‘ IQRA ’ (bacalah) denqan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah. IQRA’ (bacalah), dan Tuhanmu lah yang Paling Pemurah, sang Mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia Mengajarkan kepada manusia apa sang tidak diketahuinya.

(QS. Al ‘Alaq: 1-5)
perintah “IQRA” bukanlah sekadar “membaca” dalam arti menggoyang lidah untuk melantunkan huruf demi huruf, kata demi kata dan kalimat demi kalimat.
Namun Inilah yang membedakan antara membaca yang bernilai ibadah dengan membaca dalam bentuk yang lain. 
Perintah “IQRA” secara luas justru mengandung 3 pengertian dasar.
● Pertama, 

pengertian secara tekstual yaitu membaca ayat-ayat Allah (tanda-tanda Ilahi) yang tertulis dalam Al-Quran (al Aayaat al Qauliyyah);
Aliif = “Allah”.

Qaaf = “Quran”.

Raa = “Rahmat”
Dalam konteks ini, kata “IQRA” diartikan bahwa Allah swt menurunkan Al-Quran kepada Nabi Muhammad saw untk menjadi rahmat bgi alam semesta.
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu melainkan sebagai rahmat bagi alam semesta.” (QS. Al-Anbiya: 107)
● kedua, 

yaitu membaca ayat-ayat Allah (tanda-tanda Ialhi) yang tercipta dan terdapat di alam semesta;
Aliif = “Allah”

Qaaf = “Qalam” (gejala alam)

Raa = “Ra’a” (mbaca dgn mata)
Dalam konteks ini, kata “IQRA” diartikan bahwa alam semesta merupakan Al Qalam (tanda-tanda) yg dianugerahkan Allah untuk dipahami secara visual (dibaca dengan mata) oleh manusia untuk selanjutnya dijadikan sebagai dasar sebuah ilmu pengetahuan.
● ketiga, 

membaca ayat-ayat Allah (tanda-tanda Ilahi) yang terdapat pada diri pribadi setiap manusia.
Aliif = “Allah”

Qaaf = “Qalbu” (perasaan).

Raa = “Ruuh” (jiwa).
Dalam konteks ini, kata “IQRA” ditafsirkan sebagai sebuah sistem yang terdapat di dalam setiap diri pribadi manusia yang harus bekerja secara bersinergi, selaras dan seimbang. 
Ke 3 komponen inilah (yakni Allah, Perasaan dan Jiwa) yang disebut oleh sains modern sebagai “realiti quantum diri manusia”, yaitu sebuah realiti yang tidak kasat mata, namun menyimpan sebuah kekuatan dahsyat yang keberadaannya mampu merubah nasib manusia.
Secara Khusus maknanya adalah : 

Selalu Menghadirkan Allah dalam Hati Kita/Mengingat Allah.. 
Lumrah jika Manusia itu akan setuju dengan apa yang dia tahu.. dan tidak akan setuju dengan apa yang dia tidak tahu.. karena hal itu bertentangan dengan apa yang dia ketahui.. sedangkan dia ternyata masih tidak tahu apa yang dia tidak ketahui itu…  he..hee..hee..
SYARIAT itu TUBUH
TARIKAT itu HATI
HAKIKAT itu NYAWA 
MAKRIFAT itu RAHASIA SELURUH TUBUH. 
Itu semuanya telah lenyap karena semuanya tiada…
Yang ada hanya AKU

Semuanya lebur dengan kuasa KU 
Sebenar benar keuntungan adalah apabila mengenal diri sendiri…
Hanya orang yang kenal kerugian akan mengenal keuntungan…
Tapi kalau diri sendiri tidak kenal dan merasa kerugian .. tentu sukar untuk mencari jalan keuntungan…
Jangan biarkan diri hanyut dalam kerugian…
Untuk mengenal mesti berawal dari tidak mengenal….
Kalau sudah mengenal apa yang hendak dikenal lagi..??
Yang paling berharga dalam hidup adalah diri sendiri…
Sayangilah diri sendiri dengan sebenar-benarnya diri..
Tujuan SYAREAT = 

Agar Hatinya ada NUR
Tujuan TAREKAT =

Agar Dirinya dan NYAWAnya jadi mulia
Tujuan HAKEKAT =

Agar dapat MEMISAHKAN antara HAK dan BATIL
Tujuan MAKRIFAT =

Agar dapat derajat SADDIKIN
Semua ini hanya untuk MENCARI JALAN KEMBALI ke hadirat-NYA…..
Kita bukan penduduk bumi…

Kita adalah penduduk syurga…
Kita tidak berasal dari bumi…

Tapi kita berasal dari syurga.
Bumi hanyalah dalam perjalanan…

Kembalilah ke rumah.
Maka carilah bekal untuk kembali ke rumah…

Kembali ke kampung halaman…

Dunia bukan rumah kita…

Maka jangan cari kesenangan dunia.
Kita hanya pejalan kaki dalam perjalanan kembali ke rumah-NYA.
Bukankah mereka yang sedang dalam perjalanan pulang selalu mengingat rumahnya dan mereka mencari buah tangan untuk kekasih hatinya yang menunggu di rumah ?
Lantas,,,

Apa yang kita bawa untuk penghuni rumah kita, RABB yang mulia ?
Dia hanya meminta amal sholeh dan keimanan, serta rasa rindu pada-NYA yang menanti di rumah.
Begitu beratkah memenuhi harapan-NYA?
Kita tidak berasal dari bumi…

Kita adalah penduduk syurga…

Rumah kita jauh lebih Indah di sana.
Kenikmatannya tiada terlukiskan…

Dihuni oleh orang-orang yang mencintai kita…

Ada istri sholehah serta tetangga dan kerabat yang menyejukkan hati.
Mereka rindu kehadiran kita…

Setiap saat menatap menanti kedatangan kita…

Mereka menanti kabar baik dari Malaikat Izrail…

Kapan keluarga mereka akan pulang ?
Ikutilah peta (Al-Qur’an) yang Allah titipkan sebagai pedoman perjalanan…
Jangan sampai salah arah dan berbelok ke rumahnya Iblis Laknatullah yaitu jalan ke Neraka Jahanam.

Selamat berikhtiar saudaraku semua…utk kembali ke rumah kita di syurga.

Bismillah…

selamat  beraktivitas saudaraku

semoga banyak keberkahan.

Jangan lupa sholawat pd nabimu

Agar lancar semua urusan
Allahumma sholli ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad..

Barakallah
Salam persaudaraan

Iklan