pendengaran. 
Semuanya itu adalah bukti dari adanya segala KEINGINAN
Kebahagiaanku jika mati sebelum baligh lalu aku dimasukkan ke dalam surga, tidak sebahagia jika aku hidup sampai tua dalam keadaan mengenal Allah yaitu yang paling bertaqwa, rajin mengerjakan ibadah serta menerima apa apa yang telah di berikan Allah kepadaku. (Sayyidina Ali bin Abi Thalib)

AKIL BALIGH – BERAKAL – MERDEKA  
” Tidak ada Tuhan selain Aku.

Akulah hakikat DZAT yang Maha Suci, yang meliputi SIFAT-Ku, yang menyertai [ASMA] Nama-Ku, dan yang menandai [AF’AL] perbuatan-perbuatan-Ku “[DZAT) dibaca DAT bukan Zat dan bukan Zat ciptaan-Nya]“ 
Sesungguhnya AKU ini adalah ALLAH, TIDAK ADA TUHAN (yang hak) selain AKU, maka SEMBAHLAH AKU dan DIRIKANLAH SHALAT UNTUK MENGINGAT AKU ”  [At Thaahaa : 14]
AKU = DZAT/Nurullah, 

SIFAT Laisa kamishlihi syaiun, 

Dzat yang tidak dapat diserupai oleh sesuatu apapun, tidak ada umpamanya. 
BILLA HAEFFIN, artinya tak berwarna dan tak berupa, tidak merah tidak hitam, tidak gelap tidak pula terang. 
BILLA MAKANIN, artinya tidak berarah tidak bertempat, tidak di barat tidak di timur, tidak di utara maupun di selatan, tidak di atas maupun di bawah. 
DZAT yang berdiri sendiri tanpa adanya ketergantungan kepada mahluk lain ciptaan-Nya, berbeda dengan manusia yang membutuhkan Allah, untuk bisa selamat di kehidupan Dunia dan Akhirat, adanya Alam semesta, Dunia, Arasy, Malaikat, Idajil/Azazil, Iblis, Setan, Jinn dan Manusia, dan semua ciptaan-Nya yang ada, adalah karena akibat dari adanya Dzat Yang Maha Suci.
DZAT SIFAT ibarat : MATA dan PENGLIHATAN yang TIDAK PISAH dan TIDAK JAUH 
Syahadatnya Dzat dan Sifat, Ahadiyat dan Wahdat.
DZAT dan SIFAT adalah PASTI. 
TIDAK AKAN ADA SIFAT, JIKA TIDAK ADA DZAT, begitupun sebaliknya.
1. ALAM AHADIYAT. 

Sebelum Allah Subhanahu Wa Ta’ala menciptakan Alam-alam, termasuk Alam Semesta, Arasy, Bumi dan Langit beserta isinya, yang ada hanyalah Dzat di Kesunyian Sejati Martabat Yang Maha Suci, Alam Tunggal Sejati.

2. ALAM WAHDAT DZAT 

di kesunyian sejati, melahirkan SIFAT yaitu Laisa kamishlihi syaiun, bukti adanya JAUHAR AWWAL RASULULLAH atau samudra hidup, pohon nyawa, wadah amal, kubur sejati, hidupnya segala rupa, seluruh isi tujuh lapis bumi dan tujuh lapis langit, asalnya yaitu dari cahaya yang satu, yaitu JAUHAR AWWAL RASULULLAH atau RUH ILMU RASULULLAH utusan Maha Agung. 
DZAT/NURULLAH yang menjadikan Alam Dunia dan isinya, yang TIDAK PISAH dan TIDAK JAUH, DZAT dan SIFAT. 
Sifat = Jauhar Awwal Rasulullah = Hakikat Muhammad [Ruh Ilmu Rasulullah] atau disebut SEJATINYA SYAHADAT, yaitu syahadatnya DZAT dan SIFAT, Ahadiat dan Wahdat, sudah tidak pisah. JAUHAR AWWAL RASULULLAH yaitu cahayanya Allah. 
3. ALAM WAHIDIYAT 

