NAFS (Jiwa)’, ada 2 pengertian menurut Syaikh Ubeid al-jabiri :

1. bisa berarti mengenai Zat/Badan itu sendiri. 
sebagaimana firman Alloh:
ونفس وما سوَاها
“dan demi Nafs (jiwa) dan penyempurnaannya (ciptaanNYA).” 

(QS. asy syams:7)

2. bisa juga berarti Ruh, 
sebagaimana firman Alloh:
اللهُ يَتَوَفَّى الأَنْفُسَ حِينَ مَوْتِهَا وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الأُخْرَى إِلَى أَجَلٍ مُّسَمًّى إِنَّ فِي ذَلِكَ لآَيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
“Allah memegang nafs (jiwa) (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka dia tahanlah jiwa (nafs) (orang) yang telah dia tetapkan kematiannya dan dia melepaskan jiwa (nafs) yang lain sampai waktu yang ditentukan. sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan allah bagi kaum yang berpikir.” (QS. az zumar: 42).
Wa Allohu a’lam…
jadi menurut Syaikh ubeid al-jabiri, Ruh dgn Nafs itu beda… 
kalau RUH berarti NYAWA, sedangkan NAFS bisa berarti PERSATUAN RUH & JASAD, bahkan bisa jg berarti RUH itu sendiri. 
RUH NGGAK NYAMBUNG KE JASAD, sedangkan kalau NAFS NYAMBUNG KE JASAD. 
ketika Ruh masih nyambung ke jasad, maka dia masih dinamakan Nafs bukan Ruh, sebab ruhnya masih nyambung ke jasad. 
contohnya pada ayat mengenai orang tidur:
Nafs/Jiwa/Soul/Spirit, adalah sebuah entitas lain dari diri manusia sebagai Jism/Jasad, dimana dia berasal dari Alam Malakut yang terbuat dari elemen Cahaya, akan tetapi bukanlah seperti cahaya yang terbayangkan oleh kita ketika melihat cahaya lampu, elemen cahaya ini sangat khas dan tak terinderai oleh mata lahiriyah kita, sebagaimana Allah telah menciptakan malaikat dari elemen yang sama. 
JIWA juga memiliki indera sebagaimana yang dimiliki oleh indera jasad tetapi dalam dimensi yang berbeda karena perbedaan elemen pembentuknya.
Misalkan dalam Jasmani/Jism/Jasad ada mata untuk melihat setiap benda yang dapat di inderai yang memiliki wujud dengan ruang dan waktu..
maka dalam JIWA/ Nafs/Soul/Spirit terdapat mata jiwa atau istilah umum yang digunakan adalah mata batin, yang dalam Alqur’an diistilahkan dengan AL-BASHIRAH, juga memiliki fungsi untuk melihat, namun yang dilihatnya adalah apa yang tak tampak dalam penglihatan jasad, karena itu dia dapat memiliki kemampuan melihat jauh di atas kemampuan Jasad, seperti Alam Malakut semisal malaikat dan jiwa-jiwa lainnya. 
Bahkan sering kita mendengar seorang yang karena keshalihannya sehingga Allah Swt anugerahkan sebuah keterbukaan pada Bashirah-nya hingga dia bisa membaca apa yang ada dalam hati orang lain.
Jasad memiliki telinga untuk mendengar demikian pula dalam indera jiwa ada telinga batin yang juga berfungsi untuk mendengar, tapi mendengar hal-hal yang jauh lebih batin lagi.
Demikian pula dengan indera jasad lainnya, maka Jiwa pun memiliki indera yang semisal..~> Jadi yang membedakan keduanya hanyalah materi yang membentuknya. 
JASAD tersusun dari materi bumi, yaitu air, api, tanah dan udara yang semuanya berasal dari Alam Mulk atau Alam Kasat Mata (Alam Syahadah), 
JIWA dibuat dari materi Cahaya, yang semisal dengan materi malaikat karena keduanya berasal dari Alam Malakut. 
AlGhazali menyebut istilah NAFS ini dengan sebutan ”sesuatu yang abstrak yang membentuk diri manusia secara hakiki”.
Selanjutnya beliau melanjutkan bahwa NAFS ini dilukiskan dengan berbagai macam sifat sesuai dengan berbagai keadaannya yang berbeda-beda. 
Jika NAFS dalam keadaan selalu tenang dan tenteram dalam menerima ketentuan Allah dan lainnya, dan terhindar dari kegelisahan yang disebabkan oleh berbagai macam godaan ambisi, maka ia disebut Nafs Muthmainnah (jiwa yang tenang dan tentram)
Seperti dalam firman Allah,
”Wahai nafs muthmainnah, kembalilah kepada Rabb-mu dalam keadaan ridla dan diridlai.” ( QS 89 : 27-28 )
Sedangkan apabila NAFS ini selalu gelisah karena berada dalam kondisi perlawanan terhadap godaan syahwat hawa nafsu, maka ia disebut dengan NAFS Lawwaamah. (jiwa yang senantiasa menyesali dirinya dan mengecam). Karena ia selalu menyesali dirinya sendiri atas kelalaiannya dalam melakukan pengabdian kepada Allah… Firman-Nya,
”..dan Aku (Allah) bersumpah dengan nafs lawwaamah (jiwa yang selalu mengecam)” (QS 75:2)
Selanjutnya, jika NAFS ini tidak berusaha menyesali dirinya, bahkan senantiasa tunduk patuh kepada dorongan hawa nafsu dan memperturuti bisikan syetan, maka ia disebut NAFS Ammaarah Bis-Suu`i (Nafs yang cenderung menyuruh pada kejahatan).

