QALBU sebagai LOCUS (tempat) ajaran Islam, yang memerlukan syiar melalui statemen lisan, dengan terlebih dahulu mengucapkan dua kalimat syahadat LAA ILAAHA ILLALLOH MUHAMMADUR ROSULULLOH sebagai saksi secara lisan bahwa tiada Tuhan selain Alloh dan Muhammad adalah Rosululloh.

Lubang Jantung Pertama (QALBUN) adalah sebagai tempat huruf dan asal keluarnya suara, baik suara QULUUB yang diperagakan melalui isyarat-isyarat, maupun suara mulut yang jelas atau tidak jelas.
Lubang Jantung Kedua ( SYAGHOF ) tepatnya adalah sebagai LOCUS (tempat) Kehidupan manusia, yang eksistensinya ialah Jantung, lebih dominan kepada gerak NAFSU (JIWA), yang dipenuhi dengan keinginan-keinginan.
Selama para makhluk termasuk manusia masih keluar masuk pernafasan melalui lubang jantung kedua ( SYAGHOF ), mereka pasti mempunyai keinginan-keinginan baik yang positif maupun negatif. 
Jika lubang Jantung kedua ini tidak ditanam CHIP ISMU DZAT, maka kita tidak bisa mengontrol dan membedakan mana nafsu positif dan mana nafsu negatif.
Lubang Jantung Ketiga (FU’AD)

Dan perlu kita ketahui bahwa istilah FU’AD, AF’IDAH, QALB, QALBAINI, QULUUB dan kata SYAGHOF dari isyrah fi’il madhinya, yang semua kata tersebut secara umum diartikan HATI 
Orang yang mengistiqomahkan dzikir khofi itu secara otomatis  mengisi 3 lubang, yaitu:
1. Lubang yang menjadi tempat huruf (Ismu Dzat )
2. Lubang yang menjadi tempat nafsu (nafsu positif dan nafsu negatif)
3. Lubang yang menjadi tempat At-Tauhid ( meng-Esakan )
Dengan demikian, barangsiapa yg sudah mampu mengisi lubang-lubang Jantung tersebut, artinya dia sudah benar-benar mampu berakhlaq dengan akhlaq Ahli LAA ILAAHA ILLALLOH.
Dan barangsiapa yang ingin do’anya diijabah oleh Alloh, diterima hajatnya oleh Alloh, maka kita harus bisa mengosongkan lubang yang ketiga tersebut dari selain Alloh. Kemudian lubang-lubang itu diisi dengan dzikir yang berwasilah.
Menyatukan raga, jiwa dan nyawa dengan dzikir adalah hakikat dzikir khofi. Secara otomatis kita dilatih untuk menempatkan khusyu didalam panca indera. 
Lisan berdzikir, hati dan akalpun ikut bebarengan berdzikir dan inilah yang diisyaratkan oleh ayat berikut
alam ya/ni lilladziina aamanuu an takhsya’a quluubuhum lidzikrillaahi wamaa nazala mina lhaqqi walaa yakuunuu kalladziina uutuu lkitaaba min qablu fathaala ‘alayhimu l-amadu faqasat quluubuhum wakatsiirun minhum faasiquun
Artinya:

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. ( QS AL-Hadiid ayat 16 )
Dengan demikian kita dituntut supaya bisa 
” Huduu’ul Khusyuu’i Bilkhowasil Khomsi ” 

(menempatkan khusyu didalam panca indera).
Artinya ada penglihatan jangan dilihat, ada suara jangan dihiaraukan, ada aroma jangan dicium, ada rabaan jangan diraba, ada rasa jangan dirasakan, bersedakep, menghadap, mantap dan yakin, serta menutup sembilan lubang ( 2 mata, 2 telinga, 2 lubang hidung, mulut, dubur dan anus ). 
Sehingga menenteramkan panca indera yang ada didalam raga, jiwa dan nyawa.
Saudaraku… 

Dalam waktu 24 jam manusia dituntut untuk mengosongkan QULUB dari selain Alloh dengan DZIKRULLOH
Ini sesuai dengan  Isyarat dari kalimat LAA ILAAHA ILLALLOHU MUHAMMADUR ROSULULLOHI yg berjumlah 24 huruf. 
Pengosongan QULUB dari selain Alloh dengan dzikir adalah syarat utama bagi amal yg dapat diterima oleh Alloh. 
Dengan alat dzikir itulah dapat membersihkan Raga, Jiwa dan Ruh (NYAWA). 
Kalau hanya ingin disebut muslim yang baik di mata manusia adalah mudah…, asal jangan berbuat jahat saja dikatakan baik. 
Akan tetapi ukuran baik menurut Alloh bukan sekedar tidak berbuat jahat, tetapi yang dikatakan baik itu harus wushul (sampai) kepada Allah.

 

Di lingkungan bukan Tarekat tidak dikenal kalimat wushul. 
Wushul atau sampai ini terkait dengan kembali.. ~> Kembali kepada Alloh berarti MATI. 
Kita dari Alloh dan harus kembali lagi kepada Alloh. 
Orang disebut mati kalau mati, kenyataannya banyak orang mati tetapi tidak kembali kepada Alloh, malah masuk ke Jahannam. 
Kapan kita harus kembali..? 
Sejak sekarang juga kita harus kembali.
Alloh itu dekat, bahkan lebih dekat dari urat leher. 
Dekat-jauhnya Alloh tidak diukur jarak, karena bukan benda. 
Rumusnya sesungguhnya Alloh itu dekat dengan kita, hanya saja kita yang jauh dari Alloh.

 

Karena kalau Alloh itu jauh dari kita, sudah tentu kita pun tidak mampu mengedipkan mata, tidak mampu bergerak dsb.
Cakupan Alloh itu sangat luas, ini yang perlu diluruskan. 
Agar kita kembali kepada Alloh, maka kita harus melakukan perjalanan ruhani menembus 4 lapis alam. 
Bagaimana caranya? 
Yaitu dengan cara menembus diri sendiri. 

Manakala seseorang mampu menembus diri sendiri ke luar dari Jasmaniahnya dalam beribadah, maka orang itu berada di estafet pertama. 
Terus berusaha menembus HATInya (alam malaikat), berarti dia berada di estafet kedua. 
Terus berusaha menembus alam Jabarut, lalu ke Sirri yang berarti dia menembus Alam Lahut. 
Barulah kalau sudah menembus Alam Lahut ini, dia sampai (WUSHUL) kepada Alloh.

Wa Allahu a’lam
Salam persaudaraan

Iklan