yaitu Nur Ilmu Rasulullah sinarnya yang 4 rupa dari Jauhar Awwal Rasulullah. 
Dzat Sifat-Nya Allah sifatnya sangat halus, mengeluarkan cahaya 4 rupa MERAH, KUNING, PUTIH, HITAM disebut NUR ILMU RASULULLAH (Nur Muhammad/Unsur kehidupan) yaitu Hakikat Adam bibit untuk Alam Dhohir atau Asmanya Allah, yang 4 menjadi lafadz ; ALIF – LAM – LAM – HA, tadinya adalah Asma ALLAH.
Di alam 3 yaitu Alam Wahidiyat, DZAT yang pertama disebut, yg ke dua SIFAT yg disebut, barulah ASMA nomer tiga yang disebut, kenyataannya sesudah adanya NUR ILMU RASULULLAH atau Hakikat Adam, yang 3 bergulung menjadi satu 
Allah – Muhammad – Adam =  “ Wa nahnu aqrobbu ilaihi min hablil wariid “ = Sifat -sifat diri
4. ALAM ILMU 

di telusuri dari kenyataan DZAT, SIFAT, dan ASMA Allah, yang keempatnya AF’AL Maha Suci, yaitu Alam Ilmu, API – ANGIN – AIR – BUMI disebut ARWAH yang menjadikan RUH dan DARAH, bibit Adam Manusia, jadi, Api, Angin, Air, Bumi adalah dari sinarnya Nur Ilmu Rasulullah, Af’alnya Allah Yang Maha Agung, buktinya kekuasaan Allah adalah adanya Alam Dunia dari Nur Ilmu Rasulullah cahaya yang empat.
Cahaya MERAH sinarnya menjadi API 

Cahaya KUNING sinarnya menjadi ANGIN

Cahaya PUTIH sinarnya menjadi AIR 

Cahaya HITAM sinarnya menjadi BUMI 

Dari cahaya 4 rupa itu, dihidupkan oleh sinarnya Matahari, sifatnya yaitu terang, jika di dunia tidak ada terang, manusia dan tumbuhan akan mati, akan tetapi Matahari tadi tidak akan terang, jika tidak terkena sinar Dzat Sifat-Nya, tidak ada bedanya lahir dan bathin, di dhohirnya menjadi nyata, API, ANGIN, AIR, BUMI menjadi Asma Allah yaitu ALIF – LAM – LAM —  HA. 
Matahari bisa terang, yaitu yang menjadi Tasjidnya, yang menghidupkan semua, di dunia juga pasti ada Asmanya Yang Maha Agung, satu cukup untuk semua, sifatnya meliputi. 

5. ALAM AJSAM, 

adalah nyatanya Jasad manusia berasal dari bumi, air, api, angin, syariatnya terasa, semuanya dari proses nabati dan hewani, tanaman yang ditanam menjadi besar karena adanya unsur bumi, api, air, angin, tidak ada unsur yang kurang satupun. 
Kejadian di diri manusia, yaitu kulit, daging, tulang, sumsum menjadi nafsu 4 rupa : 
1. Nafsu Amarah dari DAGING hawanya keluar melalui TELINGA 
2. Nafsu Lawammah dari SUMSUM hawanya keluar menuju MATA 
3. Nafsu Sufiah dari KULIT hawanya keluar menuju MULUT 
4. Nafsu Muthmainah dari TULANG hawanya keluar menuju HIDUNG.

6. ALAM MITSAL 

diwajibkan oleh Maha Suci, manusia harus ikhtiar, harus mencari ilmu, untuk mengetahui asal, asal jasad waktu di Qadim, yaitu yang 4 tadi. 
NUR ilmu Rasulullah, MERAH, KUNING, PUTIH, HITAM, asalnya jasad manusia, jika manusia sudah kenal kepada 4 perkara, dengan yakin dan di dasari ilmu yang haq, itulah alam Mitsal, yaitu ma’rifat pada alam tadi. 

