Al Qur’an menyebut NAFS dengan kata jadian yang terulang sebanyak 303 kali. 
Tetapi JIWA juga disebut Al Qur’an dengan term lain, yakni `Aql, Qalb, dan Bashirah. 
NAFS dalam al Qur’an digunakan untuk menyebut totalitas manusia (Q/5:32, Q/36:54), 
sisi dalam (JIWA) manusia dan sebagai penggerak tingkah laku (Q/13:11). 
Jika tubuh manusia memiliki sistem, demikian juga jiwa manusia. 
Sistem NAFSANI manusia terdiri dari elemen-elemen Qalb, `Aql, Ruh, Bashirah dan Fithrah ~> dengan fungsinya masing-masing sebagai subsistem. 
Selanjutnya interaksi atau hubungan dari elemen-elemen itu diikat oleh perasaan dan fikiran sehingga NAFS sebagai satu kesatuaan dapat melahirkan tingkah laku sebagai hasil akhir dari sistem nafsani tersebut. 
NAFS juga dapat digambarkan sebagai ruang yang sangat luas dalam diri manusia dimana didalamnya terdapat kamar-kamar yang didesain untuk dimungkinkannya kelangsungan berfikir dan merasa…
Tetapi NAFS bukan alat..

Dalam Al Qur’an QALB (kalbu) disebut sebagai alat untuk memahami realitas dan nilai-nilai (Q/22:46 atau 7:179). 
Oleh karena itu QALB hanya menampung hal-hal yang disadari, dan keputusan QALB mengandung implikasi pahala dan dosa. 
Sementara itu apa yang sudah dilupakan oleh QALB masuk ke dalam memori NAFS, yang pada suatu saat dapat muncul dalam bentuk impian. 
Mimpi itu sendiri ada yang merupakan :
komunikasi ruhaniah, disebut Ru’ya al haqq (Q/12:4,5,100) 
ada juga yang sekedar mimpi kalut, disebut adhghatsu ahlam (Q/12:44). 
Sesuai dengan namanya QALB , memiliki tabiat tidak konsisten (taqallub) karena
Ia suka berpaling (9:117), 
kecewa dan kesal (39:45), 
mengambil keputusan (33:5), 
berprasangka (48:12), 
menolak (9:8) 
mengingkari (16:22), 
dapat diuji (49:3), 
ditundukkan (22:54), 
diperlonggar dan dipersempit (6:125) 
dan bahkan ditutup rapat (2:7). 

Di dalam QALB juga terkandung :
penyakit (2:10), 
perasaan takut (3:151), 
getaran (8:2), 
kedamaian (48:4) 
keberanian (3:126), 
cinta dan kasih sayang (57:27), 
kebaikan universal (8;17), 
iman (49:7,14), 
kedengkian (59:10) 
kufur (2:93), 
kesesatan (3:7), 
penyesalan (3:156), 
panas hati (9:15), 
keraguan (9:45), 
kemunafikan (9:77) 
dan kesombongan (48:26). 
Taqallub al Qalb itu dapat membawa hati pada satu titik ekstrim ke titik ekstrim lainnya. 
Karena QALB mempunyai karakter tidak konsisten, maka ia bisa terkena konflik batin. 
Interaksi yang terjadi antara pemenuhan fungsi memahami realita dan nilai-nilai (positip) dengan tarikan potensi negatip yang berasal dari kandungan hatinya, melahirkan satu keadaan psikologis yang menggambarkan kualitas, tipe dan kondisi dari QALB itu. 
Proses pencapaian kondisi QALB itu melalui tahapan-tahapan perjuangan rohaniah, 
Dalam proses itu, menurut Al-Qur’an, manusia mempunyai sifat tergesa-gesa, (21: 37 dan Q/17:11), dan berkeluh kesah, (70:19-21). 
Proses interaksi psikologis itu mengantar hati pada kondisi dan kualitas hati yang berbeda-beda, yaitu; 
1). Keras dan kasar hati,( 3:159), 
2). Hati yang bersih, (26:89) 
3). Hati yang terkunci mati, (42:24) 
4). Hati yang bertaubat, (50:33) 
5). Hati yang berdosa ,(2:283) 
6). Hati yang terdinding, (8:24)
7). Hati yang tetap tenang,(16:106) 
8). Hati yang lalai, (21:3) 
9). Hati yang menerima petunjuk Tuhan ( 64:11) 
10). Hati yang teguh, (28:10) 
11). Hati yang takwa, (/22:32) 
12). Hati yang buta, (22:46) 
13). Hati yang terguncang (24:37) 
14). Hati yang sesak, (40:18) 
15). Hati yang tersumbat,( 2:88) 
16). Hati yang sangat takut (79:8) 
17). Hati yang condong kepada kebaikan (66:4) 
18). Hati yang keras membatu, (2:74) 
19). Hati yang lebih suci, (33:53) 
20). Hati yang hancur (9:110 ) 
21). Hati yang ingkar,(16:22) 
22). Hati yang takut, (23:60) 
23). Hati yang kosong, (14:43) 
24). Hati yang terbakar, (104:6-7 ) 
Dari keterangan menyangkut fungsi, potensi, kandungan dan kualitas hati yang disebut dalam Al-Qur’an tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa QALB mempunyai kedudukan yang sangat menentukan dalam sistem NAFSANI manusia. 
QALB lah yang memutuskan dan menolak sesuatu, dan QALB pula yang memikul tanggung jawab atas apa yang diputuskan. 

