APA yg dimaksud dg ILMU YANG BERMANFAAT ??

ILMU NAFI artinya ILMU YANG BERMANFAAT
Syaikh bin atha as Sakandari berkata , “Ilmu Nafi adalah sesuatu ( ilmu ) yang cahayanya memancar terang di dalam hati dan dengan ilmu itu sikap menerima tersingkap dari hati.”
Jadi ilmu nafi (ilmu yg bermanfaat) termasuk ilmu Qulub (ilmu hati) dan kembalinya kepada menjernihkan hati dan sifat-sifat buruk dan menghiasinya dg sifat-sifat utama (baik)
Secara Syariat, suatu ilmu disebut bermanfaat apabila mengandung mashlahat [memiliki nilai-nilai kebaikan bagi sesama manusia ataupun alam]. 
Akan tetapi, manfaat tersebut menjadi kecil artinya bila ternyata “tidak membuat pemiliknya semakin merasakan kedekatan” kepada Dzat Maha Pemberi Ilmu, Allah Ta’alla.
Oleh karena itu, dalam kacamata ma’rifat, gambaran ilmu yang bermanfaat itu sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh seorang ahli hikmah. “Ilmu yang berguna,” ungkapnya, “ialah yang meluas di dalam dada sinar cahayanya dan membuka penutup hati.” 
Imam Malik bin Anas radhiyallahu anhu. berkata, “Yang bernama ilmu itu bukanlah kepandaian atau banyak meriwayatkan (sesuatu), melainkan hanyalah NUUR yang diturunkan Allah ke dalam hati manusia. Adapun bergunanya ilmu itu adalah untuk mendekatkan manusia kepada Allah dan menjauhkannya dari kesombongan diri.”
Ilmu itu hakikatnya adalah kalimat-kalimat Allah Ta’alla. 
Terhadap ilmunya sungguh tidak akan pernah ada satu pun makhluk di jagat raya ini yang bisa mengukur Kemaha luasanNya. sesuai dengan firman-Nya.
“Katakanlah: Kalau sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menuliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (dituliskan) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).” [QS. Al Kahfi: 109]
Adapun ilmu yang dititipkan kepada manusia mungkin tidak lebih dari setitik air di tengah samudera luas. 
Akan tetapi, walaupun hanya “setetes” ilmu Allah yang dititipkan kepada manusia, namun sangat banyak ragamnya. 
ilmu itu baik kita kaji, sepanjang membuat kita semakin takut kepada Allah. Inilah ilmu yang paling berkah yang harus kita cari. sepanjang kita menuntut ilmu itu jelas (benar) niat maupun caranya, niscaya kita akan mendapatkan manfaat darinya.
Imam Syafii rahimahullah. ketika masih menuntut ilmu, pernah mengeluh kepada gurunya. “Wahai, Guru. Mengapa ilmu yang sedang kukaji ini susah sekali memahaminya dan bahkan cepat lupa?” Sang guru menjawab, “Ilmu itu ibarat cahaya. Ia hanya dapat menerangi gelas yang bening dan bersih.” Artinya, ilmu itu tidak akan menerangi hati yang keruh dan banyak maksiatnya
Walhasil, bila kita menginginkan ilmu yang bisa menjadi ladang amal shalih, maka usahakanlah ketika menimbanya, hati kita selalu dalam keadaan bersih. 
hati yang bersih adalah hati yang terbebas dari ketamakan terhadap urusan dunia dan tidak pernah digunakan untuk menzhalimi sesama.
Sebaik-baik ilmu adalah yang bisa membuat hati kita bercahaya. Karenanya, kita wajib menuntut ilmu sekuat-kuatnya yang membuat hati kita menjadi bersih, sehingga ilmu-ilmu yang lain (yang telah ada dalam diri kita) menjadi bermanfaat.
Bila mendapat air yang kita timba dari sumur tampak keruh, kita akan mencari tawas (kaporit) untuk menjernihkannya. 
Demikian juga dalam mencari ilmu. 

Kita harus mencari ilmu yang bisa menjadi “tawas”-nya supaya kalau hati sudah bening, ilmu-ilmu lain yang kita kaji bisa diserap hingga membawa manfaat.
Sibuk mengkaji ilmu fikih, hanya akan membuat kita ingin menang sendiri, gemar menyalahkan pendapat orang lain, sekaligus aniaya dan suka menyakiti hati sesama. 
Demikian juga bila mendalami ilmu ma’rifat. Sekiranya dalam keadan hati busuk, jangan heran kalau hanya membuat diri kita takabur, merasa diri paling shalih, dan menganggap orang lain sesat.
Oleh karena itu, tampaknya menjadi fardhu ain hukumnya untuk mengkaji ilmu kesucian hati dalam rangka ma’rifat, mengenal Allah.
Kita lahir ke dunia tidak membawa apa-apa dan bila datang saat ajal pun pastilah tidak membawa apa-apa. 
Mengapa harus ujub, riya, takabur, dan sum’ah.. ?? 
Merasa diri besar, sedangkan yang lain kecil…
Merasa diri lebih pintar sedangkan yang lain bodoh…
Itu semua hanya karena sepersekian dari setetes ilmu yang kita miliki ? 
Padahal, bukankah ilmu yang kita miliki pada hakikatnya adalah titipan Allah juga, yang sama sekali tidak sulit bagiNYA untuk mengambilnya kembali dari kita?
Mudah-mudahan kita dimudahkan olehNYA untuk mendapatkan ilmu yang bisa menjadi penerang dalam kegelapan dan menjadi jalan untuk dapat lebih bertaqarub kepadaNya.
” DIALAH ALLOH “,..yang tidak pernah meminta balasan dan imbalan kepada manusia….!

