Yang dimaksud dg hidup keruhanian itu begini…

Kita sebagai keturunan Adam as juga diberikan RUH-NYA. 
RUH yang diturunkan Allah kepada tanah yang diberi rupa adalah berasal dari tiupan Illahi yang suci, yang membawa misi memelihara serta mengendalikan bumi (Khalifah).
Namun, ketika pikiran dan perasaan manusia, mengikuti bisikan Qalbunya yang sakit… serta hawa nafsunya yang tidak terkendali, maka “unsur yang sangat mulia” itu mulai terbungkus, sehingga kualitas insan mengalami degradasi/perubahan..
Akhirnya kesadaran dirinya jatuh kedalam lumpur tanah, sehingga RUH SUCI itu tampak gelap dan tidak bersinar. Ia tidak mampu mengendalikan tubuhnya, sehingga yang mengendalikan tubuhnya adalah setan. 
Tinggallah kini, Ruh tak dapat berbuat apa-apa….. dan Setanlah yang menggantikan kedudukan nurani sebagai pengendali pikiran, perasaan, dan bathin manusia.
Sehingga yang mengendalikan pikiran dan tubuh bukan kesadaran JIWA, akan tetapi dorongan-dorongan seperti rasa lapar, rasa haus, seks, rasa marah, dan malas. 
Semua itu timbul karena aktivitas tubuh…..!!
“…tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing” (QS. A’Raf : 176). 
Inilah yang dinamakan JIWA yang mengikuti nafsu binatang. 
Pada kondisi seperti inilah RUH berada dilubuk hati yang paling dalam, seolah RUH berada jauh didasar sekali. 
Ini menunjukkan RUJ tidak dapat melakukan tugasnya sebagai utusan Allah, yang mengatur anggota tubuhnya dengan sinar keIllahian untuk menata kehidupan sesuai dengan fitrah Illahi.
Secara hakekat…, Ruh suci inilah Al qur’an sejati yang tidak tertulis dengan tinta dan tidak berupa suara, sehingga keabadian firmanNya tetap terjaga karena tersimpan dalam kalam yang suci…..
Sesungguhnya.. 

Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim 

( QS : Al-Ankabuut 29:49 )
Manusia harus berjuang menemukan kembali unsur yang akan menjadikannya sebagai makhluk yang paling mulia di alam semesta..!!
Jika manusia belum mengenal RUHnya, kedudukan manusia sama seperti hewan…., yang memiliki kesadaran JIWA yang rendah..!! 
Atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami? Mereka itu tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, atau bahkan lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu. 

(QS.Furqan : 44)
Pada kondisi ini sifat-sifat manusia sangat didominasi oleh sifat-sifat hewani, yaitu : makan, minum, tidur, seks dan egois. 
Dominasi ego dan nafsu sangat kuat mempengaruhi kehidupan manusia. 
Ego adalah produk pikiran (Alam Akal). 
Manusia dengan kesadaran rendah masih belum mampu melakukan kontrol terhadap panca indera yang dimilikinya, sehingga dia pun tidak dapat melakukan kontrol terhadap Egonya.
Apabila hati telah dikuasai Ego, maka dapat dipastikan manusia tersebut tidak akan dapat mendengar suara Rabbnya. 
Suara/Petunjuk Allah hanya dapat didengar atau diketahui manusia melalui Alam RASA (HATI NURANI). 
Oleh karena itu, pada kenyataanya banyak manusia yang hatinya telah diselubungi oleh Ego beranggapan bahwa suara Ego tersebut adalah suara/petunjuk Tuhan yang diberikan pada dirinya.
Kekeliruan manusia yang menganggap Ego sebagai petunjuk Allah akan menimbulkan akibat sebagai berikut :
1. Munculnya sifat serakah, mau menang sendiri, merasa paling suci, sombong dll
2. Hatinya tidak akan merasakan tenang dan damai. 
Karena ego tidak mengenal batasan “cukup”, hingga hidupnya selalu dipenuhi dengan kecemasan.
3. Merasa hidupnya selalu dipenuhi oleh berbagai masalah, bahkan rahmat Allah pun seringkali dirasakan sebagai masalah, dan sulit untuk bersyukur pada kehendak Allah swt. 
Pikiran dan perasaannya selalu dihantui oleh rasa takut yang tak berkesudahan, takut ditinggal oleh Tuhan-Tuhan palsu yang telah hidup dalam HATInya.
Manusia yang RUHnya masih terselubung (masih rendah kesadarannya), melaksanakan ibadah hanya karena mengejar pahala, menggapai surga dan takut akan neraka..!!
Seluruh pelaksanaan ibadah dilaksanakan hanya terbatas pada pelaksanaan hukum-hukum, rukun, dan belum menyentuh maknanya..!!
Karena itu, kebanyakan manusia yang berkesadaran rendah pada akhirnya, disadari atau tidak, akan menjadikan hukum-hukum syariat sebagai Tuhan-Tuhan palsu dihatinya… 
” yang mereka sembah sebenarnya adalah ajarannya bukan Allah swt sebagai pencipta dan pemilik ajaran-ajaran itu sendiri  “.
Kebanyakan manusia tidak menyadari bahwa beribadah sebenarnya bukanlah bertujuan mengejar pahala…, tetapi sebagai training/latihan untuk mencapai derajat taqwa atau kesejatian diri yang sesungguhnya, sehingga menjadi manusia yang mampu menjalankan hidup didalam pimpinan RUH yang hidup…
Untuk dapat meningkatkan kualitas kesadaran rendah menjadi kualitas kesadaran yang lebih tinggi, maka yang pertama kali harus dilakukan adalah menurunkan dominasi Ego yang ada dalam diri kita…
Apabila Ego sudah tidak menguasai HATI, maka suara HATI merupakan suara/petunjuk dari Allah, dapat didengar dengan jelas…!!
Selanjutnya, yang bertindak sebagai pengendali tubuh adalah JIWA yang berserah kepada Allah (MUKHLISIN). 
Allah menggambarkan, setan pun tidak mampu menjangkau keadaan JIWA yang berserah diri kepada Allah : 
“Demi kekuasaan Engkau, aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka” 

(QS Shad : 82-83)
Jelas sudah RUH merupakan pimpinan bagi jasad dan jiwa. 
Lalu sudahkah hidup kita dipimpin oleh RUH yang hidup ? 

Salam persaudaraan

Iklan