Berbeda dengan kalimat al qalb, dalam Al-Qur’an kalimat al `AQL tidak pernah disebut dalam bentuk kata benda , tetapi selalu dalam bentuk kata kerja, baik kata kerja fi`il mady maupun fi`il mudari`. 
Al Qur’an juga menyebut orang berakal dengan beberapa istilah, seperti (uli an nuha) yang berarti orang yang memiliki pencegah atau akal yang mencegah dari keburukan,
(ulu al `ilmi), orang yang berilmu,
(ulu al albab), orang yang mempunyai saripati akal,
(ulu al absar), orang yang mempunyai pandangan tajam,
dan ( zi hijr), orang yang mempunyai daya tahan

Dari 49 ayat yang menyebut al `AQL, kata `AQL mengandung pengertian mengerti, memahami dan berfikir. 
Tetapi pengertian berfikir juga diungkap Al-Qur’an dengan kata yang lain, seperti : 
nazara yang artinya melihat secara abstrak ( Q/50: 6-7, Q/86: 5-7, Q/88: 17-20), 
tadabbara yang artinya merenungkan (Q/38:29, Q/47:24), 
tafakkara yang artinya berfikir (Q/16:68-69, Q/45:12-13), 
faqiha-tafaqqaha yang artinya mengerti (Q/17:44 , Q/16:97-98, Q/9:12, 
tazakkara yang artinya mengingat, memperoleh pengertian, mendapatkan pelajaran, memperhatikan dan mempelajari (Q/16:17, Q/39:9, Q/51:47-49), 
kalimat fahima ( ??? ) yang artinya memahami ( Q/21:78-79). 
Meskipun banyak istilah dalam Al-Qur’an yang berhubungan dengan aktifitas akal, tetapi kata ‘aqala mengandung arti yang pasti, yaitu mengerti, memahami dan berfikir. 
Hanya saja Al-Qur’an tidak menerangkan bagaimana proses berfikir seperti yang dibahas dalam psikologi, tidak juga membedakan mana daya berfikir dan mana alat berfikir seperti yang dibicarakan oleh filsafat, tidak pula menyebut pusat kegiatan berfikir itu di dada atau di kepala, tetapi menyebut bahwa qalb yang di dada juga berfikir seperti akal. 
Al-Qur’an juga menerangkan pertumbuhan akal (Q/32:7-9, 16:78,96:4-5) ,
kemampuannya (25:44, 45:5) 
kapasitasnya (29:63). 
Al Qur’an juga menyebut ciri-ciri kecerdasan akal, antara lain; mampu 
memahami hukum kausalitas (23:8), 
memahami sistem jagad raya (26:18-68), 
mampu berfikir distinktip (13:4), 
menyusun argumen yang logis (3:65), 
berfikir kritis (5:103), 
mampu mengatur taktik strategi (3:118-120) 
mampu mengambil pelajaran dari pengalaman (5:164-169). 
Disamping kata RUH, dalam bahasa Arab juga dikenal ROUH yang artinya rahmat dan RIH yang artinya angin. 
RUH dalam bahasa Arab juga digunakan untuk menyebut jiwa, nyawa, nafas, wahyu, perintah dan rahmat.
Jika kata ruhani dalam bahasa Indonesia digunakan untuk menyebut lawan dari dimensi jasmani, maka dalam bahasa Arab, kalimat (ruhaniyyun- ruhaniy) digunakan untuk menyebut semua jenis makhluk halus yang tidak berjasad, seperti malaikat dan jin. 
Dalam Al-Qur’an, RUH juga digunakan bukan hanya satu arti. Term-term yang digunakan Al-Qur’an dalam menyebut RUH, bermacam-macam. 
Pertama RUH disebut sebagai :
NYAWA yang menyebabkan seseorang masih tetap hidup (17:85), 
malaikat (26:193), 
rahmat Allah (58:22)  
Al Qur’an (42:52). 
Tentang RUH manusia, meski disebutkan ada proses peniupan RUH ke dalam tubuh manusia, (32:7-9) tetapi dari ayat itu juga bisa difahami bahwa RUH itu semacam sinergi dari elemen-elemen sistem organ tubuh.~> Artinya ketika organ-organ tubuh manusia semuanya berfungsi maka RUH hadir, dan ketika tidak berfungsi maka RUH menghilang, sehingga kehadiran RUH dapat difahami sebagai sunnatullah yang bisa dirumuskan dengan jika x maka y. 
Hati NURANI (Bashirah) Dalam bahasa Arab, berarti jendela hati, jika disebut artinya pandangan dan lintasan hati. 
Sedangkan kata jika dihubungkan dengan nama Tuhan, maka artinya Allah mampu melihat sesuatu secara total, yang nampak maupun yang tidak tampak tanpa memerlukan alat. 
Jika dihubungkan dengan manusia, maka mempunyai empat (4) arti, yaitu 
(a) ketajaman hati, 
(b) kecerdasan, 
(c) kemantapan dalam agama, 
(d) keyakinan hati dalam hal agama dan realita. 
Meskipun juga mengandung arti melihat, tetapi jarang sekali kalimat tersebut digunakan dalam literatur Arab untuk indera penglihatan tanpa disertai pandangan hati.
Dengan demikian maka hati NURANI dapat difahami sebagai pandangan mata hati sebagai lawan dari pandangan mata kepala. 
Dari keterangan Al Qur’an menyangkut NAFS maka struktur BASHIRAH dalam sistem NAFS dapat diilustrasikan sebagai berikut; 
Manusia memiliki dimensi ruhani yang terdiri dari :