7. INSAN KAMIL 

adalah sudah ma’rifat kepada Dzat Sifat Yang Agung, yaitu Jauhar Awwal Rasulullah, sejatinya syahadat, sejatinya Iman, bibit nyawa semuanya. 
INSAN KAMIL artinya manusia sempurna [mukmin sejati] sudah sampai kepada asal, yaitu samudera hidup, kesempurnaan nyawa, pasti bisa pulang kepada asalnya yang dahulu, asal dari Allah kembali kepada Allah.
Allah sudah janji, kepada siapapun manusia yang tahu, yang ma’rifat kepada Dzat Maha Suci, sewaktu di dunia, terus sampai ke Akhirat, tidak akan pisah dengan Dzat Yang Maha Agung, jika buta waktu di dunia, maka di Akhirat akan lebih buta lagi, tidak akan bertemu dengan terang, gelap sudah pasti karena tidak bisa melihat Dzat Yang Maha Agung, sewaktu gelap sudah pasti Neraka, karena di dunia tidak mencari ilmu dan ibadah, sibuk mengantar NAFSU DHOHIR. 
Orang yang hanya sehari-harinya hanya sibuk mencari uang untuk kesejahteraan keluarganya, maka mustahil ia mendapat ilmu pengetahuan.  (Imam Syafií). 
DI LUAR NAMA : 
DZATTULLAH yaitu disebut alam, inilah yang memangku/menopang alam dunia 
SIFATULLAH adalah Nur Ruh Ilmu Rasulullah seluas langit, tidak ada yang keluar dari DZAT SUCI, semuanya diliputi oleh satu cahaya. 
ASMATULLAH adalah api – air – angin – bumi, Asma yang Agung. Satu cukup untuk semua, api – air – angin – bumi menjadi huruf  ALIF – LAM – LAM – HA.
AF’ALULLAH yaitu hawa yang menghidupkan bumi dan isinya

DI DIRI MANUSIA :
DZATULLAH nyatanya di diri, 

buktinya adalah sekujur badan, yang memangku keadaan, segala hal yang menyangkut keadaan pada wujud  
SIFATULLAH nyatanya adalah Rupa, 

rupa manusia tidak ada yang sama dengan manusia lainnya, hanya satu di alam dunia, ta’wilnya adalah 

ALLAH HANYA SATU.
ASMATULLAH yang bukti di badan adalah ; KULIT, DAGING, TULANG, SUMSUM menjadi lafadz Asma Allah yaitu ; ALIF – LAM – LAM – HA. 
AF’ALULLAH yaitu geraknya wujud, semuanya diringkas kepada yang 4 rupa, nyatanya Dzatullahi yaitu perkataan sebab perkataanlah yang menjadikan semuanya, yaitu keramaian Alam dhohir, adanya kemauan manusia sehingga menjadi bukti dengan adanya gedung, rumah, mobil dll karena adanya bibit dari Dzat.
Dari Ibn Abbas r.a., dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam.sabdanya : 
“FIKIRKANLAH MENGENAI SEGALA APA YANG DI CIPTAKAN ALLAH, TETAPI JANGANLAH KAMU MEMIKIRKAN TENTANG DZAT ALLAH.” 

[HR Abu Syeikh] 
Abu Dzar r.a., dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam. sabdanya :
“FIKIRKANLAH MENGENAI SEGALA MAKHLUK ALLAH, DAN JANGANLAH KAMU MEMIKIRKAN TENTANG DZAT ALLAH, KARENA YANG DEMIKIAN MENYEBABKAN KAMU BINASA [DALAM KESESATAN]” [HR Abu Syeikh] 
” FIKIRKANLAH OLEHMU SIFAT ALLAH DAN JANGAN KAMU MEMIKIRKAN AKAN DZAT-NYA. ALLAH MELIPUTI SEGALA SESUATU ” 

