Cahaya Allah Nur Allah dan Allah adalah yang maha suci, DIA hanya akan dapat didekati oleh kesucian itu sendiri…. 

tingkatan para kekasih sesuai tingkatan ketulusan ibadah dan amalan saleh sehari-hari
barangsiapa yang mencintai kekasih Allah meski tak mengetahui bahwa yang dicintainya adalah salah satu dari kekasih-Nya, akan terima percikan rahmat, baik disadarinya atau tidak
Ilmu hati turun tak terduga dalam kilasan Cahaya-Cahaya Terang dalam dada, turun dalam hati ikhlas pribadi-pribadi muhsinin, turun dalam bahasa sederhana yang dimengerti sang penerima.
putih, kuning, biru, merah suci, putihnya putih, hijau, hitam adalah tahapan-tahapan kilasan cahaya benderang yang ‘tampak’ dalam dada, diikuti bisikan hidayah agung, luhur berirama lembut-menggema dalam relung batin sang hamba
Mari mengingatkan diri sendiri.. juga mengingatkan orang lain… Kenapa HARUS KERAS, KARENA MENGINGATKAN HATI MENGGERAKKAN HATI HARUS DENGAN UCAPAN KERAS… 

HATI YANG KOTOR DAN BERKARAT sesungguhnya sudah mati dan tidak memiliki getaran, oleh sebab itu untuk menselaraskan getaran hati irama hati yang sesuai dengan irama Rabbani, dia di getarkan dengan dzikir yang keras.
Sholat adalah pelepasan ego dan nafsu, dia adalah gerak dansa ruhani, bukan sekedar jengkelat jengkelit, meskipun hampir sebagian umat Islam tidak menyadarinya sebagai gerak dzikir, kontemplatif dan menuju kepada kefanaan..
Ada yang namanya Sholat, ada yang namanya sejatining sholat ada yang namanya mahkota sholat, ada yang disebut sholat didalam sholat.. ~> Semuanya itu sesungguhnya melatih umat Muhammad untuk berdzikir, maka Nabi bersabda 
“Ash sholatu li dzikri”. 
sholatlah sesungguhnya dzikir, eling mengingat Allah sebagai yang maha segalanya, penguasa alam semesta, dan diri kita adalah makhluk yang bergantung kepada NYA
(mohon maaf saya tidak memperinci definisi sholat yang tersebut diatas, karena membutuhkan ruang dan waktu tersendiri, jika dipaksakan ditulis hanya akan melahirkan kesalah fahaman)
Samadi, dzikir, zuhud dan uzlah adalah saran dan hal itu disadari para wali Allah, para sufi sebagai bentuk penghilangan diri, membuat diri menjadi majasi dan yang ada hanyalah Allah sendiri sebagai cahaya langit dan bumi.. ~> pada tataran ini sesungguhnya manusia sudah menembus kerajaan langit dan Allah menyambutnya dengan tangan terbuka..
Maka jika ala bizikrilah tatma’inul qulub, itu benar sudah… dzikir ini akan membuat pelakunya tentram karena sebagaimana bayi dalam timangan dan dekapan sang ibundanya .
Cara penghilangan diri, Ego dan mind ini banyak jalannya… 
ada yang berteriak teriak dengan suara atau menirukan kalimat kalimat tertentu yang asing, ada yang menggunakan Ohm…, ada yang menggunakan La ilaha ilallah dengan keras, ada yang memakai alunan musik.. yang pada intinya melepaskan Ego dan mind… dan itu sangatlah membutuhkan usaha keras….
maka dengan jalan berteriak keras dan berulang ulang adalah dibenarkan… karena suara itu dan kalimat itu sesungguhnya mewakili lambang lambang dan 
Robbana ma kholakta hadza bathila subkhanaka fakina adza banar.
Dan sesungguhnya semua penciptaan termasuk suara dan bunyi dibuat Allah, jika engkau menciptakan suara sendiri sesungguhnya itu juga suara ciptaan Allah, tidak ada yang sia-sia semua dibuat memang bermuara kepada NYA.
Maka lakukan jalur dzikir menuju pada kefanaanmu, sehingga engkau melangkah kepada kebaqa’an Allah
insha Allah… Jika engkau melakukannya sesungguhnya engkau menemukan kesadaran diri, siapa dirimu, dan untuk apa diciptakan Allah dan akan kemana engkau membawa amalan ibdahmu, atau kamamu itu.
Dan sesuatu gerak yang engkau lakukan dalam hati lewat getar suara akan mempengaruhi gerak alam semesta, maka jangan berharap Allah melupakan catatan rekamanmu… 
Dengan demikian sebagai wasiq Allah sebagai wakil Allah dibumi, hidupkanlah dzikirmu agar engkau mampu menebarkan kasih sayang, menebarkan Ruh Rabbani, Ruh Ketuhanan yang ada dalam dirimu…
Bukankah Nabi SAW bersabda, 
“Orang Mukmin adalah cermin bagi orang Mukmin.” 
Dan dengan demikian juga, maka manusia yang telah mengenal jati dirinya adalah dia yang menyimpan hakikat dan bentuk dari Al Qur’an sebagai sebuah Kitab Allah SWT yang menjelaskan segala sesuatu baik tentang dirinya, manusia lainnya, alam semesta, dan Tuhannya 
Sesuai dengan firman, 

“Pengetahuan Tuhan kami meliputi segala sesuatu” (QS 7:89) 
insha Allah…

apapun suku bangsamu, apapun agamamu apapun negaramu engkau adalah saudaraku, yang aku wajib mengenalmu sebagaimana kata Allah : 
Ya Ayuhhan nas inna kholaqnakum mindzakari wal unza waja’alnakum su’uban wa qoba’ila li ta’arofu

Salam persaudaraan

Iklan