Kita harus ingat kepada asal yang sejati, waktu sebelum datang ke dunia ini… 

Dari Alam Akhirat juga tidak punya maksud untuk datang ke alam zohir, tapi tetap saja ada di dunia menjadi wujud.. itulah kuasanya Allah. Makanya manusia berada di dunia itu karena kuasanya Yang Maha Suci.
Menurut dalil yang sudah umum maka,

  • “ INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAAJI’UN ” 

Kembali ke asalnya, diwajibkan harus bisa pulang ! Pulang kembali kepada Allah Ta’ala.. 

Jadi jika tidak bisa pulang kepada Allah (kepada asalnya tadi), tentunya bakal celaka..! nyasar jalan-jalan ke sana kemari tidak tahu arah tujuan dan sengsara. 
Pulang kepada Allah jangan salah dan jangan keliru, harus Tauhid dari sekarang..! Kita harus merasa ada di Allah, sudah pulang kepada Allah, 
Jika Tauhid merasa sudah pulang, itu artinya RASA sudah ada pada Allah (Rasa Akhirat), pada Sifat-Nya sudah ‘ain yang di sebut Nurullah/Iman sejati  ~> cahaya terang benderang di dalam Hati/Qolbu hasil dari menyelam di laut yang dalamnya tanpa tepian yaitu Samudra kehidupan ini..
Pulang itu harus dari sekarang…! 
Pulang kepada Allah harus terasa, walaupun hidup di dunia.
Bagaimana merasakannya sudah pulang..? 
Sudah ada di Allah..? 
Mengakui Ma’rifat kepada Allah, tetapi mengapa tidak merasakan

  •  ” Wa huwa ma’akum ” 

Jika begitu berarti masih merasa jauh, masih merasa ada jarak… 

sewaktu ngantuk ingin tidur, tidak terasa dari sadar pada tidur, tidak melihat ada tempatnya, malah tidak perlu punya maksud, juga ketika bangun dari tidur. 
Tidur adalah gambaran wafat..
tapi bangun dari tidur walaupun bermimpi sudah tidak keluar dari Qudrat Iradat-Nya Maha Agung, dari Kuasa dan Kehendak-Nya. 

  • “ LAA HAULA WA LAA QUWWATA ILLA BILLAHIL ‘ALILLYUL ‘ADZIM ” 

iya… yang masih berubah dan bergerak, serta masih ada di alam dunia, masih dikehendaki oleh Allah. 
Lillahi ta’ala, pasrah saja kepada Allah, tinggal Iman saja siang dan malam, jangan samar kepada Haqullah yaitu Dzat Sifat Maha Suci.
Inshaa Allah..

tegasnya… harus merasakan bodohnya si wujud, tidak ada daya tidak ada upaya, dan harus merasa menjadi “alat”. 
Jadi sebetulnya kita sudah mati…?? 

Sebab jika punya maksud pulang, itu tandanya punya rasa, ada jarak dengan Allah, masih jauh, tidak 

  • “ Wanahnu aqrobu ” 

Tidak ada antara dan tidak ada jarak Allah dengan makhluk. Jika sudah begitu buat apa punya maksud waktu mati ? tidak merasa jauh, bahasanya  “pulang” itu harus ada antaranya. 

dengan begitu maka Allah jadi bertempat, 
Bukankah Allah tidak berarah dan bertempat, tidak berwarna, tidak berupa, tidak ada umpamanya..  berbarengan dengan Allah ?

jika sudah begitu selamat dunia dan akhirat, hidup dan matinya, karena tidak keluar dari Haqullah, sudah berada dalam naungan hak Maha Suci/Haqullah sewaktu hidup, apalagi matinya tidak akan menemukan siksaan karena tetap berada di hak Allah..

Memang betul bakal ada siksaan kubur dan siksaan di Akhirat, yaitu bagi nyawa-nyawa yang balik lagi kepada Haqul Adam. 
Haqul Adam yang mana nyatanya ? 
Nyatanya adalah Alam Dunia, jika nyawa makhluk matinya balik lagi ke dunia, sudah pasti celaka..!
Bakal menemukan segala siksaan, pada waktu nanti

  •  “ Wal yaumil akhiri ”

Bagi Nyawa yang pulang lagi ke dunia atau kembali ke Haqul Adam, orang yang seperti itu sama sekali tidak ibadah waktu di dunia, tidak tahu kepada Sifat-Nya Haqullah, tidak tahu samudera hidup, karena sewaktu di dunia ia buta, maka akan terus buta sampai Akhirat. 

Karena pada waktu sakaratul maut tidak bisa melihat Haqullah…
Tahunya waktu di dunia hanya kepada barang dunia, sudah pasti saat sekarat, tidak ada yang di ingat….  

Yang di ingat hanyalah barang dunia seperti anak, cucu atau istri, harta, tahta dll (segala rupa urusan dunia), tentu saja Nyawanya berat kepada iman dunia, yaa pasti ke dunia lagi kembalinya..! 

Terkurung oleh Alam zhohir ~> jadinya bergentayangan menjadi arwah yaitu sifat Nyawa. 
Tiap – tiap yang berjiwa akan merasakan kematian dan ketika manusia mengalami sakaratul maut, maka ilmu yang di dapatkan seseorang ketika hidup di Dunia akan menentukan arah jalan pulang..!! 

jika tahunya hanya kepada barang Dunia (Iman dunia) maka pada waktu sakaratul maut, tentu saja nyawa imannya akan kembali kepada Dunia, terjadilah kontak Nyawa dengan barang Dunia.  