[Al-Fushilat : 54]
”Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia [yang berhak disembah], yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu juga menyatakan yang demikian. Tak ada Tuhan melainkan Dia [yang berhak disembah] Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Ali-Imran:18]
“Wa kawa ‘Idul Imani, wajibul wajib”  
Semua umat Allah wajib marifat, harus tahu kepada iman sejati, iman yang satu yaitu kepada DZAT MAHA SUCI. 
SIFAT Laisa kamishlihi syaiun adalah JAUHAR AWWAL RASULULLAH, TANDA KENYATAAN ADANYA DZAT. 
JAUHAR AWWAL RASULULLAH isinya adalah RUH ILMU RASULULLAH, yang Awwal Akhir di ciptakan oleh Allah. Ainal yakin dengan Ilmu, supaya bisa pulang, pulang kembali kepada Dzat, hakikatnya manusia berasal dari Dzat, akan tetapi manusia tidak perlu tahu kepada Dzat, tetapi carilah utusan Dzat, yang disebut Jauhar Awwal Rasulullah, inilah jalan pulang yang sempurna. 
“Illa anna awalla’nafsah fardhu ‘ain” 
Pertama hal ibadah adalah tahu kepada sejatinya hidup (Bathin menerima wadah akhirat) sifat hidup harus di dapat. 
diri yang mana yang harus di cari? 
Apakah jasmani yang terlihat? 
Yang harus dicari adalah badan Ruhani atau Jiwa.
Sejatinya syahadat adalah bibit segala rupa yaitu Jauhar Awwal [Ruh Ilmu Rasulullah] Samudra Ilmu dan Kehidupan.  
“Ru’yatullahi Ta’ala fi dunya bi’ainil qolbi”  
Melihat Hakikat Allah Ta’ala di Dunia oleh mata Bathin. 
Bila Qolbu manusia sudah dianugerahi Sifat Nur Ilmu Rasulullah, Qolbunya bisa dipakai untuk tempat melihat kepada Allah Ta’ala melalui mata Bathin karena sudah diberitahu oleh Sifat Nur Ilmu Rasulullah, sehingga bisa merasakan ni’mat dari Dunia sampai di Akhirat, sudah tidak merasakan berpisah dengan Sifat Nur Ilmu Rasulullah, lantaran wujud itu. 
Siang dan malam Qolbu ditempati oleh Sifat Nur Ilmu Rasulullah untuk melihat Allah Ta’ala, melalui jalan Syariat, Tharekat, Hakikat dan Ma’rifat, Ilmu Tauhid, Ilmu Fiqih, Ushul Fiqih dan Ilmu Tasawuf.
“Ru’yatullohi Ta’ala bil akhiroti bi’ainil arsi” 
Melihat Allah di Akhirat, tentu sama mata, tidak salah lagi, sebab sudah bersatu seperti gula dan manisnya. 
Wajib hukumnya mencari tahu diri, diri yang sejati, diri manusia, sebenar-benarnya diri. 
Cahaya 4 rupa adalah ; 

abang (NARUN) ~> nepsu angkara, 
Merah ~> hawa nafsu 
ireng (TUROBUN) ~> nepsu amarah, 
Hitam ~> nafsu amarah
kuning (HAWAUN) ~> nepsu kepingin andarbeni, 
Kuning ~> nafsu kepingin memiliki/ keserakahan
putih (MA’UN) ~> budi jatmika kang bisa nampa sasmita alam. 
Putih ~> budi luhur yg dapat mengerti petunjuk alam.
yaitu Badan RUHANI (JIWA), 
inilah yang harus ketemu..!! 
jasmani harus hilang, tapi jangan hilang tanpa sebab, hilangnya harus terganti oleh cahaya 4 rupa (Sifat Nur Ilmu Rasulullah) hilangnya badan jasmani, harus terganti oleh badan ruhani. 
JAS artinya adalah baju, 

MANI adalah badan ruhani, 
baju adalah bungkus, 

bungkusnya ruhani, 

manusia tidak akan mendapatkan hasil, jika hanya mengetahui badan nyata saja, harus di buka dulu bajunya, supaya bisa ketemu dengan isinya, badan jasmani adalah hijabnya kepada Yang Maha Suci, jika tidak hilang wujudnya dulu, maka isinya tidak akan ketemu, 
Diibaratkan kucing, 

maksud kucing hendak ngintip tikus keluar dari liangnya, tapi kucingnya diam di depan liang tikus, akhirnya tikus malah mati karena tidak bisa keluar, tentu saja tidak akan berhasil, 
kucing diibaratkan jasad, 

tikus ibarat yang Latif, tidak akan ketemu jika rasa jasad tidak hilang. 
Jika kucing menginginkan agar tikusnya keluar dari liang, tentu saja kucing harus pergi menjauhi liang tikus, barulah tikusnya keluar, sama seperti di diri manusia, 
jika ingin ma’rifat kepada Dzat Allah Ta’ala, harus merasa pasti, merasakan bahwa manusia tidak memiliki jasad. 
Rasa jasmani harus hilang, terganti oleh Rasa Rasulullah (SIFAT NUR ILMU)  ~> Ladun Qolbin Salim ~> Ladunni ~> Hati yang selamat. 
Rasa ni’mat yang sejati (Ni’mat Islam, ni’mat Iman) karena saking ni’matnya melihat kepada Dzat Maha Agung, tentu merasa hilang dunia dan jasmani (Iman akhirat, rasa akhirat)
“Waman aroffa nafsahu, faqod aroffa robbahu…man aroffa robbaha, faqod jahilan nafsah” 
“Lahaula wala quwata, illa billahil aliyil ‘adim”…
Barang siapa mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya, barang siapa mengenal Tuhannya pastilah bodoh dirinya …
Salam persaudaraan

Iklan