Bila Nabi saw bersabda, 

“Telah diketahui bila seseorang itu berada di dalam kandungan ibunya apakah dia akan menjadi baik atau pendosa”  yang beliau maksudkan adalah bhw ‘dalam kandungan ibu’ itu ada empat (4) anasir yang melahirkan semua kekuatan atau energi dan kemampuan lahiriah.
Dua (2) dari anasir tersebut adalah tanah dan air yang bertanggung jawab untuk pertumbuhan keyakinan dan pengetahuan, melahirkan kehidupan dan lahir dalam hati sebagai tawaduk (kerendahan diri).
 Dua (2) anasir lain adalah api dan angin yang bertentangan dengan tanah dan air.. ~> keduanya berfungsi untuk membakar, membinasakan, membunuh sesuatu hal yang tidak bersesuaian yang akan terjadi pada diri setiap makhluk.
Disinilah “Kudrat Tuhan yang telah menyatukan segala anasir-anasir yang berlawanan dan berbeda menjadi satu kesatuan. 
Bagaimana air dan api dapat hidup berdampingan? 
Bagaimana cahaya dan kegelapan dapat terkandung di dalam awan ?
Demikianlah “Dia yang mengunjukkan kepada kamu kilat untuk menakutkan dan Dia menjadikan mega yang berat. Dan petir itu beribadat dengan memuji Tuhannya, dan malaikat juga, lantaran (Mereka) takut kepada-Nya,dan Dia kirim halilintar dan Dia kenakannya kepada siapa pun yang Dia kehendaki…”.(Surah ar-Ra’d, ayat 12 & 13).
Sebagimana pada suatu hari wali Allah Yahya bin Mua’adhar-Razi ‘ditanya, “Bagaimana mengenali Allah? ‘’ 
Dia menjawab, “Melalui kombinasi yang bertentangan “.
Yaitu Pertentangan yang termasuk pada apa yang sebenarnya di butuhkan, dan untuk memahami sifat-sifat Allah. 
Dengan menghadapkan diri kepada hakikat Ilahi hingga seseorang menjadi cermin yang membalikkan kebenaran itu, juga sifat Yang Maha Perkasa itu yang dibalikkan.
Dalam diri manusia terkandung seluruh alam maya. Sebab itulah dia disebut konsolidator yang banyak. 
Allah menciptakan manusia dengan dua tangan-Nya, yakni tangan kemurahan-Nya dan tangan keperkasaan-Nya, keperkasaan dan kekuasaanNya. 

Jadi, manusia adalah cermin yang menunjukkan kedua sisi, yang kasar serta tebal dan halus serta indah.
Semua nama-nama Ilahi nyata tampak pada diri manusia. 
Sedangkan semua makhluk yang lain hanyalah sebelah saja.
Sebagai mana Allah menciptakan iblis dan keturunannya dengan sifat kekerasan-Nya. Sedangkan , ’Dia ciptakan malaikat dengan sifat kemurahan-Nya.
Nilai-nilai kesucian dan kebaktian yang berkelanjutan terkandung dalam kejadian malaikat, sementara iblis dan keturunannya yang diciptakan dengan sifat kekerasan-Nya, memiliki nilai kejahatan, karena ituiblis menjadi takabur, dan bila Allah perintahkan sujud kepada Adam dia ingkar.
Dan dikarenakan manusia memiliki kedua fitur alam tinggi dan rendah, dan Allah telah memilih utusan-utusan dan wali-wali-Nya dari kalangan manusia, sehingga mereka tidak bebas dari kesalahan.
Melainkan hanya para Nabi-lah yang dipelihara dari dosa-dosa besar akan tetapi kesalahan kecil haruslah terjadi pada mereka.
Sedangkan bagi para  Wali-wali tiada jaminan dari terpeliharanya dari dosa tetapi adalah dikatakan wali-wali itu berhampiran dengan Tuhan, dikarenakan mereka tlah mencapai makam kesempurnaan, dan mereka masuk ke bawah perlindungan Tuhan dari dosa-dosa besar.
Syaqiq al-Baqi mengatakan,

