Hati  (materi) menjadi objek pembahasan Biologi, sedangkan hati (immateri) menjadi objek bahasan ilmu tasawuf.

Tentang hati yang imateri ini dikatakan oleh imam Al-Ghozali didalam kitab Ihya Ulumiddin : 
“yakni suatu karunia Tuhan yang halus dan indah bersifat immateri, yang ada hubungannya dengan hati materi. Yang halus dan indah itulah yang menjadi hakekat kemanusiaan dan yang mengenal dan mengetahui segala sesuatu, hati juga yang menjadi sasaran perintah dan larangan dari Tuhan, yang akan disiksa, dicela dan dituntut segala amal perbuatannya.
yang akan disiksa, dicela dan dituntut segala amal perbuatannya.
Abdul Qasim Al-Qusyairy dalam membicarakan tentang alat mema’rifati Tuhan membagi alat itu menjadi tiga: 
1. Qalb untuk mengetahui sifat-sifat Tuhan
2. Ruh untuk mencintai Tuhan
3. Sir untuk melihat Tuhan
Sir lebih halus dari ruh. 

Ruh lebih halus dari qalb. 
Al-Ghozali membedakan antara Nafs, ruh, hati, dan akal. 
Nafs mempunyai dua (2) arti.

– Pertama ialah 

himpunan kekuatan marah dan syahwat dalam diri insan. 
– Kedua ialah 

sesuatu yang indah dan halus yang menjadi hakikat manusia.
Ruh juga mempunyai dua (2) arti. 

– Pertama sejenis barang halus yang bersumber dari ruang hati materi dan tersebar melalui syaraf keseluruh tubuh. 
Mengalirnya didalam tubuh sambil memancarkan cahaya kehidupan, dan memberikan indera pandangan, pendengaran, penciuman, perabaan dan perasaan lidah 
– Kedua ialah bahwa ruh itu merupakan suatu yang ghaib.
Akal mempunyai dua (2) arti. 

– Pertama ialah 

yang digunakan dengan arti ilmu tentang hakikat suatu hal. 
– Kedua ialah suatu alat untuk mengetahui ilmu tadi yakni sama dengan pengertian hati immateri.
Selain arti diatas ada sebagian para sufi yang membagi hati menjadi hati sanubari dan nurani bersifat immateri.
Pembicaraan tentang masalah hati banyak menyangkut ilmu jiwa (psychology). 
Psycholog modern pun banyak membicarakan masalah jiwa (ruh) ini. Namun tidak satu pun definisi yang mencapai pengertian tentang hakekat jiwa (ruh) itu yang sebenarnya. 
Firman allah Q.S Al-Isra’ : 85
وَيَسْئَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَآأُوتِيتُم مِّنَ الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً {85}
“katakanlah (ya Muhammad) soal ruh itu adalah termasuk Tuhanku.”
Ruh yang halus dan indah itu langsung datang dari Tuhan tanpa melalui proses seperti kejadian tubuh. 
Ruh langsung menempati tubuh yang telah dibentuk lebih dahulu didalam rahim ibu. Setelah tubuh itu melalui proses kejadiannya dalam waktu tertentu.
Ruh adalah unsur  penting dalam diri manusia, sebab kalau tanpa ruh manusia tidak akan ada. Mayat yang sudah tidak punya ruhnya lagi tidak akan bisa menjalankan fungsinya seperti kita yang masih hidup. 
Hati adalah gejala dari ruh. Ia mempunyai dua kekuatan yaitu:
a.  Kekuatan nafsu amarah
Kekuatan nafsu amarah mendorong manusia untuk berbuat jahat, yg menerima bisikan-bisikan halus dari syetan dan iblis. 
Kekuatan nafsu amarah ini yang harus dihadapi oleh manusia dalam setiap saat. 
Rasulullah menerangkan bahwa perjuangan melawan nafsu (amarah) adalah jihad yang besar.
b.  Kekuatan nafsu muthmainnah
Suatu daya yang selalu ingin membawa manusia menuju kesempurnaan jiwa dan kebersihannya yang hakiki. 
Nafsu muthmainnah inilah yang menampung ilham dari Tuhan dan bisikan-bisikan halus dari malaikat.
Kalau manusia lebih takhluk kepada kehendak tubuh lahir yang bersifat hawaniyah dan suka tunduk kepada kehendak syetan, maka napsu muhmainnah lebih cenderung untuk menuruti bisikan Malaikat dan ilham Tuhan. 
Dua daya inilah yang menjadi manifestasi adanya hati itu sendiri menjadi tanda gaib bahwa manusia mempunyai ruh (jiwa) yang amat ghaib bagi ilmu manusia.