Jika Nyawanya kontak dengan Dunia, maka Nyawa akan kembali lagi ke Alam Dunia.
Makanya… manusia harus tahu dan wajib bertemu dengan asalnya dahulu, yaitu ma’rifat kepada Nur Muhammad cahaya empat rupa.

Agar nyawa nanti ketika mau mati kesadarannya kesitu…
Sudah pasti kontaknya dengan cahaya Nur Muhammad asal Jasad, tetap langgeng di ni’mat yaitu Surga… 

Rasa ni’mat yang abadi. 
Jika di dunia ma’rifat kepada Dzat Allah, Samudra nyawa semuanya, maka pada waktu mau mati Nyawa akan kontak dengan Samudra kehidupan/ Ruh Ilmu Rasulullah.

Tentu jadinya lupa, tidak ingat ada enak dan tidak enak, balik lagi kepada rasa yang dahulu yaitu rasa Allah, tidak ada apa – apa, hanya Allah yang ada, langgeng adanya.   

  • INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAAJI’UN 

Asal dari Allah sudah pasti harus balik lagi kepada Allah Yang Maha Agung. 
Apakah ini jauh dari Allah? 
Apakah ada jarak?  

Bukankah Allah meliputi 7 lapis Bumi dan isinya, ketika manusia turun ke Alam zohir tidak ada langkah atau bahasa pergi.. perginya ke Alam zohir tidak merasakan.

 Jika ada bahasa “ pergi ” berarti jauh dari Maha Agung yang meliputi 7 bumi dan isinya …

  • “ INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAAJI’UN “

Rasa Dunia terganti oleh Rasa Akhirat, tapi pulangnya ada tiga perkara ;

  1. HAQ ADAM 
    Jika rasa pulangnya kepada Haq Adam, diam di Neraka, pasti merasa sakit saja, berada di jalannya dahulu, sewaktu manusia turun ke Alam Dunia waktu di lahirkan oleh Ibu, di situ seorang Ibu merasakan kesakitan. Inilah buktinya HAQUL ADAM.
  2. HAQ MUHAMMAD 
    Yaitu rasa Dhohir, jika pulangnya kepada Haq Muhammad, menjadi ni’mat sudah pasti, Surga yang kekal abadi, tidak ada campur sakit, karena ketika di dunia, enak dan tidak enak sudah bercampur, timbul tenggelam..
    Dan ketika sudah meninggal enak dan tidak enak akan berpisah, jika jatuhnya ke Surga akan tetap berada dalam ni’mat, dan yang pulang ke Nerakapun begitu, akan tetap langgeng di dalam kesakitan selamanya… 
    Surga itu seperti apa ? 
    Mengapa seperti di zohir ? . 
    Surga Maha Agung adalah ghoib, tidak ada bukti, tidak terlihat oleh mata, tidak terdengar oleh telinga, hanya ni’mat yang terasa. 
    Keni’matan di Surga Maha Agung, tidak karena di kerjakan… Tidak seperti Bapak dan Ibu ketika bertemunya dua rasa dan menjadi ada bayi. 
    Keni’matan Akhirat adalah Agung, rasa begitu sudah pasti tidak ada, karena hanya ni’mat saja selamanya, inilah HAQUL MUHAMMAD RASUL. 
  3. HAQ MAHA AGUNG 
    Manusia yang sampai kepada-Nya tetap langgeng di lupa, sempurna pulang kepada rasa yang dahulu sebelum Dunia ini lahir, yaitu sewaktu masih menjadi Nur Muhammad, tidak merasakan apa – apa, tidak ada enak dan tidak enak… luput. 
    Dzat Laisa kamishlihi syaiun, 

 Memang benar harus pulang, tapi bukan berangkat pergi begitu saja seperti dari luar lalu masuk ke rumah… 
Bahasa “ pulang “ itu adalah pulang dalam ni’mat. yaitu Kiamat Dunia..

tidak berarah dan tidak bertempat, tidak berwarna dan tidak berupa… KESUNYIAN SEJATI… 

Ni’mat… 

Bagaikan bayi di Alam Rahim kembali kepada HAQULLAH. 
Jika di dunia yang sampai kepada martabat begitu, karena mencari IlmuNYA dengan bersungguh-sungguh, sehingga ma’rifatu kepada samudra kehidupan (Ruh Ilmu Rasulullah) yaitu Dzat Maha Agung, kembali kepada Surga Maha Agung bagi yang sudah ma’rifat kepada Nur Muhammad empat rupa ketika di dunia.
Dan yang pulang ke Neraka adalah karena di dunia tidak menemukan jalan pulang, kurang bersungguh–sungguh, ibadahnya seperti daun yang jatuh dari pohon, terbang mengikuti arah angin, tidak punya pijakan yang kokoh, mengikuti apa kata orang, melakoninya hanya karena malu kepada orang lain, tidak malu pada Yang Maha Agung, tidak takut oleh siksa kubur juga Akhirat.
Hanya penyesalan yang di dapat ketika saatnya kematian nanti… 
Semuanya tergantung Ilmu yang di dapatkannya ketika hidup di dunia.

Salam persaudaraan

Iklan