Dan dia berjanji, akan membalas kebaikan semua kebaikkan yang kita lakukan..
Lalu kenapa kita sanggup berbohong kepada diri kita sendiri ? 
Padahal, kita mengetahui kebohongan itu..? 
Lalu kenapa kita lakukan…?
Tidakah kita sadar …

semuanya milikNYA …
Siapa orang yang merasa baik, itulah orang yang jelek
Siapa orang yang merasa benar, itulah orang yang salah
Siapa orang yang merasa tidak punya dosa, itulah orang yang selalu berbuat dosa
Siapa orang yang merasa sempurna/ mulia, itulah orang terhina 
….dst 
Sekarang ganti dan muliakan dirimu dan bergantunglah hanya kepada Allah dan kembalilah padaNYA dengan penuh keikhlasan..
Dirimu adalah Hamba maka perlakukanlah dirimu layaknya seorang hamba agar sang Raja sudi memberikan sesuatu yang kau damba-dambakan
Hamba hanyalah hamba..

Dan akan selamanya akan menjadi seorang Hamba..
Maka Muliakanlah dirimu saat engkau berada dalam kehambaan itu…

Agar engkau dapat menjadi raja untuk dirimu
Seorang hamba pasti berakhir dan kembali pada sebuah istana yang terbuat dari papan, gelap gulita dan tidak ada satu orang pun yang mau menemaninya….
Hamba hanya sendiri dan tidak dapat meminta bantuan kepada siapapun juga. 
Kita hanya sendiri, tanpa kekuatan dan kesombongan yang ada.
Manusia hanyalah bayi kecil, orang mati dan tak lebih dari bangkai berjalan. 
Semua kekuatan dan kekuasaan adalah milik Allah dan kita hanya manifestasi dari kekuatan tersebut. 
Jika Allah berkenan memberikan kesejatian ilmu, maka kita akan merasakan indahnya hidup bersama Allah disetiap waktu dan di seluruh tempat, kita selalu dan selalu bersama Allah.
Kesejatian diri dan kesejatian ilmu hanya dapat diperoleh ketika kita telah memfana’kan jasadiyah kita kepada diri bathiniyah. 
Tentunya dalam perjalanan ini kita tidak bisa serta merta meninggalkan jasad ( Syariat ). 
Karena hakikat tanpa syariat akan menjadi sia-sia belaka. 
Syariat merupakan pencerminan jiwa suci hakikat diri, tidak akan mungkin didapati kesempurnaan pengenalan tanpa melewati jalan jasadiyah ini.
Proses ketaqwaan harus dilalui melewati fase syariat, tentunya kaidah ini harus menjadi landasan setiap muslim yang akan menjalani jalan tasawuf. 
Tidak akan pernah tasawuf yang dijalani tanpa pengetahuan tentang syariat yang benar dan total. 
Komparasi antara syariat dan tasawwuf adalah kesempurnaan dalam proses pencarian Tuhan
Ketika muslim sudah mengetahui hakikat dari jalan syariat yang dia jalani, maka pintu-pintu hikmah akan terbuka, dan muslim tersebut akan lebih menghargai kehidupannya dan mencintai kehidupan dengan menjalankan syariat itu secara kaffah. 
Ketika kita telah menjalankan syariat dan mengerti makna hakikat dari ibadah-ibadah syariat tersebut, kita akan terbebas dari belenggu ritual dan pelepasan kewajiban belaka. 
Dan kita akan menuju fase berikutnya yaitu melepaskan diri dari penyakit-penyakit dalam jiwa yang menjadi penghalang (hijab) antara kita dan Allah .
Ya…Alloh , ampunilah dosa dan salah kami…! Ampunilah dosa kedua orang tua kami.. Yang membesarkan kami, yang memberi kami petunjuk kejalan yg Engkau rihdoi..
Wahai yang Maha mendengar …

Perkenankanlah permintaan kami..!
Janganlah Engkau berpaling kepada kami, dan sekiranya kami melupakan kan Mu..

Berilah kami waktu untuk kembali…Kejalan Mu…..!!
Aamiin yaa..robbal alamin…

Salam persaudaraan

Iklan