Jiwa adalah harta yang tiada ternilai mahalnya. 
Kesucian jiwa menyebabkan kejernihan diri, lahir dan batin. Itulah kekayaan sejati.
Beberapa banyaknya orang yang kaya harta, tetapi mukanya muram, dan beberapa banyaknya orang yang miskin uang, tetapi wajahnya berseri. 
Sekedar kekuatan dan usaha diri, begitu pulalah tingkatan kesucian yang akan ditempuh jiwanya.
Hidup adalah pertempuran dan perjuangan belaka. Manusia tidak luput dari kesalahan dan kelemahan. Manusia pasti merasakan nikmat istirahat sesudah kerja, kelezatan menghadap Tuhan kelak di akhirat ialah sehabis bertempur dengan ranjau-ranjau hidup yang ngeri pada hari ini. 
Orang yang takut menghadapi kehidupan dan tidak berani menggosok dan mensucikan batinnya, tidak akan kenal arti lezat. 
Menurut Sahl al-Tastari [*4] bahwa menurut pandangan sufi, komposisi manusia yang paling sempurna memiliki tiga unsur yaitu Ruh, Jiwa, dan Badan, masing-masing unsur ini mempunyai sifat yang langgeng di dalamnya. 
Sifat ruh adalah kecakapan aqliyah, 
Sifat jiwa ialah hawa nafsu, 
Sifat badan ialah penginderaan. 
Manusia adalah suatu tipe alam semesta. Alam semesta adalah nama dua alam, dan dalam diri manusia ada tanda dari keduanya, karena ia terdiri dari lendir, darah, empedu dan kemurungan hati, yang mana empat (4) suasana jiwa berkaitan dengan empat unsur dunia ini, yakni air, tanah, udara, dan api.
Dalam diri manusia terjadi tarik menarik antara unsur yang mengajak ke arah positif, yaitu roh yang mempunyai sikap rasional, dan unsur lain berupa nafs (jiwa rendah) yang cendrung ke hal-hal yang bersifat negatif. 
Posisi manusia akan ditentukan unsur mana yang menang dalam percaturan setiap harinya. 
Jika sifat ruhnya yang menang, maka dia lebih menyerupai malaikat, namun apabila yang dominan itu nafsunya, maka akan lebih menyerupai sifat kebinatangan. 
Seperti dalam QS. At-Tin: 4-6.
 لَقَدْ خَلَقْنَا اْلإِنسَانَ فيِ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ 

{4} ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ{5} إِلاَّالَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ {6} .
4. sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. 
5. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka), 
6. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.” 
al-Ghazali menyatakan bahwa dimensi rohani manusia mempunyai empat kekuatan, yakni Qalb, Ruh, Nafs dan Akal. 
Keempat unsur ini ditinjau oleh al-Ghazali secara pisik dan psikis. [*5]   
1.      Qalb berarti segumpal daging yang berbentuk bundar memanjang, terletak pada pinggir kiri dalam dada. 
Di dalamnya terdapat lobang-lobang. Lobang-lobang ini diisi dengan darah hitam yang merupakan sumber dan tambang dari nyawa. 
Secara psikis, qalb berarti sesuatu yang halus, ruhani yang berasal dari ketuhanan. 
Qalb dalam pengertian kedua ini yang disebut hakikat manusia, dialah yang merasa, mengetahui, dan mengenal serta yang diberi beban, disiksa, dicaci, dan sebagainya. Hakikatnya tidak bisa diketahui.
2.      Ruh secara biologis ialah tubuh halus (jisim lathifah) yang bersumber dari lobang qalb, yang tersebar ke seluruh tubuh dengan perantara urat-urat (daya hidup), bagaikan tersebarnya sinar lampu keseluruh ruangan. 
Sedang pengertiannya yang kedua ialah sesuatu yang halus yang mengetahui dan merasa. Roh yang mempunyai kekuatan inilah yang tidak dapat diketahui hakikatnya.
3.      Nafs ialah kekuatan yang menghimpun sifat-sifat tercela pada manusia, yang harus dilawan dan diperangi. 
Sabda Nabi saw:

“Musuhmu yang paling besar ialah nafsumu yang berada di antara dua lambungmu” .[*6]
Sedang pengertian kedua ialah hakikat manusia yang akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat. Ia disifati dengan berbagai sifat sesuai dengan keadaannya. Apabila tenang dan jauh dari kegoncangan, yang menentang nafsu syahwatiyah, maka disebut nafsu muthma-innah. 
Sesuai dengan QS.al-Fajr: 27-30.
Hai jiwa yang tenang.
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
27
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridai-Nya.
ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً
28
Maka masuklah ke dalam jemaah hamba-hamba-Ku,
فَادْخُلِي فِي عِبَادِي
29
dan masuklah ke dalam surga-Ku.
وَادْخُلِي جَنَّتِي
30

Apabila keadaannya kurang sempurna ketenangannya, akan tetapi dia mencela dan menegur kepada dirinya sendiri manakala teledor untuk berbuat tidak baik, maka disebut nafsu lawwamah. Seperti dalam QS.al-Qiyamah: 2. 
Kemudian apabila nafsu tunduk dan patuh terhadap nafsu syahwat dan panggilan setan, maka dinamakan nafsu amarah, yang mengajak pada kejahatan. 
Seperti dalam QS. Yusuf: 53.
4.      Akal ialah pengetahuan tentang hakikat segala keadaan, maka akal itu ibarat sifat-sifat ilmu yang tempatnya di hati. 
Pengertian kedua ialah yang memperoleh pengetahuan itu. Dan itu adalah hati.
Salam persaudaraan

Iklan