– Nafs, 

– Aql, 

– Qalb, 

– Ruh 

– Basirah. 
NAFS diibaratkan sebagai ruangan yang sangat luas dalam alam ruhani manusia. ~> Dari dalam NAFS itulah manusia digerakkan untuk menangkap fenomena yang dijumpai, menganalisanya dan mengambil keputusan. 
Kerja NAFS dilakukan melalui jaringan QALB, AQL, dan BASHIRAH ~> tetapi kesemuanya itu baru berfungsi manakala RUH berada dalam jasad dan fungsi keJIWAan telah sempurna. 
QALB merupakan bagian dalam NAFS yang bekerja memahami, mengolah, menampung realita sekelilingnya dan memutuskan sesuatu. 
Sesuai dengan potensinya maka QALB merupakan kekuatan yang sangat dinamis, tetapi ia temperamental, fluktuatip, emosional dan pasang surut. 
Untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi, QALB bekerja dengan jaringan AQL
Tetapi kondisi QALB dan AQL terkadang tidak optimal sehingga masih dimungkinkan terkontaminasi oleh pengaruh syahwat, atau motiv hal-hal yang bersifat negatip, dan dalam keadaan demikian, ‘AQL dan QALB dapat melakukan helah mental, yakni memandang sesuatu yang salah, dengan alasan-alasan yang dibuatnya, seakan-akan yang salah itu wajar. 
BASHIRAH bekerja mengkoreksi penyimpangan yang dilakukan oleh QALB dan ‘AQL ~> Dapat juga disebut bahwa kondisi QALB dan ‘AQL yang tingkat kesehatannya optimum ( al `aql as Salim) itulah yang disebut hati NURANI atau BASHIRAH. 
Dalam sistem NAFSANI, disamping ada subsistem qalb, `aql dan bashirah juga ada subsistem fithrah dan syahwat. 
Yang dimaksud dengan fitrah manusia adalah keadaan semula jadi manusia. 
Surat 30:30 menyebutkan bahwa pada dasarnya jiwa manusia diciptakan dengan desain sempurna, yakni memiliki potensi keagamaan yang hanif (yang benar), lebih mudah berbuat baik dibanding berbuat jahat (2:266) dan memiliki rasa keadilan (82:5-7). 
Disamping potensi positip tersebut, NAFS juga memiliki potensi SYAHWAT dan HAWA. 
Dalam Al Qur’an SYAHWAT dihubungkan dengan fikiran-fikiran yang didorong oleh hawa nafsu (4:27), dengan keinginan terhadap kelezataan dan kesenangan (3:14, 19:59) dan perilaku seks menyimpang (7:81 dan 27:55) . 
Sedangkan yang dimaksud dengan HAWA adalah kecenderungan NAFS kepada syahwat yang mengandung konotasi negatip.
Sebagai penggerak tingkahlaku, NAFS menurut Al Qur’an memiliki dorongan-dorongan atau motif 
kepada pemilikan (2:212, 3:14) , 
kepada kebaikan (9:112), 
kepada pengetahuan (2:260), 
mempertahankan hidup (9:86-87, 5:22), 
kepada kesyahidan /mati syahid (4:69), 
kepada hubungan seks (4:1), 
kepada permusuhan (7:24), 
dorongan untuk membantah (18:54). 

Salam persaudaraan

Iklan