“Ada lima (5) tanda kebenaran: perangai yang lemah lembut dan lembut hati, menangis karena menyesal, mengisolasi diri dan tidak peduli tentang dunia, tidak ambisius, dan memiliki rasa hati (gerak hati atau intuisi).
Seangkan Tanda-tanda pendosa juga ada lima (5) yaitu; keras hati, memiliki mata yang tidak pernah menangis, mencintai dunia dan kesenangannya, ambisius, tidak malu dan tidak ada rasa atau gerak hati “.
Nabi saw menempatkan empat (4) nilai pada orang yang baik-baik, Diantaranya,” Dapat dipercaya dan menjaga  dari apa yang dipercayakan kepadanya dan mengembalikannya. Menepati janji. Berbicara benar, tidak berbohong. Tidak kasar dalam diskusi dan tidak menyakitkan hati orang lain “.
Beliau juga mengatakan empat (4) tanda pendosa, Diantaranya, “Tidak dapat dipercaya dan merusak kepercayaan yang diberikan kepadanya, mungkir janji, menipu, suka bertengkar, memaki ketika berbincang dan menyakitkan hati orang lain”. 
Selanjutnya pendosa tidak dapat memaafkan kawan-kawannya. Ini tanda tiada iman karena kemaafan menjadi tanda utama orang beriman. 
Allah memerintahkan rasul-Nya:
“Berilah maaf, dan suruhlah mereka (manusia) berbuat kebaikan, dan berpalinglah dari orang-orang yang bodoh”. (Surah A’raaf, ayat 199).
Perintah ‘maafkanlah’ bukan hanya tertuju kepada Rasulullah saw seorang saja. Ini tentang semua orang dan tentu saja termasuk mereka yang beriman dengan Rasulullah saw Kata ‘maafkanlah’ berarti jadikan kebiasaan memafkan, jadikan sifat atau pribadi. 
Siapapun yang ada sifat pemaaf menerima satu dari nama-nama Allah – ar-Rauf – Yang Memaafkan.
“Barang siapa memaafkan dan membereskan maka ganjarannya (adalah) atas (tanggungan) Allah”. (Surah Syura, ayat 40).
Ketahuilah ketaatan kepada Allah berubah menjadi ingkar, kejahatan dan dosa menjadi kebaikan, tidak terjadi dengan sendiri, tetapi dengan dorongan, pengaruh, tindakan serta usaha diri sendiri. 
Nabi saw bersabda, “Semua anak dilahirkan muslim.
Tetapi ‘Orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi “. 
Setiap orang ada bakat untuk menjadi baik atau jahat, dapat memiliki sifat-sifat baik dan buruk dalam waktu yang sama.
Jadi, adalah salah menghukum seseorang atau sesuatu sebagai sepenuhnya baik atau buruk. 
Tapi benar jika dikatakan seseorang itu lebih banyak kebaikannya dari kejahatannya atau sebaliknya.
Ini bukan berarti manusia masuk surga tanpa praktek baik, juga bukan dia dikirim ke neraka tanpa praktek buruk. 
Berpikir cara demikian bertentangan dengan prinsip Islam. Allah menjanjikan surga kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal salih dan diancam-Nya orang-orang yang berdosa dengan azab neraka.
Dan “Barang siapa berbuat baik maka (adalah) untuk kebaikan dirinya dan barang siapa berbuat jahat maka untuk dirinya. Kemudian kepada Tuhan kamulah kamu akan dikembalikan “. (Surah Jaasiaah, ayat 15).
“Di hari ini dibalas setiap jiwa dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada kezaliman pada hari ini. Sesungguhnya Allah cepat menghitung”. (Surah Mukmin, ayat 17).
“Karena apa juga amal yang baik yang kamu sediakan untuk diri kamu nanti kamu temukan (imbalan) nya di sisi Allah”. (Surah Baqaraah, ayat 110).
Salam🌹

Iklan