JIWA apabila telah suci dan mampu berbuat sesuatu, ia senantiasa terhubung dengan Ruh Alloh, yang juga terhubung kepada Alloh Ta’ala secara langsung.
Jiwa memiliki QALB atau HATI NURANI yang senantiasa dapat membaca kebenaran Ilahi, serta dapat membaca apa yang paling Alloh kehendaki, dan yang Dia ridhai
Sedangkan jasad dengan keliaran pikirannya senantiasa sulit memahami sebuah kebenaran hakiki, karena jasad terbuat dari alam materi bumi, maka ia senantisa terhubung dan dipengaruhi langsung oleh unsur-unsur bumi.
Ketika pikiran bekerja, karena berada dalam ruang Otak di jasadnya, maka ia pun tidak bisa melepas dari faktor ruang dan waktu, sehingga sangat logis kalau pertimbangan pikiran senantiasa selalu dipengaruhi oleh peran jasad kebumiannya. 
Nyaman tidaknya, bahagia atau tidaknya selalu diukur oleh kenyamanan dan kebahagian bagi aspek jasadnya saja, dan sangat bisa jadi tidak berhubungan dengan nilai kebenaran dan nilai luhur ajaran agama dalam menilai apa yang Haq dalam pandangannya… hingga akhirnya akan kita kenali pula sekian juta pemikiran yang berbeda berdasarkan jutaan cara pandang, latar belakang kehidupan, tingkat kecerdasan, serta faktor lahiriyah lainnya.
Namun ketika Jiwa yang merupakan elemen cahaya yang memiliki derajat sama dengan aspek cahaya malaikat, maka dia akan berpikir dengan apa yang dipikirkan oleh para malaikat ini. 
Jiwa yang suci, yang tercahayai oleh iman, akan senantiasa terhubung komunikasinya dengan Alloh Ta’ala, akan senantiasa cenderung ingin mengabdi dan mengabdi sepanjang hidupnya di dalam kehendak Alloh Ta’ala, karena hakekatnya dia telah mengenal Alloh. 
Mengenali dg benar, siapa yang berhak menjadi Tuhan Seru Sekalian Alam yang mengatur setiap kehidupan di dunia dan akhirat ini.
Islam pun telah mengenal konsep pengenalan diri itu dengan istilah Alquran suci… membaca kitab diri…
Mari kita tafakkuri ayat agung QS Al-Isra [17]:14 Allah Swt berfirman :

“Bacalah kitabmu, cukuplah bagi jiwamu pada hari ini sebagai penghisab atasmu”
Membaca kitab diri, membaca siapa diri, membaca ukuran diri, membaca dan mengenali segala potensi diri, diri sebagai Jiwa.
Jiwa yang telah Allah tetapkan di alam azali nya dengan segala ketetapan yang terjaga di lauh mahfudz
Membaca diri juga memiliki makna lain adalah membaca tugas diri, tugas sang Jiwa yang diamanahi oleh Allah agar dapat menuntun Jasadnya. 
Itulah makna lain bahwa laki-laki sebagai pemimpin bagi perempuan, maka bisa kita maknai, walaupun secara biologis seseorang di katakan perempuan, namun dalam makna lebih luas tadi, ada dalam dirinya yang bergender perempuan tersebut sisi kelaki-lakiannya yaitu aspek jiwa nya yang harus berperan sebagai pemimbing bagi aspek perempuan dirinya berupa Jasadnya…
Sang Jiwa, atau Nafs, sebagai figur laki-laki tentu Alloh berikan kemampuan memimpin bagi Jasadnya. 
Di dalam Jiwa terdapat inti berupa Qalb, yang juga berperan sebagai tempat persinggahan cahaya iman. 
Dan lewat inti dari sisi kemanusiaannya inilah, Alloh memberikan petunjuk-petunjuk-Nya. 
Oleh Karena itu, 

tatkala sang Jiwa berhasil dituntun oleh Alloh untuk dapat melakukan perbuatan-perbuatan sesuai kehendak-Nya, maka sang hamba ini pun akan memiliki kemampuan pula untuk dapat menuntun Jasadnya menggerakan apa yang menjadi keinginan Jiwanya…
Jika tidak, maka yang menggerakan adalah murni dari sisi pikirannya, yang berada dalam tataran jasadnya, yang karena ia tersusun dari elemen bumi, maka fitrahnya adalah sangat dipengaruhi oleh dominasi aspek bumi itu sendiri, aspek ruang dan waktu, aspek lahiriyah belaka dan perhitungan untung rugi nya pun berdasarkan apa yang menguntungkan bagi aspek lahiriyahnya belaka pula…
Hingga akhirnya akan kita temukan seseorang yang dengan ringannya melakukan keburukan demi keburukan hanya karena hal itu menjadi sebuah perintah logika pikiran jasadiyahnya, sehingga pertimbangan baik dan buruknya pun akan selalu didasarkan atas baik dan buruk menurut pikiran..
Kembali kita kaitkan dengan urusan pasangan di luar diri kita…

sebagaimana sang laki-laki harus menjadi pemimpin bagi perempuannya, sehingga dalam aturan syariat agamapun sang laki-laki yang akan dimintai pertanggungjawaban atas tindakannya dalam menuntun pasangannya…
Sang laki-laki yang berkewajiban berbuat adil terhadap perempuannya, terhadap pasangannya dalam artian berkewajiban menuntun sang istri menemukan jati dirinya….
Itu wajib dilakukan sebagaimana seharusnya sang jiwa dalam diri masing-masing harus dapat menuntun jasadnya…
Kiranya jalan pensucian ini menjadi landasan inti kehidupan, landasan inti dasar ajaran agama yang Allah tuntun dalam sejarah peradaban manusia di mana pun juga.. sebagaimana Adam a.s. kembali Allah angkat tatkala beliau bertaubat dengan sebesar-besarnya taubat…
Wa Allahu a’lam

 

Iklan