RUH adalah yang menghidupi Jasmani/Jism/Jasad, yang mana jika (Ruh tersebut) dicabut, maka matilah Jasad itu, dia berasal dari Allah dan akan kembali ke Allah.
Dalam pemahaman saya sementara ini, mengaminkan apa yang menjadi pemaknaan Al Ghazali yang menyebut bahwa RUH adalah sesuatu yang abstrak, yang bersemayam dalam rongga hati biologis, dan mengalir melalui urat-urat dan pembuluh-pembuluh, ke seluruh anggota tubuh. 
Adapun mengalirnya RUH dalam tubuh dengan membawa limpahan cahaya kehidupan, perasaan, penglihatan, pendengaran dan penciuman ke dalam semua anggota badan. 
Sedangkan makna yang kedua adalah bhw RUH merupakan bagian dari manusia yang bersifat LATHIIFAH, yang juga memiliki kemampuan untuk mengetahui dan menyerap, namun hanya sebatas itu penjelasannya, tidak lebih sebagaimana ungkapan Allah dalam firman-Nya,
”Mereka bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang Ruh, katakanlah Ruh itu adalah berasal dari amr Rabbku.” (QS 17: 85)
Begitulah, Ruh memang ciptaan Allah yang amat sangat menakjubkan, membuat kebanyakan akal dan pemahaman manusia tak berdaya meliputi pengetahuan tentang hakikatnya.

AQL dari tulisannya Dr. Yunasril Ali, MA, di buku, Jalan Kearifan Sufi, Serambi, Jakarta, yg saya kutip bahwa
kata ’AQL berarti ”ikatan, batasan, atau menahan/mengekang”. 
Lalu kemudian kata itu digunakan untuk menyebut daya ruhaniah manusia yang difungsikannya sebagai alat menimba ilmu dan mempertimbangkan sesuatu yang akan diperbuatnya. 
Alquran tidak menggunakan kata itu dalam bentuk kata benda melainkan dalam bentuk kata kerjanya sebanyak 50 kali, yang maknanya mengacu kepada upaya fungsionalisasi hati dalam menerima atau menangkap sesuatu dengan menggunakan pertimbangan dan pemikiran yang jernih.
Dalam hadits banyak dibicarakan tentang ’AQL antara lain,
”Allah tidak menciptakan makhluk yang lebih mulia dari akal ” (HR at-Turmudzi)
Apabila manusia mendekatkan diri kepada Allah dengan berbagai kebaikan, maka dekatkanlah dirimu dengan akal mu.” (HR Abu Nu’aim)
Dalam hadits lain diceritakan bahwa Umar, Ubai ibn Ka’ab dan Abu Hurairah r.a. bertanya kepada Nabi Saw tentang orang yang paling berpengetahuan, yang paling berkualitas dalam pengabdiannya, dan paling utama. Semua dijawab oleh Nabi Saw dengan, ”Orang yang berakal” (HR Ibnu Mihbar).
AQL dengan demikian bisa kita katakan sebagai alat untuk berpikir, mencerna sesuatu, menyerap pengetahuan, adalah sesuatu yang telah Allah anugerahkan bagi manusia yang tidak diberikan kepada makhluk lainnya.
Dimanakah letak dan peran penting AQL = Akal dalam perjalanan manusia menuju Tuhannya ?
Dalam terminologi Islam yang dimaksud dengan Akal terbagi menjadi 2 (dua) jenis, yaitu:
1. Akal Otak /Akal Bawah
Akal jenis ini merupakan perpaduan dari rasio, logika, dan memory. Memory adalah bagian dari otak yang berfungsi untuk menyimpan informasi-informasi. Informasi-informasi inilah yang disebut ilmu. Baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat. 
Rasio adalah bagian dari otak yang berfungsi menangkap hasil indera dari panca indera. 
Penangkapan rasio adakalanya tidak diolah lebih jauh dengan logika, namun langsung disimpan kedalam memory menjadi ilmu. 
Maka dalam tahapan ini seseorang dikatakan mengetahui. 
Logika adalah bagian dari otak yang berfungsi untuk menganalisa dan mensintesa sumber-sumber informasi yang didapatkan dari rasio dan dibandingkannya dengan informasi sebelumnya yang tersimpan di memory. Hasil dari pengolahan logika ini kemudian diisimpan kedalam memory menjadi ILMU. 
Dalam tahapan ini seorang dikatakan mengerti atau memahami. 
Rasa akal yang dalam dari pengertian dan pemahaman, merembas kedalam hati.
Pemahaman terhadap ilmu pengetahuan, akan merembas ke dalam Qalbu menjadi intuisi. 
Pemahaman ilmu yang baik dan benar akan memandu aktivitasnya menjadi amal shalih. 
Sedangkan ilmu pengetahuan yang salah hanya akan menjadi waham yang menghijab dirinya dengan Tuhannya.

2. Akal Atas (Akal Hati/Lubb)
Akal jenis ini disebut Lubb ~>  terletak di dalam inti Qalb yang telah termurnikan dari segala keburukan dan dosa… sebagaimana fungsi akal bawah atau akal pikiran yang terletak pada aspek jasad manusia, yang berfungsi untuk mengenali dan memahami urusan dunia, urusan yang tampak secara empirik, urusan yang sifatnya material.
Lubb/Akal atas memiliki fungsi yang lebih luhur lagi, karena dia terletak di dalam Inti Qalb/NURANI manusia, maka dia memiliki kesanggupan untuk bisa mengenal sekian aspek yang tak kasat mata, aspek keTuhanan, aspek hakikat agama, aspek yang non empirik dan aspek agama lainnya…
Seorang manusia yang hatinya masih didominasi oleh hawa nafsu dan syahwat, maka dia akan sangat kesulitan untuk dapat menggunakan aspek Lubb nya, karena sang hawa nafsu dan syahwat nya cenderung merebut kendali diri.. berfikir hanya untuk kepentingan dunia semata.
Sementara seorang yang diberi rahmat oleh Allah sehingga Jiwa Muthmainnahnya sehat kembali dan mampu menggembalakan hawa nafsu dan syahwatnya, maka hadirlah dalam lubb-nya ini Al Haq..~> Orang seperti inilah yang dalam Al Qur’an disebut Ulil Albab.
Sesungguhnya yang dimaksudkan dengan Al-Ulama, orang-orang yang berilmu, dalam Al Qur’an atau hadits-hadits Rasulullah SAW adalah orang-orang telah hadir Al Haq dalam lubb-nya.
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah Al-Ulama”. ( QS. 35:28 )
“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali Al-Alimun (yang berpengetahuan)”. 

(QS. 29:43)
“Sebenarnya, dia itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.” (QS. 29:49)
“Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”, 

(QS. 58:11)
Al-Ulama itu adalah pewaris dari Nabi-Nabi … 

Isi langit dan isi bumi meminta ampun untuk Al-Alim (yang berpengetahuan). (HR. Abu Dawud, Ath Turmudzi dari Abi Darda)
Kelebihan Al Alim dari seorang abid, seperti kelebihanku dari orang yang paling rendah dari shahabatku (HR Tirmidzi dari Abi Amamah)
saya pribadi sangat tidak sepakat apabila ulama hanya disematkan pada mereka yang telah mempelajari banyak ilmu agama secara lahiriyah tapi gagal memahami dan menemukan buah agama dalam bentuk tindakan amal shalih lahir dan batinnya….
Salam persaudaraan

Iklan